Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Jika Kasihan Menjadi Alasan untuk Bertahan

Humaniora | 2026-09-02 12:16:52
Ilustrasi

Tidak semua hubungan yang bertahan masih memiliki cinta yang sama seperti ketika pertama kali dimulai. Ada hubungan yang terus berjalan karena kenyamanan, kebiasaan, ketakutan akan kesendirian, bahkan karena satu perasaan yang sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang, yaitu rasa kasihan.

Seseorang mungkin sudah mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap pasangan telah berubah. Tidak ada lagi antusiasme seperti dulu, percakapan terasa hambar, dan kebersamaan tidak lagi menghadirkan kebahagiaan. Namun, ketika muncul keinginan untuk mengakhiri hubungan, ada satu hal yang membuatnya mengurungkan niat. Ia merasa tidak tega.

“Kalau aku pergi, bagaimana dengan dia?”

Pertanyaan sederhana itu bisa membuat seseorang bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Misalnya, seseorang mengetahui bahwa pasangannya sangat bergantung secara emosional kepadanya. Sang pasangan sedang menghadapi persoalan hidup dan merasa tidak memiliki banyak orang untuk berbagi. Dalam kondisi seperti ini, seseorang yang sebenarnya sudah tidak ingin melanjutkan hubungan bisa memilih tetap tinggal karena takut perpisahan akan membuat pasangannya semakin terpuruk.

Sekilas, keputusan tersebut terlihat manusiawi. Ada empati dan kepedulian di dalamnya. Namun, apakah bertahan karena kasihan benar-benar dapat disebut sebagai bentuk cinta?

Secara psikologis, kondisi seperti ini dapat berkaitan dengan rasa bersalah. Seseorang mungkin merasa bahwa mengakhiri hubungan berarti dirinya bertanggung jawab atas kesedihan yang akan dialami pasangan. Ada pula kecenderungan untuk terlalu memprioritaskan perasaan orang lain atau people pleasing. Keinginan untuk tidak mengecewakan orang lain terkadang membuat seseorang mengorbankan kebutuhan dan kejujuran terhadap dirinya sendiri.

Semakin lama hubungan berjalan, persoalan juga bisa menjadi semakin rumit. Waktu, perhatian, tenaga, dan berbagai kenangan yang telah diberikan membuat seseorang merasa sayang untuk pergi. Padahal, lamanya sebuah hubungan tidak selalu menjadi alasan bahwa hubungan tersebut harus dipertahankan.

Ada perbedaan antara mencintai seseorang dan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaannya. Kita bisa tetap peduli kepada seseorang tanpa harus terus menjadi pasangannya. Kita juga bisa berharap seseorang baik-baik saja meskipun pada akhirnya tidak lagi berjalan bersamanya.

Justru ketika seseorang bertahan hanya karena kasihan, hubungan tersebut berisiko kehilangan ketulusan. Orang yang bertahan bisa merasa terjebak, sementara orang yang dipertahankan mungkin terus memiliki harapan bahwa dirinya masih dicintai seperti sebelumnya.

Pada akhirnya, keduanya bisa sama-sama terluka.

Tentu, bukan berarti setiap hubungan yang mengalami perubahan perasaan harus segera diakhiri. Ada hubungan yang masih dapat diperbaiki melalui komunikasi, keterbukaan, dan usaha dari kedua pihak. Namun, ketika seseorang menyadari bahwa alasan terbesar untuk bertahan hanyalah karena takut menyakiti pasangan, mungkin sudah waktunya bertanya kepada diri sendiri.

Apakah masih benar-benar ingin bersama, atau hanya tidak sanggup menghadapi rasa bersalah karena pergi?

Pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab. Namun, kejujuran tetap penting. Sebab, sebuah hubungan seharusnya menjadi ruang bagi dua orang yang sama-sama memilih untuk bersama, bukan tempat seseorang bertahan karena merasa wajib.

Kita sering menganggap bahwa meninggalkan seseorang berarti tidak peduli. Padahal, tidak semua perpisahan lahir dari kebencian. Ada perpisahan yang terjadi karena seseorang memilih jujur bahwa perasaannya telah berubah.

Kejujuran memang bisa menyakitkan. Tetapi mempertahankan seseorang dengan cinta yang sudah tidak ada juga bukan bentuk kebaikan yang sempurna. Setiap orang berhak dicintai karena ketulusan, bukan karena rasa tidak tega.

Melepaskan seseorang juga tidak selalu berarti berhenti peduli. Kita masih bisa menghargai, mendoakan, dan menginginkan yang terbaik untuknya meskipun tidak lagi menjadi bagian dari kehidupannya.

Pada akhirnya, rasa kasihan adalah perasaan yang manusiawi. Namun, ia bukan fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan sebuah hubungan. Jika satu-satunya alasan seseorang masih bertahan adalah karena tidak tega melihat pasangannya terluka, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan bagaimana cara terus bertahan, tetapi apakah bertahan benar-benar baik bagi keduanya.

Karena terkadang, pergi bukan berarti tidak peduli. Terkadang, pergi adalah bentuk kejujuran ketika kita sadar bahwa bertahan hanya akan membuat dua orang hidup dalam hubungan yang sudah tidak lagi sepenuhnya tulus.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image