AI Membantu Mahasiswa, tapi Jangan Sampai Menggantikan Cara Berpikir
Hukum | 2026-09-28 11:47:06AI Membantu Mahasiswa, tapi Jangan Sampai Menggantikan Cara Berpikir
Beberapa tahun lalu, ketika mahasiswa mendapatkan tugas kuliah, langkah pertama yang dilakukan biasanya mencari buku di perpustakaan atau membuka beberapa halaman di internet.
Sekarang situasinya berbeda.
Cukup membuka laptop atau telepon genggam, mengetik sebuah pertanyaan, lalu dalam beberapa detik kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memberikan penjelasan yang cukup panjang.
AI dapat membantu membuat rangkuman, mencari ide tulisan, menerjemahkan bahasa, memperbaiki struktur kalimat, bahkan membantu memahami materi yang sebelumnya terasa sulit.
Bagi mahasiswa, tentu saja teknologi seperti ini sangat menarik.
Namun, ada pertanyaan yang menurut saya mulai penting untuk dibicarakan: sampai sejauh mana mahasiswa sebaiknya menggunakan AI?
Masalahnya bukan sekadar apakah AI boleh atau tidak boleh digunakan. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
AI Seharusnya Menjadi Alat Bantu
Pada dasarnya, teknologi diciptakan untuk membantu manusia.
Kalkulator membantu manusia menghitung. Mesin pencari membantu menemukan informasi. Aplikasi pengolah kata membantu membuat dokumen.
AI juga seharusnya dipandang dengan cara yang sama.
Misalnya seorang mahasiswa sedang kesulitan memahami suatu teori. Ia dapat meminta AI menjelaskan teori tersebut menggunakan bahasa yang lebih sederhana.
Mahasiswa juga dapat menggunakannya untuk memperoleh gambaran awal mengenai suatu topik sebelum membaca sumber yang lebih lengkap.
Menurut saya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama mahasiswa tetap melakukan proses belajar.
Masalah mulai muncul ketika AI bukan lagi menjadi alat bantu, tetapi justru menggantikan seluruh proses berpikir.
Ada perbedaan besar antara menggunakan AI untuk memahami sebuah materi dengan meminta AI mengerjakan seluruh tugas, kemudian mengumpulkannya tanpa membaca kembali isinya.
Pada kondisi kedua, mahasiswa mungkin berhasil menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu mendapatkan pengetahuan dari tugas tersebut.
Jawaban AI Tidak Selalu Benar
Hal lain yang penting dipahami adalah AI tidak selalu memberikan jawaban yang benar.
Jawaban yang terlihat meyakinkan belum tentu akurat.
AI dapat salah menyebutkan tanggal, peraturan, sumber, bahkan membuat referensi yang sebenarnya tidak pernah ada.
Persoalan ini menjadi lebih serius apabila digunakan dalam bidang hukum.
Kesalahan satu angka dalam nomor undang-undang, perubahan pasal, atau putusan pengadilan dapat menyebabkan isi tulisan menjadi berbeda.
Karena itu, mahasiswa tetap perlu melakukan pemeriksaan.
Jika AI memberikan informasi mengenai undang-undang, misalnya, informasi tersebut sebaiknya dibandingkan kembali dengan sumber resmi seperti Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum atau situs lembaga pemerintah terkait.
Prinsip sederhana yang dapat digunakan adalah: AI boleh membantu mencari arah, tetapi sumber asli tetap harus diperiksa.
Persoalan Data Pribadi
Penggunaan AI juga berkaitan dengan persoalan lain yang sering tidak disadari, yaitu data pribadi.
Kadang seseorang memasukkan informasi terlalu banyak ketika meminta bantuan kepada sebuah sistem AI.
Contohnya mengunggah kartu identitas, dokumen perusahaan, kontrak, nomor telepon, alamat, data pelanggan, atau dokumen yang memuat informasi orang lain.
Padahal, data pribadi seharusnya diperlakukan dengan hati-hati.
Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Salah satu semangat penting dari aturan tersebut adalah memberikan perlindungan terhadap pemrosesan data pribadi.
Mahasiswa mungkin belum berhadapan langsung dengan pengelolaan data dalam skala perusahaan, tetapi kebiasaan menjaga data sebaiknya dimulai sejak sekarang.
Sebelum memasukkan sebuah dokumen ke layanan digital, ada baiknya bertanya:
Apakah dokumen ini mengandung informasi pribadi?
Apakah saya mempunyai hak untuk membagikannya?
Apakah semua informasi di dalam dokumen tersebut memang perlu diberikan?
Pertanyaan sederhana tersebut dapat mencegah masalah yang tidak perlu.
Bagaimana dengan Hak Cipta?
AI juga menimbulkan pembahasan mengenai karya dan hak cipta.
Saat membuat tugas atau artikel, mahasiswa tetap harus dapat membedakan antara karya sendiri, kutipan dari orang lain, serta materi yang berasal dari sumber tertentu.
AI tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan sumber.
Misalnya, ketika mendapatkan suatu pendapat atau data statistik, kita tetap perlu mengetahui dari mana data tersebut sebenarnya berasal.
Cara paling aman adalah kembali kepada sumber awal.
Jika sebuah argumen berasal dari jurnal, buku, peraturan, laporan, atau penelitian orang lain, sumber tersebut tetap perlu dicantumkan sesuai kebutuhan penulisan.
Hal ini bukan hanya soal aturan akademik.
Mencantumkan sumber juga menunjukkan bahwa sebuah tulisan mempunyai dasar yang dapat diperiksa oleh pembaca.
Tantangan Kejujuran Akademik
Menurut saya, tantangan terbesar penggunaan AI di dunia pendidikan justru terletak pada kejujuran.
Teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kebiasaan kita dalam menggunakannya.
Mahasiswa dapat membuat tulisan yang terlihat sangat rapi hanya dalam beberapa menit.
Namun, tujuan kuliah sebenarnya bukan sekadar menghasilkan dokumen yang terlihat bagus.
Tugas diberikan agar mahasiswa belajar membaca, membandingkan informasi, membuat argumen, dan mengambil kesimpulan.
Kalau seluruh proses tersebut diserahkan kepada mesin, nilai mungkin tetap diperoleh, tetapi kemampuan berpikir tidak berkembang sebagaimana mestinya.
Padahal setelah lulus, dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang dapat menghasilkan jawaban.
Dunia kerja membutuhkan orang yang memahami mengapa jawaban tersebut masuk akal dan dapat mempertanggungjawabkannya.
AI Tidak Harus Ditakuti
Di sisi lain, menurut saya kita juga tidak perlu memandang AI sebagai sesuatu yang harus dijauhi.
Menolak teknologi sepenuhnya bukanlah solusi yang realistis.
AI kemungkinan akan semakin banyak digunakan di bidang pendidikan, bisnis, kesehatan, hukum, pelayanan publik, dan berbagai bidang lainnya.
Mahasiswa justru perlu memahami cara menggunakannya dengan benar.
Keterampilan di masa depan mungkin bukan hanya kemampuan menggunakan AI, tetapi juga kemampuan menilai hasil AI.
Seseorang harus mampu membedakan informasi yang masuk akal dan yang meragukan.
Harus mampu memeriksa sumber.
Harus memahami kapan sebuah data boleh digunakan dan kapan harus dilindungi.
Dan yang tidak kalah penting, harus mengetahui kapan keputusan tetap harus dibuat oleh manusia.
Mahasiswa Tetap Harus Berpikir
Teknologi seharusnya membuat manusia menjadi lebih produktif, bukan membuat manusia berhenti berpikir.
AI dapat membantu menjelaskan materi, memberikan ide awal, memperbaiki struktur tulisan, atau menunjukkan sudut pandang yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Tetapi keputusan terakhir tetap berada pada penggunanya.
Mahasiswa tetap harus membaca.
Tetap harus mempertanyakan.
Tetap harus memeriksa sumber.
Dan tetap harus mampu menjelaskan kembali apa yang ditulisnya.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita menggunakan AI atau tidak.
Persoalannya adalah siapa yang mengendalikan siapa.
Kalau manusia menggunakan AI sebagai alat bantu, teknologi tersebut dapat memberikan banyak manfaat.
Namun jika seluruh proses berpikir diserahkan kepada AI, kita mungkin menyelesaikan lebih banyak tugas, tetapi perlahan kehilangan bagian terpenting dari proses pendidikan itu sendiri: kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
Penulis: Lim Sulaiman JayaMahasiswa Universitas Pamulang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
