Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Diana Rahayu

Bencana Berlanjut, Harapan Rakyat Hanyut: Mencari Solusi Hakiki Bencana Alam

Agama | 2026-02-15 22:24:36

Tahun telah berganti, namun bencana tak kunjung berhenti. Alam seolah masih menanti titah ilahi, akankah bencana disudahi atau makin menjadi. Sungguh potret awal tahun ini penuh kepiluan. Bencana banjir yang di awali di Sumatera, nyatanya masih berlanjut dan belum selesai. Data BNPB, selama periode 1-25 Januari 2026, sudah ada 128 kejadian banjir dan 15 bencana tanah longsor di Indonesia.

Belum tuntas penanganan korban terdampak dan pemulihan infrastruktur pasca bencana Sumatera, korban kembali berguguran di wilayah yang lain. Banjir dan longsor berlanjut di sejumlah besar wilayah pulau Jawa. Mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, beberapa kota diantaranya Cisarua, Pati, Kudus, Pemalang, Purbalingga, Jember, disapa banjir dan longsor.

Jumlah korban banjir dan longsor tak bisa dibilang kecil. Tercatat, korban longsor Cisarua sudah mencapai 70 orang meninggal, dan masih ada 10 orang dinyatakan hilang. Patutlah mendung duka menyelimuti negeri, yang sejatinya gemah Ripah loh jinawi .

Alam Menangis

Bencana banjir dan longsor yang terjadi di ratusan daerah dalam satu bulan menjadi peringatan keras, bahwa kerusakan alam akibat ulah manusia makin banyak. Alih fungsi lahan peyangga menjadi lahan perkebunan ataupun perumahan dan villa yang bertujuan ekonomi telah menjadikan alam kehilangan daya dukungnya.

Banyak dijumpai wilayah yang awalnya mempunyai hutan tropis luas, kini telah berkurang drastis hanya karena berubah fungsi. Berkurangnya tutupan lahan tropis sebagai penahan air hujan disebabkan kegiatan manusia yang tak lagi memperhatikan ekologi, hingga mengakibatkan siapapun menelan kepahitan dampak bencana.

Liarnya pengalihfungsian lahan menjadi keprihatinan bersama. Negara yang seharusnya bisa menjadi penegak aturan dan pengarah semua jenis kegiatan dan usaha manusia, kini telah mandul. Bencana yang terus berlanjut hingga hari ini, menjadi bukti tanggung jawab pemerintah dalam tata kelola alam dan ruang hidup sangat buruk. Berbagai regulasi yang memberikan kemudahan akses pengelolaan sumberdaya alam pada swasta makin membuat kerusakan alam tak terkontrol.

Lepas dan lalainya negara dalam tanggung jawab pengaturan tata kelola alam dan ruang hidup berawal dari paradigma kapitalisme. Kapitalisme memandang bahwa kegiatan yang dilakukan haruslah mendulang keuntungan. Meski di ujung aktifitas tersebut terjadi kerusakan ekologi mereka tak akan peduli.

Kapitalisme menempatkan siapapun pemilik modal besar, akan mampu mengubah atau memanipulasi aturan sesuai keinginannya. Dengan aturan tersebut mereka bisa melakukan pengembangan bisnis di lahan-lahan milik umum yang akan menghasilkan cuan. Aturan ini telah membuat alam menangis, hingga merusak sendi kehidupan dan menghanyutkan harapan rakyat akan kesejahteraan dan keamanan.

Islam Menjaga Alam

Islam memandang hakikat sungai, bukit, lembah, hutan, tambang, dan seluruh sumber daya alam diciptakan Allah untuk kemanfaatan hidup, bukan mendatangkan kerusakan. Allah Swt. menegaskan dalam QS. Luqman ayat 20, bahwa Dia telah menundukkan untuk manusia apa yang ada di langit dan di bumi, serta menyempurnakan nikmat-Nya untuk manusia.

Manusia Allah tunjuk sebagai khalifah fil ardh atau pemimpin di bumi, yang mempunyai tanggung jawab dalam mengelola alam sesuai panduan syariat. Amanah yang Allah Swt. pikulkan pada manusia haruslah dipahami sebagai sesuatu yang akan ditagih oleh Allah Swt. Sang Pemilik Amanah.

Namun Allah Swt. juga tidak melepas manusia melakukan pengelolaan alam semaunya. Bahkan alam ciptaan Allah Swt. pun diberikan alarm, jika terjadi penyimpangan aktiifitas manusia dalam pengelolaannya. Sehingga kebijakan pengelolaan alam yang melanggar syariat pasti akan mendatangkan bencana. QS. Ar Rum ayat 41 memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa terjadinya kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia.

Telah nampak berbagai bencana yang tak kunjung berhenti akibat kebijakan pengelolaan alam dan ruang hidup yang bersandar pada paradigma kapitalisme sekuler. Maka poin awal untuk menghentikan bencana secara total adalah dengan mengubah dengan paradigma kapitalisme sekuler menjadi paradigma syariat Islam.

Azas pengelolaan ekologi dalam Islam terdapat di dalam QS. Al Araf ayat 56 dimana Allah Swt. melarang keras manusia berbuat kerusakan di bumi, sesudah bumi itu diperbaiki oleh Allah Swt. Maka secara harfiah menunjukkan, siapapun yang melakukan kersusakan lingkungan di bumi maka akan berhadapan langsung dengan Allah Swt.

Landasan keimanan inilah yang akan mengawal penjagaan bumi dengan benar dan amanah untuk kemaslahatan umat. Melaksanakan syariat dalam menjaga lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab hingga yaumil hisab. Beberapa hal yang menjadi titik pentingnya adalah;

1. Negara akan melakukan proteksi terhadap lahan penyangga hanya untuk tanaman keras yang menjaga penyerapan air dan melindungi daerah rendah terhadap limpasan air hujan;

2. Kewajiban pencegahan bahaya atau dharar terhadap segala bentuk pengelolaa sumber daya alam yang langsung dilakukan oleh negara bukan swasta;

3. Penambangan sumberdaya alam sebagai kepemilikan umum akan dilakukan dalam batas sesuai kebutuhan kemaslahatan rakyat, tidak ditambang secara eksploitatif dan ugal-ugalan.

Sungguh aturan Islam telah menawarkan solusi terbaik untuk seluruh problem kehidupan manusia. Maka bersegeralah menyambut seruan Allah Swt. yang akan memberikan penghidupan terbaik di dunia dan akhirat.

Wallahu’alam bishwwab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image