Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mohamad Hendra afiza

Memahami Makna (Fushime) dalam Kehidupan

Pendidikan | 2026-10-08 16:48:15

Setiap orang pasti mengalami perubahan dalam hidup. Kita lahir, tumbuh, masuk sekolah, melanjutkan kuliah, bekerja, dan kemudian menjalani tahap kehidupan yang lainnya. Perubahan tersebut sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, setiap perubahan sebenarnya memiliki arti tersendiri. Dalam budaya Jepang terdapat konsep yang menarik untuk memahami hal tersebut, yaitu 節目(ふしめ/fushime). Menurut saya, konsep ini tidak hanya berkaitan dengan budaya Jepang, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam materi yang saya pelajari, 「節」dapat dibaca setsu atau fushi. Salah satu penggunaannya terdapat dalam kata 「節目」atau fushime. Secara sederhana, fushime dapat dipahami sebagai suatu titik penting yang menjadi batas antara satu tahap dengan tahap lainnya. Ada awal dan ada akhir dari setiap tahap kehidupan. Setelah satu tahap selesai, seseorang kemudian melanjutkan kehidupannya menuju tahap berikutnya.

Menurut saya, bagian paling menarik dari materi ini adalah perumamaan tentang bambu. Bambu mempunyai beberapa bagian yang disebut 「節」. Bagian tersebut membuat bambu dapat tumbuh dengan kuat dan terus berkembang. Kehidupan juga manusia dapat diibaratkan seperti bambu. Setiap pengalaman yang kita lewati menjadi sebuah “節” yang membantu kita berkembang. Jadi, seseorang tidak langsung menjadi dewasa atau berhasil dalam satu waktu. Ada banyak proses dan pengalaman yang membentuk dirinya.

Contohnya dapat kita lihat dalam kehidupan siswa. Ketika seseorang masuk universitas, sebenarnya dia sedang memasuki tahap kehidupan yang baru. Kehidupan di universitas berbeda dengan kehidupan ketika masih bersekolah. Siswa harus belajar mengatur waktu sendiri, mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan perkuliahan, dan beradaptasi dengan teman serta lingkungan yang baru. Pada awalnya mungkin terasa sulit. Namun, setelah menjalani beberapa semester, seseorang akan mulai terbiasa. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses perkembangan dirinya.

Ketika akhirnya siswa tersebut lulus, kelulusan menjadi salah satu fushime. Masa kuliah telah selesai, tetapi kehidupannya belum selesai. Justru setelah itu akan dimulai tahap yang baru, misalnya mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Oleh karena itu, menurut saya, fushime bukan hanya berarti “akhir”. Sebuah akhir juga dapat menjadi awal untuk sesuatu yang baru.

Konsep ini menurut saya cukup berbeda dengan kebiasaan manusia sekarang yang sering terlalu fokus pada tujuan berikutnya. Ketika mendapatkan sesuatu, kita terkadang langsung memikirkan apa yang harus dicapai setelahnya. Misalnya, setelah mendapatkan nilai bagus, kita langsung memikirkan nilai yang lebih tinggi. Setelah lulus kuliah, kita langsung mempertimbangkan pekerjaan. Akibatnya, kita terkadang lupa menghargai proses yang telah dilalui.

Di sinilah saya melihat pentingnya konsep fushime. Kita perlu berhenti sebentar untuk melihat kembali apa yang sudah kita lakukan. Bukan berarti berhenti untuk menjadi malas, namun untuk melakukan evaluasi. Misalnya, ketika perkuliahan satu semester sudah selesai, kita bisa melihat kembali apa yang sudah dipelajari, kesalahan apa yang dilakukan, dan apa yang perlu diperbaiki pada semester berikutnya. Dengan demikian, pengalaman sebelumnya bisa menjadi bekal untuk menjalani tahap selanjutnya.

Materi tersebut juga menjelaskan bahwa ketika seseorang berada di sebuah fushime, ia dapat menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang yang selama ini telah membantu. Menurut saya, hal ini juga sangat penting. Kita sering menganggap keberhasilan sebagai hasil usaha sendiri, padahal dalam banyak keadaan terdapat orang lain yang membantu kita. Ketika seorang mahasiswa berhasil menyelesaikan kuliahnya, misalnya ada orang tua yang memberikan dukungan, dosen yang memberikan ilmu, dan teman yang menemani selama proses perkuliahan.

Hal seperti ini sebenarnya juga dapat ditemukan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah acara wisuda. Wisuda bukan hanya sekedar acara untuk mendapatkan ijazah, tetapi juga menjadi tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan satu tahapan dalam hidupnya. Pada saat wisuda, mahasiswa biasanya mengucapkan terima kasih kepada orang tua, dosen, dan teman-temannya. Setelah itu, ia mulai memasuki kehidupan yang berbeda. Meskipun bentuknya tidak sama dengan budaya Jepang, menurut saya maknanya memiliki kesamaan dengan konsep fushime.

Contoh lainnya adalah ketika seseorang berhenti dari suatu pekerjaan dan pindah ke tempat kerja yang baru. Biasanya orang tersebut akan berpamitan kepada teman-teman kerjanya. Ia mungkin mengucapkan terima kasih atas kerja sama selama ini dan meminta maaf jika pernah melakukan kesalahan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah tahap telah berakhir dengan baik sebelum seseorang memulai tahap berikutnya.

Bagi saya, pesan terpenting dari konsep fushime adalah jangan melupakan proses yang telah dilalui. Masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi pengalaman dari masa lalu dapat digunakan untuk memperbaiki masa depan. Jika seseorang pernah gagal, kegagalan tersebut tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia. Justru dari kegagalan tersebut seseorang dapat mengetahui kesalahannya dan menjadi lebih siap menghadapi tahap selanjutnya.

Pada akhirnya, saya melihat kehidupan seperti pertumbuhan bambu yang dijelaskan dalam materi. Bambu tidak langsung tumbuh tinggi dalam satu waktu. Ia tumbuh sedikit demi sedikit dan memiliki fushime dalam setiap tahap pertumbuhannya. Begitu juga dengan manusia. Kita berkembang melalui berbagai pengalaman, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang sulit. Setiap tahap mempunyai awal dan akhir, tetapi setiap akhir akan membawa kita menuju tahap berikutnya.

Menurut saya, konsep 節目(ふしめ) penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu selalu terburu-buru mengejar sesuatu yang baru sampai lupa menghargai apa yang sudah kita capai. Sesekali kita perlu melihat ke belakang, menghargai orang yang telah membantu, mengakui kesalahan, kemudian melanjutkan perjalanan. Dengan cara tersebut, setiap tahap dalam kehidupan tidak hanya menjadi sesuatu yang kita lewati, tetapi juga menjadi pengalaman yang membuat kita tumbuh menjadi lebih baik.

Contoh Fenomena Fushime 節目

Jepang

Indonesia

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image