Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image DIALOG JALANAN

Opera Merah Putih: Ketika Panggung Menjadi Ruang Belajar Budaya

Drama | 2026-08-24 17:30:46

JAKARTA SELATAN — Panggung teater kembali menawarkan lebih dari sekadar tontonan. Pada 13 September 2026, Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, akan menjadi ruang perjumpaan seni, pendidikan, dan kebudayaan melalui pentas Opera Merah Putih, karya teaterawan Arief Akbar Bsa, yang diproduksi oleh Sanggar Kencana Buana di bawah pimpinan Iqbal Boyratan.

Pertunjukan ini layak ditempatkan bukan semata sebagai agenda hiburan, melainkan sebagai bagian dari upaya mempertemukan generasi muda dengan kebudayaan melalui bahasa panggung. Terlebih bagi pelajar, teater dapat menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman tubuh, kerja kolektif, disiplin artistik, sekaligus kesadaran terhadap identitas budaya.

Dalam kerangka Education Performance Concept (EPC), proses kesenian tidak berhenti pada kemampuan seorang pelajar menghafal dialog atau tampil di atas panggung. Pendidikan melalui pertunjukan menempatkan peserta didik sebagai subjek yang mengalami proses: membaca teks, memahami karakter, mengolah emosi, mengenali simbol, bekerja dalam kelompok, memahami ruang, mengembangkan keberanian berbicara, serta mempertanggungjawabkan gagasan artistiknya.

Di sinilah pemajuan budaya Betawi menemukan relevansinya. Kebudayaan lokal tidak cukup hanya dipertontonkan sebagai ornamen, pakaian, musik, atau dekorasi. Ia harus dipahami sebagai pengetahuan hidup—sebuah sistem nilai yang mengandung sejarah, etika sosial, cara berkomunikasi, pandangan tentang kebersamaan, penghormatan terhadap orang lain, serta kemampuan masyarakat mempertahankan identitas di tengah perubahan zaman.

Bagi pelajar Jakarta, pengenalan budaya Betawi menjadi penting karena Jakarta bukan hanya ruang administratif, melainkan ruang sejarah yang dibentuk oleh perjumpaan berbagai kebudayaan. Pemajuan kebudayaan berarti membawa warisan itu keluar dari ruang nostalgia dan menjadikannya pengetahuan yang dapat dibaca, ditafsirkan, dikembangkan, dan diwujudkan kembali dalam kreativitas generasi baru.

Opera Merah Putih mengambil jalan dramatiknya melalui pertarungan antara kekuasaan, kesetiaan, cinta, ambisi, pengorbanan, dan pilihan moral. Dalam dunia cerita tersebut hadir Raja Arzil, seorang penguasa yang memperoleh kekuatan luar biasa melalui Kanisa. Di sekelilingnya terdapat para permaisuri—Mega, Jingga, Danastri, dan Jelita—yang tidak sekadar berfungsi sebagai pelengkap istana, tetapi menjadi bagian dari dinamika batin dan konflik kekuasaan.

Salah satu pusat konflik adalah Kanisa, sosok yang berasal dari boneka tanah dan dihidupkan melalui kekuatan Kitab Merah yang berkaitan dengan dunia kerajaan peri. Kehadiran Kanisa membawa konsekuensi besar: kekuatan yang semula dapat dianggap sebagai anugerah berubah menjadi sumber malapetaka. Dalam konstruksi dramatiknya, Kanisa dapat dibaca sebagai simbol tentang hasrat manusia terhadap kekuasaan yang melampaui batas kewajaran.

Raja Kastara berdiri sebagai kekuatan yang berseberangan dengan Arzil. Ia berusaha menghentikan kekuasaan tersebut dengan memanggil Kaila, sosok penyihir yang kemudian bergerak bersama Mahardika dan Mahasura. Namun pertarungan tidak berlangsung sederhana. Kekuatan Kanisa membuat konflik bergerak dari persoalan politik kerajaan menuju pertarungan moral dan spiritual.

Di sisi lain terdapat Pusparani dan Sasmaya, dua jenderal terbaik Kastara yang menjadi korban kekuatan Mata Langit dan Mata Bumi. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memperluas struktur konflik sehingga pertunjukan tidak hanya berbicara mengenai siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi mengenai harga yang harus dibayar ketika kekuasaan kehilangan kendali atas kemanusiaan.

Titik penting perjalanan cerita hadir melalui Jelita. Ia akhirnya memilih berpihak kepada Raja Kastara. Kemampuan Jelita untuk mengubah arah nasib menjadikannya salah satu poros penting dalam penyelesaian konflik. Bersama Kaila, Mahardika, dan Mahasura, ia menghadapi Arzil hingga kekuasaan yang membawa kehancuran dapat ditumbangkan dan keseimbangan kembali menemukan jalannya.

Secara dramaturgis, penokohan semacam ini memperlihatkan prinsip penting dalam hukum panggung: setiap tokoh harus memiliki fungsi dramatik, tujuan, konflik, dan perubahan yang dapat terbaca oleh penonton. Tokoh tidak cukup hadir karena namanya besar atau kostumnya menarik. Ia harus memiliki alasan keberadaan dalam struktur cerita.

Dalam kaidah panggung, konflik merupakan energi utama. Konflik antara Arzil dan Kastara menjadi konflik eksternal; konflik antara kekuasaan dan nurani menjadi konflik nilai; sementara pilihan Jelita menjadi konflik internal yang memperlihatkan bahwa perubahan terbesar dalam sebuah cerita sering kali lahir dari keputusan seseorang untuk meninggalkan posisi nyaman dan memilih kebenaran.

Karena itu, simbol-simbol dalam Opera Merah Putih dapat dibaca pada beberapa lapis. Merah dapat dimaknai sebagai keberanian, darah, hasrat, pengorbanan, sekaligus konsekuensi dari ambisi. Putih dapat dibaca sebagai harapan, kesucian niat, perdamaian, dan kemungkinan untuk kembali kepada keseimbangan. Pertemuan keduanya menjadi metafora kehidupan: manusia tidak pernah sepenuhnya hidup dalam warna tunggal.

Kekuatan karya teater terletak pada kemampuannya membuat penonton melihat dirinya sendiri melalui tokoh yang sebenarnya berada dalam dunia fiksi. Raja Arzil bukan sekadar seorang raja. Ia dapat menjadi cermin bagi manusia yang merasa memiliki kekuasaan dan kemudian lupa bahwa kekuasaan selalu mempunyai batas moral. Jelita bukan hanya seorang permaisuri; ia adalah gambaran tentang keberanian untuk memilih ketika pilihan itu mempunyai risiko. Kanisa bukan hanya makhluk yang membawa bencana; ia dapat dibaca sebagai metafora dari kekuatan yang diciptakan manusia tetapi kemudian gagal dikendalikan oleh penciptanya.

Dalam konteks pendidikan, lapisan simbolik tersebut menjadi sangat berharga. Pelajar tidak hanya diajak bertanya, “Apa yang terjadi dalam cerita?”, tetapi juga “Mengapa hal itu terjadi?”, “Apa nilai yang sedang dipertentangkan?”, dan “Apa hubungannya dengan kehidupan kita?”

Itulah inti pendidikan seni yang sesungguhnya: membangun kemampuan membaca kehidupan melalui pengalaman estetis.

Teater juga mengajarkan sesuatu yang tidak selalu dapat diberikan oleh ruang kelas konvensional. Seorang pemain belajar mendengarkan lawan mainnya. Seorang penata artistik belajar bahwa keindahan harus memiliki fungsi. Seorang sutradara belajar bahwa visi tidak dapat diwujudkan tanpa kerja kolektif. Seorang pelajar yang berdiri di atas panggung belajar menghadapi rasa takut, kesalahan, kritik, dan tanggung jawab.

Dalam perspektif EPC, proses tersebut merupakan bagian penting dari pembelajaran berbasis pengalaman. Pertunjukan adalah hasil, tetapi proses menuju pertunjukan adalah pendidikan.

Karena itu, kehadiran Opera Merah Putih menjadi momentum untuk mengajak para pelajar Jakarta tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi generasi yang mengenal kebudayaannya melalui pengalaman langsung. Pemajuan budaya Betawi membutuhkan generasi yang tidak sekadar bangga terhadap simbol budaya, tetapi mampu memahami makna, sejarah, nilai, dan relevansinya bagi kehidupan masa kini.

Pada akhirnya, panggung akan gelap setelah pertunjukan selesai. Lampu akan padam. Musik akan berhenti. Para pemain akan meninggalkan panggung. Namun pertunjukan yang baik tidak benar-benar berakhir ketika tirai ditutup.

Ia berakhir ketika penonton pulang membawa pertanyaan.

Apa yang telah kita pelajari tentang kekuasaan? Tentang cinta? Tentang pengorbanan? Tentang budaya? Dan tentang diri kita sendiri?

Karena itu, 13 September 2026 bukan sekadar tanggal pertunjukan. Ia adalah kesempatan untuk mempertemukan pelajar, seniman, pendidik, dan masyarakat dalam satu ruang kebudayaan.

Mari hadir di Gedung Pertunjukan Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan, menyaksikan Opera Merah Putih, karya Arief Akbar Bsa, produksi Sanggar Kencana Buana pimpinan Iqbal Boyratan.

Datanglah bukan hanya untuk melihat sebuah cerita. Datanglah untuk membaca tanda, merasakan konflik, memahami kebudayaan, dan menemukan kembali manusia di balik panggung.

Sebab ketika kebudayaan dipelajari melalui pengalaman, ia tidak lagi menjadi sekadar warisan masa lalu.

Ia menjadi kehidupan yang diteruskan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image