Sebait Doa di Antara Dua Pilihan Part 3
Sastra | 2026-08-24 11:32:12
Sambungan telepon itu terputus. Hanya tersisa nada tut... tut... tut... yang seolah berlomba dengan detak jantung Andi. Keringat dingin seketika membasahi tengkuknya. Hati kecilnya menjerit ingin segera berlari menerobos malam, namun akal sehatnya lekas menahan. Menjadi pahlawan kesiangan tanpa persiapan hanya akan memperburuk keadaan dan membahayakan nyawa Eta.
Andi teringat Bang Doni, tetangga depan rumahnya yang bertugas sebagai bintara di Polsek setempat. Tanpa membuang waktu, Andi menyambar kunci motor di atas nakas. Ia bergegas keluar kamar, mengabaikan tatapan heran ibunya yang masih duduk di ruang tengah.
"Ada apa, Ndi? Malam-malam begini mau ke mana kamu?" tanya Ibu, setengah berdiri dengan raut cemas.
"Eta dalam bahaya, Bu. Andi harus menolongnya. Andi janji tidak akan bertindak gegabah, Andi akan minta bantuan Bang Doni!" seru Andi sambil mencium punggung tangan ibunya dengan tergesa, lalu berlari membelah pekarangan.
Di seberang jalan, pagar rumah Bang Doni digedor keras. Beruntung, pria tegap itu baru saja pulang piket dan masih mengenakan celana PDL. Mendengar penjelasan Andi yang terbata-bata namun sarat kepanikan, insting kepolisian Bang Doni langsung bekerja. Wajah santainya berubah pias dan tegas.
"Buka aplikasi pelacak atau cek status terakhirnya, Ndi. Kita butuh lokasi pasti, tidak bisa asal gerebek," perintah Bang Doni cepat seraya mengambil jaket dan kunci mobil operasionalnya.
Andi merogoh saku, tangannya yang bergetar membuka riwayat pesan Eta. Otaknya bekerja keras menyatukan kepingan informasi. Benar saja, sore tadi sebelum mereka lost contact seharian, Eta sempat membuat status WhatsApp di sebuah ruang VIP restoran merangkap tempat karaoke di pusat kota, merayakan pencapaian target penjualan bersama manajer dan klien perusahaannya.
"Di Restoran Mutiara, Bang. Ruang VIP lantai dua," ucap Andi yakin.
"Biar cepat, kamu ikuti mobil saya dari belakang. Saya akan telepon anggota piket reskrim untuk meluncur ke lokasi sebagai backup."
Andi mengangguk mantap. Ia segera menyalakan mesin Honda Vario 110 FI miliknya. Skuter matik yang sudah menemaninya mengaspal selama sepuluh tahun terakhir itu menderu membelah malam, dipacu menembus angin jalanan kota dengan satu tujuan pasti: menyelamatkan seseorang yang namanya selalu ia sebut dalam seloroh doanya.
Setibanya di restoran tersebut, suasana di area VIP tampak janggal. Musik berdentum pelan, namun pintu salah satu ruangan di ujung lorong terkunci rapat dari dalam. Terdengar samar suara keributan. Dengan wewenangnya sebagai aparat, Bang Doni dibantu pihak keamanan restoran langsung mendobrak pintu tersebut.
Brak!
Pemandangan di dalam ruangan membuat darah Andi mendidih hingga ke ubun-ubun. Eta tampak meringkuk di sudut ruangan, wajahnya bersimbah air mata dan riasannya luntur berantakan. Tangannya menggenggam erat pecahan gelas kaca untuk melindungi diri dari seorang pria paruh baya—klien perusahaannya—yang tampak beringas di bawah pengaruh alkohol. Sementara itu, sang manajer yang seharusnya melindungi Eta justru tak berbuat apa-apa, hanya duduk kaku di sofa dengan wajah pucat pasi, pura-pura tidak melihat.
"Polisi! Berhenti dan angkat tangan!" suara bariton Bang Doni menggelegar ke seluruh penjuru ruangan, seketika melumpuhkan nyali pria hidung belang tersebut. Anggota Polsek yang baru tiba di belakang mereka langsung bergerak mengamankan tersangka dan manajer yang terlibat dalam pembiaran itu.
Melihat kedatangan Bang Doni dan Andi di ambang pintu, pecahan gelas di tangan Eta luruh ke lantai. Gadis itu terisak hebat, tubuhnya gemetar memeluk lutut. Andi melangkah maju, dadanya kembang kempis menahan amarah yang meletup-letup. Namun, saat jarak mereka tersisa beberapa jengkal, langkah Andi terhenti. Ia ingat kepedihan ibunya, ingat akan batasannya sebagai pria yang belum terikat akad.
Alih-alih memeluk Eta untuk menenangkannya, Andi melepas jaket katunnya dan menyodorkannya ke pangkuan gadis itu.
"Pakai ini, Ta. Tutupi lengan dan pundakmu. Kamu sudah aman sekarang," ucap Andi dengan suara bergetar, berusaha menahan laju air matanya sendiri. Matanya ditundukkan, tak berani menatap langsung wajah Eta yang pias.
Eta menerima jaket itu dengan tangan bergetar, membungkus erat tubuhnya yang kedinginan oleh teror dan pengkhianatan lingkungan kerjanya. Di balik isak tangisnya yang memilukan, ada tatapan penuh penyesalan yang mengarah pada sosok Andi yang menunduk menjaga pandangan.
Malam itu, di bawah sorot lampu disko remang VIP, gemerlap dunia yang selama ini menyilaukan mata Eta runtuh seketika. Ambisi dan janji manis kariernya hancur berkeping-keping, menyisakan kesadaran pahit bahwa ia telah melangkah terlalu jauh dari cahaya surau tempatnya dulu bernaung, dan betapa berharganya penjagaan dari seorang laki-laki yang sungguh-sungguh takut kepada Tuhannya.
Proses pemberian keterangan awal di Polsek memakan waktu hingga menjelang azan Subuh berkumandang. Dengan sisa isak tangis dan rasa trauma yang masih membelenggu, Eta menolak keras saat ditawari pulang ke kamar kosnya. Keselamatannya belum sepenuhnya terjamin, apalagi jika jejaring relasi manajernya berniat membungkamnya. Atas pertimbangan keamanan, Bang Doni menyarankan agar Eta dibawa ke tempat aman yang memiliki sosok perempuan dewasa untuk mendampinginya dan menenangkannya. Pilihan satu-satunya malam itu hanya bermuara pada satu tempat.
Deru mesin motor terhenti di pelataran rumah Andi. Udara subuh terasa lebih menusuk dari biasanya. Saat Andi dengan serba salah membiarkan Eta mengekor di belakangnya menaiki anak tangga teras, daun pintu utama mendadak terbuka dari dalam.
Sosok sang Ibu berdiri kaku di ambang pintu dengan balutan mukena putih. Tatapan matanya yang tajam langsung menyapu penampilan Eta yang berantakan, lalu beralih menatap lekat-lekat jaket katun kebanggaan Andi yang kini membungkus bahu gadis itu. Hening mencekam menyergap ketiganya. Tidak ada omelan keras atau amarah meledak seperti sore tadi. Namun, perlahan-lahan mata Ibu memerah, dan satu kalimat ganjil yang meluncur pelan dari bibirnya seketika membuat darah Andi berdesir lebih hebat daripada saat ia mendobrak pintu ruang VIP malam itu.
(Bersambung)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
