Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Lailatun Nikmatul Azizah

Mahameru Berbicara: Alarm Keras untuk Mitigasi yang Setengah Hati

Info Terkini | 2025-11-27 21:09:57
Oleh: Lailatun Nikmatul Azizah

Lumajang—Gunung Semeru, yang agung, sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Setiap letusan dahsyat yang terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir seperti yang saat ini terjadi yakni tanggal 19 November hingga detik ini tanggal 27 November 2025, tidak hanya membawa kerugian materi dan luka batin, tetapi juga menguji kesiapan kita semua, mulai dari pemerintah hingga masyarakat dalam menerima dan menghadapi kenyataan alam.

1. Mitigasi Bencana: Harus Fleksibel dan Terus BerubahSebagai negara yang dikelilingi oleh gunung berapi, manajemen bencana di Indonesia seharusnya menjadi yang terbaik dan paling adaptif. Semeru diketahui memiliki siklus erupsi yang singkat, seringkali hanya berjarak satu atau dua tahun. Fakta ini seharusnya menjadi modal besar bagi PVMBG dan BPBD untuk merancang strategi yang jauh lebih proaktif dan sigap.Peningkatan status dari Siaga menjadi Awas adalah langkah yang baik. Namun, keberhasilan pencegahan tidak hanya diukur dari seberapa cepat status itu ditetapkan. Ada dua poin penting yang harus ditingkatkan:a. Sistem Peringatan Dini (EWS) yang Cepat dan Otomatis: Walaupun pos pantau selalu siaga, informasi dari masyarakat sering menunjukkan adanya kebingungan atau keterlambatan. EWS, terutama untuk bahaya Awan Panas Guguran (APG) yang bergerak sangat cepat, harus terhubung langsung dengan teknologi canggih (misalnya, sirine yang berbunyi otomatis karena getaran seismik atau sensor panas), tidak hanya mengandalkan penyampaian pesan secara manual.b. Edukasi dan Latihan Rutin yang Intensif: Kita patut berterima kasih kepada masyarakat yang sudah semakin sigap dan teredukasi, terbukti mampu mengurangi korban jiwa. Namun, pelatihan ini tidak boleh berhenti setelah bencana. Pengetahuan tentang jalur dan titik evakuasi harus menjadi pelajaran wajib dan terinternalisasi bagi setiap penduduk yang tinggal di zona rawan.

2. Pengelolaan Tata RuangMasalah yang lebih mendasar dan sering diabaikan adalah pengaturan tata ruang di wilayah rawan bencana. Secara alami, sungai dan lembah yang berasal dari Semeru, seperti Besuk Kobokan, adalah jalur utama untuk aliran lahar dan APG. Kejadian berulang di Dusun Curah Kobokan membuktikan bahwa masih ada pemukiman dan aktivitas (terutama tambang pasir) yang dibangun di wilayah berisiko tinggi.Kita memang sering dihadapkan pada dilema antara kebutuhan ekonomi (seperti mata pencaharian dari tambang pasir) dan keselamatan. Namun, tidak ada yang lebih berharga dari nyawa manusia.Relokasi dan Pembangunan Hunian Tetap (Huntap) adalah solusi jangka panjang yang sudah dijalankan. Namun, solusi ini harus didukung oleh ketegasan pemerintah dalam penegakan aturan tata ruang:a. Zona Merah Harus Mutlak Kosong: Tidak boleh ada kegiatan menetap, apalagi membangun rumah, di area bahaya. Jika penduduk sudah direlokasi, pengawasan terhadap zona yang ditinggalkan harus dilakukan secara ketat.b. Pengaturan Sumber Daya Alam: Penambangan pasir yang berlebihan di jalur lahar tidak hanya membahayakan pekerja, tetapi juga mengubah bentuk tanah dan aliran lahar dingin, yang bisa memicu banjir bandang saat musim hujan. Pemerintah daerah wajib mengatur ketat atau bahkan menghentikan sementara aktivitas di area yang sangat rentan.

3. Jalan Menuju Perbaikan KondisiErupsi Semeru adalah pengingat bahwa kita hidup di bawah kendali alam. Perbaikan kondisi bukan hanya tentang kecepatan membangun kembali setelah bencana (rehabilitasi), melainkan tentang bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dengan ancaman. Hal ini dimulai dari pencegahan (mitigasi) yang ketat dan kepatuhan pada aturan tata ruang yang disiplin.Pemerintah harus rutin memperbarui Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Semeru dan menjadikannya pedoman utama untuk semua rencana pembangunan. Di sisi lain, bagi masyarakat, kunci utamanya adalah kesadaran dan ketaatan terhadap peringatan dini dan zona evakuasi.Kita tidak bisa memaksa Semeru untuk diam, tetapi kita bisa mencegah Semeru terus menimbulkan korban akibat kelalaian kita dalam pencegahan dan penataan ruang. Ini adalah tugas besar kolektif yang harus kita selesaikan sebelum Semeru kembali beraksi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image