Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sebi Daily

Ketika Anak Krakatau Erupsi, Indonesia Kembali Diuji

Event | 2026-09-18 14:51:37
Tangkapan Layar-Minggu (6/9/2026). ANTARA/Handout

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dan menjadi perhatian masyarakat. Erupsi terus menerus mulai teramati pada Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh, dentuman, dan semburan lahar. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Abu Vulkanik Mulai Mengganggu Aktivitas Masyarakat

Erupsi Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada sekitar gunung. Abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten dan beberapa wilayah lainnya. Di Kabupaten Serang, abu vulkanik dilaporkan berdampak pada tujuh kecamatan, termasuk Anyer dan Cinangka. Suara getaran dan getaran juga dilaporkan terdengar hingga beberapa wilayah pesisir Lampung, Banten, bahkan Bandung.

Dampaknya juga terasa pada transportasi udara. Sejumlah bandara harus dihentikan sementara operasionalnya karena adanya sebaran abu vulkanik. Hingga Minggu, 6 September, Kementerian Perhubungan mencatat 373 penerbangan terdampak akibat penutupan sejumlah bandara.

Bencana Bukan Sekadar Fenomena Alam

Menurut saya, letusan Anak Krakatau tidak seharusnya hanya dilihat sebagai fenomena alam yang menarik untuk ditonton atau direkam. Kejadian ini mengingatkan kita kembali bahwa Indonesia berada di wilayah yang rawan bencana. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih peduli terhadap informasi kebencanaan dan tidak menganggap remeh peringatan dari pihak yang berwenang.

Di tengah situasi seperti ini, masyarakat juga perlu tetap tenang dan mengikuti Arahan resmi. Pemerintah dan pihak terkait harus terus memberikan informasi yang jelas agar masyarakat tidak mudah panik ataupun percaya pada berita yang belum terbukti kebenarannya.

Erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa alam bisa berubah kapan saja dan dampaknya dapat dirasakan jauh dari sumber bencana. Oleh karena itu, kesiapan tidak seharusnya baru muncul ketika bencana sudah terjadi. Kita perlu belajar dari setiap kejadian agar tidak selalu berada dalam posisi panik ketika alam kembali memberi peringatan.

Pada akhirnya, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi ketika gunung meletus, tetapi juga tentang seberapa siap kita menghadapinya. Alam tidak bisa kita kendalikan, tetapi cara kita meresponsnya masih bisa kita persiapkan. Karena keselamatan bukan hanya tentang bencana yang berlalu, melainkan tentang bagaimana kita menunggu belajar untuk lebih siap sebelum bencana datang kembali.

Oleh: Tsalitsa Raihana Aida Ghafur_Institut Agama Islam SEBI

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image