Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Dari Krisis Konten Menuju Krisis Makna

Gaya Hidup | 2026-08-26 12:48:54
Ilustrasi AI

Ada pemandangan yang semakin biasa kita lihat. Anak muda duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk dengan layar. Mereka tersenyum membaca pesan, tertawa melihat video, lalu kembali diam. Dunia terasa ramai, tetapi hati belum tentu merasa ditemani.

Ruang hidup Generasi Z saat ini diwarnai oleh tekanan emosional dan krisis mental yang cukup serius. Kecemasan sosial, rasa terasing, hingga kesulitan berkonsentrasi kini menjadi pemandangan harian di kalangan pemuda. Fenomena ini mengindikasikan adanya masalah mendalam pada tata lingkungan sosial dan budaya yang melingkupi tumbuh kembang mereka.

Perkembangan teknologi digital yang melaju cepat membawa dampak psikologis yang nyata bagi masyarakat, khususnya Generasi Z. KPID Jawa Barat merespons situasi ini dengan memperkuat siaran ramah anak serta perlindungan terhadap perempuan guna menangkal paparan konten negatif di media digital sebagaimana dilaporkan dalam pemberitaan pada 12 Mei 2026.

Langkah pengawasan dan pembatasan konten yang dilakukan lembaga penyiaran patut kita apresiasi sebagai bentuk ikhtiar penataan. Namun, penanganan isu ini memerlukan pemahaman menyeluruh dari hulu hingga hilir. Hasil riset KPID Jawa Barat mengungkapkan bahwa lebih dari separuh responden Gen Z mengalami kecemasan dan penurunan fokus akibat intensitas interaksi di ruang digital.

Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) sekaligus Ketua Dewan Guru Besar Universitas Padjadjaran, Atwar Bajari, menyoroti bahwa perkembangan pesat teknologi komunikasi belum diimbangi oleh kesiapan regulasi dan konsep yang matang dalam membina karakter generasi muda.

Sementara itu, Laila Wati Madlan dari Universiti Malaysia Sabah dalam publikasi KPI tanggal 12 Mei 2026 menjelaskan bahwa ketergantungan gawai berhubungan erat dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Temuan para ahli ini memberikan penanda bahwa krisis mental generasi muda berakar pada pergeseran tata nilai dan lingkungan sosial tempat mereka bertumbuh.

Upaya menangani krisis psikologis pemuda tidak cukup hanya mengandalkan program pertolongan awal (first aider) atau kampanye literasi digital sesaat. Akar persoalan sesungguhnya bersumber dari pergeseran paradigma hidup yang memisahkan nilai-nilai spiritualitas dari tata kelola kehidupan publik. Ketika makna kebahagiaan direduksi sebatas popularitas digital, pencapaian materi, dan pengakuan manusia, remaja mudah merasa kehilangan arah saat menghadapi kegagalan.

Sistem pendidikan yang berfokus pada persaingan dan pemenuhan kebutuhan pasar turut memperberat beban mental peserta didik. Sekolah sering kali terjebak menjadi tempat pembuktian angka, sedangkan pembinaan akidah dan pembentukan karakter terpinggirkan. Di sisi lain, tingginya tuntutan ekonomi memaksa banyak orang tua kehilangan waktu berharga untuk mendampingi anak di rumah. Akibatnya, fungsi keluarga tergerus, sementara negara belum optimal menjalankan peran hakiki sebagai pelindung (raa'in) yang menjamin lingkungan tumbuh kembang yang aman dan menenteramkan.

*Solusi Islam dalam Membangun Generasi Tangguh*

Islam menawarkan pendekatan komprehensif untuk menjaga kesehatan jiwa melalui penguatan akidah sebagai landasan berpikir dan bersikap. Keimanan yang terpatri kokoh melahirkan ketenangan hati dan ketabahan dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan.

Allah Swt. Berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Selanjutnya, Islam menempatkan keluarga sebagai benteng utama pembentukan kepribadian. Ibu menjalankan fungsi strategis dalam pengasuhan (ummun wa rabbatul bait), sedangkan ayah bertanggung jawab memenuhi kebutuhan ekonomi. Negara wajib menjamin keterpenuhan kebutuhan dasar rakyat melalui sistem ekonomi yang adil, sehingga orang tua dapat menjalankan peran pengasuhan secara optimal tanpa tertekan oleh himpitan ekonomi.

Pada sektor pendidikan, kurikulum berbasis akidah Islam bertugas membentuk kepribadian Islam (syahsiah islamiah). Pendidikan tidak sekadar mencetak tenaga kerja yang siap bersaing, tetapi melahirkan pemuda yang tangguh secara mental, memiliki kedalaman ilmu, serta memahami hakikat kehidupan.

Lebih jauh, media penyiaran dalam tata kehidupan Islam diposisikan sebagai sarana pembinaan moral dan edukasi publik, bukan komoditas yang mengejar popularitas semata. Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR al-Bukhari No. 7138 dan Muslim No. 1829).

Melalui sinergi antara ketakwaan individu, pengawasan kritis masyarakat, dan kehadiran negara yang bertanggung jawab, kesehatan mental Generasi Z dapat dilindungi secara mendasar, menyeluruh, dan berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image