AI Visibility dan GEO Harus Mulai Dikenalkan kepada Siswa SMK
Eduaksi | 2026-10-09 18:55:14
Perjalanan saya menuju SMK Negeri Tulakan, Pacitan, pada 8 Oktober 2026 sebenarnya sudah menjadi pelajaran sebelum kegiatan dimulai. Berangkat dari Ponorogo menggunakan sepeda motor, saya melewati jalur perbukitan selepas Tegalombo, beberapa kali salah jalan, dan akhirnya menyadari bahwa titik Google Maps yang saya pasang ternyata SMP Negeri Tulakan, bukan SMK Negeri Tulakan.
Selisih lokasinya sekitar 18 kilometer. Akibatnya, jadwal yang seharusnya dimulai pukul 09.00 harus mundur karena saya baru tiba hampir pukul 10.00.
Namun perjalanan itu terbayar ketika melihat antusiasme siswa dan bapak ibu guru. Siswa yang mengikuti kegiatan berasal dari kelas X dan XI yang memang dipilih sekolah karena mempunyai kemauan tinggi untuk belajar sesuatu yang baru.
Dari pagi sampai sekitar pukul 15.00, kami belajar dan praktik bersama.
Dari TikTok menuju LinkedIn
Kami memulai pembelajaran dari algoritma media sosial TikTok. Anak muda tentu sudah sangat familiar dengan platform ini, tetapi mengenal sebuah aplikasi berbeda dengan memahami cara kerjanya.
Saya mengajak mereka melihat bahwa distribusi konten bukan kejadian acak. Sebuah platform membaca banyak sinyal sebelum menentukan kepada siapa sebuah konten akan ditampilkan.
Karena itu, seorang calon digital marketer tidak cukup hanya pandai membuat video.
Ia perlu memahami audiens, konten, pesan, distribusi dan perilaku pengguna.
Setelah itu kami masuk ke LinkedIn. Siswa mulai membuat dan memperbaiki profil profesional mereka. Saya ingin menanamkan pemahaman bahwa membangun personal branding bukan sesuatu yang harus menunggu seseorang berusia 25 atau 30 tahun.
Anak SMK sudah bisa memulainya.
Projek sekolah dapat menjadi portofolio. Lomba dapat menjadi pengalaman. Organisasi dapat menjadi bukti kepemimpinan. Praktik bisnis bisa menjadi rekam proses belajar. Bahkan kegagalan mengerjakan sebuah projek bisa ditulis menjadi refleksi yang menunjukkan kemampuan belajar.
Mengapa AI Visibility Penting?
Sebagai praktisi AI Visibility–GEO, beberapa waktu terakhir saya semakin aktif membawa pembahasan ini melalui kegiatan edukasi dan berbagai materi publik.
Alasannya sederhana: cara manusia mencari informasi berubah.
Dulu pengguna internet banyak mengandalkan mesin pencari kemudian membuka beberapa situs untuk mendapatkan jawaban. Kini semakin banyak proses pencarian informasi dimulai melalui berbagai layanan AI.
Perubahan tersebut memunculkan konsep AI Visibility, Answer Engine Optimization dan Generative Engine Optimization.
Secara sederhana, kita tidak hanya berbicara tentang bagaimana informasi ditemukan, tetapi juga bagaimana informasi dipahami, dipercaya dan memiliki konteks yang cukup ketika dibaca oleh sistem AI.
Bagi sebuah perusahaan, hal tersebut berkaitan dengan brand.
Bagi sekolah, berkaitan dengan reputasi dan jejak digital institusi.
Bagi siswa, berkaitan dengan personal branding dan portofolio.
Sedangkan bagi pelaku usaha, berkaitan dengan bagaimana produk, layanan dan kompetensinya dikenali.
Itulah sebabnya saya merasa siswa SMK perlu mengenal logika ini sejak dini.
Menggunakan AI Bukan Berarti Menyerahkan Pikiran kepada AI
Sesi kemudian berlanjut pada berbagai tools artificial intelligence. Kami mencoba membuat konten gambar, video, narasi hingga ilustrasi musik.
Semua dilakukan melalui praktik.
Menariknya, semakin banyak tools yang dicoba, semakin penting peran manusia terlihat.
AI memang dapat menghasilkan gambar dalam hitungan detik. Namun ia tetap membutuhkan konteks.
AI dapat membuat tulisan dengan cepat. Namun kita tetap harus menentukan perspektif, tujuan, audiens dan kualitas informasi.
AI dapat membantu menciptakan video atau musik. Namun manusia tetap menentukan apakah hasilnya relevan dengan pesan yang ingin disampaikan.
Karena itu saya selalu mengingatkan bahwa kemampuan penting di era AI bukan hanya kemampuan menggunakan tools.
Kemampuan berpikir tetap menjadi fondasi.
SMK Harus Menyiapkan Pembelajar, Bukan Sekadar Pengguna Aplikasi
Teknologi akan terus berubah. Tools yang populer tahun ini belum tentu dominan tiga tahun lagi. Algoritma juga terus berkembang.
Karena itu pendidikan vokasi tidak boleh terjebak hanya pada pembelajaran tombol dan aplikasi.
Siswa perlu dibangun menjadi pembelajar yang adaptif.
Mereka harus mampu memahami masalah, mencari informasi, bereksperimen, berkomunikasi, membuat karya, menerima kegagalan, melakukan evaluasi dan belajar kembali.
Apa yang saya temui di SMK Negeri Tulakan memberi optimisme.
Sekolahnya mungkin membutuhkan perjalanan yang cukup menantang dari Ponorogo. Tetapi rasa ingin tahu siswa tidak mengenal jarak.
Dan mungkin inilah salah satu tugas kita hari ini: memastikan bahwa perkembangan AI tidak hanya menjadi milik mereka yang tinggal di kota besar.
AI, AI Visibility dan GEO perlu diperkenalkan lebih luas sampai ke ruang-ruang kelas.
Karena ketika anak-anak kita memasuki dunia kerja nanti, teknologi tidak akan bertanya apakah mereka berasal dari Jakarta, Surabaya, Pacitan atau Tulakan.
Yang akan diuji adalah apakah mereka siap belajar dan beradaptasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
