Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Amadha Pramestia

Perubahan Strategi Digital Marketing di Era Video Commerce dan AI

Teknologi | 2026-09-22 14:20:19

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara perusahaan memasarkan produk dan cara konsumen mengambil keputusan pembelian. Jika sebelumnya pemasaran banyak mengandalkan iklan konvensional, saat ini konsumen dapat menemukan produk melalui media sosial, melihat ulasan dari kreator, menonton video demonstrasi produk, hingga melakukan pembelian tanpa meninggalkan platform digital.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa digital marketing bukan lagi sekadar aktivitas membuat konten dan mengumpulkan jumlah likes atau followers. Bagi perusahaan, tantangannya adalah bagaimana mengubah perhatian konsumen menjadi ketertarikan, kemudian mendorong terjadinya transaksi.

Indonesia dan Perkembangan Pemasaran Digital

Besarnya penggunaan internet dan media sosial membuat Indonesia menjadi pasar yang penting bagi aktivitas pemasaran digital. DataReportal dalam laporan Digital 2026: Indonesia mencatat sekitar 230 juta orang menggunakan internet di Indonesia pada akhir 2025. Pada periode yang sama terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial.

Besarnya jumlah pengguna tersebut memberikan peluang bagi perusahaan untuk menjangkau konsumen melalui berbagai platform digital. Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lainnya dapat digunakan untuk membangun awareness, menyampaikan informasi produk, berinteraksi dengan konsumen, hingga mendorong pembelian.

Namun, banyaknya pengguna media sosial juga berarti persaingan mendapatkan perhatian konsumen semakin tinggi. Konsumen setiap hari melihat berbagai macam konten dari perusahaan, kreator, maupun pengguna lainnya. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya hadir di media sosial, tetapi perlu memiliki strategi agar kontennya relevan dengan kebutuhan target pasar.

Video Commerce Mengubah Cara Konsumen Berbelanja

Salah satu perkembangan yang semakin penting dalam digital marketing adalah video commerce. Konsumen tidak hanya melihat foto dan deskripsi produk, tetapi dapat melihat produk digunakan secara langsung melalui video pendek maupun siaran langsung.

Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan bahwa video commerce telah menyumbang sekitar 25% dari GMV e-commerce di Asia Tenggara. Pertumbuhannya didukung oleh transaksi bernilai relatif kecil dalam jumlah besar, rekomendasi kreator lokal, serta integrasi antara media sosial dan platform perdagangan elektronik.

Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan dalam perjalanan konsumen. Dahulu konsumen mungkin melihat iklan terlebih dahulu, kemudian mencari informasi melalui mesin pencari dan mengunjungi toko. Sekarang proses tersebut dapat terjadi dalam satu lingkungan digital. Konsumen melihat video, mendapatkan rekomendasi, membaca komentar atau ulasan, kemudian langsung melakukan pembelian.

Bagi manajemen pemasaran, perubahan ini membuat strategi konten harus semakin dekat dengan proses pengambilan keputusan konsumen.

Tidak Semua Konten Viral Menghasilkan Penjualan

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi dalam digital marketing adalah menganggap viral sebagai tujuan utama. Padahal, tingginya views, likes, atau jumlah followers belum tentu menunjukkan bahwa strategi pemasaran berhasil menghasilkan penjualan.

Sebuah konten dapat memperoleh jutaan views karena dianggap menghibur, tetapi audiensnya belum tentu memiliki kebutuhan terhadap produk yang ditawarkan. Sebaliknya, konten dengan jumlah views yang lebih kecil dapat menghasilkan transaksi lebih banyak apabila ditujukan kepada audiens yang tepat.

Karena itu, perusahaan perlu melihat digital marketing melalui tahapan funnel. Pada tahap TOFU (Top of Funnel), perusahaan berfokus membangun awareness dan menarik perhatian calon konsumen. Pada tahap MOFU (Middle of Funnel), konsumen mulai mencari informasi, membandingkan produk, membaca ulasan, atau mempertimbangkan manfaat produk. Selanjutnya, pada tahap BOFU (Bottom of Funnel), konsumen sudah berada lebih dekat dengan keputusan pembelian.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan pemasaran digital tidak hanya diukur dari engagement, tetapi juga dari bagaimana audiens bergerak dari perhatian menuju tindakan.

Peran Influencer dan Micro-Influencer

Perubahan perilaku konsumen juga membuat peran kreator dan influencer semakin penting dalam pemasaran digital. Konsumen dapat memperoleh informasi mengenai produk bukan hanya dari iklan perusahaan, tetapi juga melalui pengalaman atau rekomendasi dari orang yang mereka ikuti.

Laporan e-Conomy SEA 2025 menunjukkan bahwa ekosistem creator semakin beragam. Micro-influencer dan niche creator disebut semakin berperan dalam mendorong transaksi karena konsumen mencari rekomendasi yang dianggap lebih autentik dan relevan.

Bagi perusahaan, kondisi tersebut berarti pemilihan influencer tidak cukup hanya berdasarkan jumlah followers. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan kesesuaian antara karakter influencer, audiens, produk, serta tujuan kampanye.

Misalnya, sebuah produk skincare tidak selalu membutuhkan influencer dengan jutaan followers. Kreator dengan audiens yang lebih kecil tetapi memiliki ketertarikan kuat terhadap skincare dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran yang lebih terarah.

AI Mulai Mengubah Cara Digital Marketing Dikelola

Selain video commerce, perkembangan artificial intelligence atau AI juga menjadi bagian penting dalam digital marketing. AI dapat digunakan untuk membantu menganalisis data konsumen, membuat variasi konten, melakukan personalisasi rekomendasi, serta mengoptimalkan kampanye pemasaran.

Laporan e-Conomy SEA 2025 menunjukkan bahwa AI semakin memengaruhi perjalanan konsumen. Dalam survei yang dikutip laporan tersebut, 62% konsumen Asia Tenggara menyatakan bahwa fitur berbasis AI, seperti rekomendasi produk yang dipersonalisasi, telah memengaruhi keputusan pembelian mereka.

Di sisi perusahaan, penggunaan AI juga mulai digunakan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran. Google mencatat bahwa perusahaan seperti Grab dan Shopee telah menggunakan kampanye berbasis AI untuk membantu mempercepat perjalanan konsumen dari tahap discovery menuju decision.

Namun, penggunaan AI bukan berarti seluruh aktivitas pemasaran dapat diserahkan kepada teknologi. Kreativitas, pemahaman terhadap konsumen, kemampuan membaca tren, dan pertimbangan etika tetap membutuhkan peran manusia.

Apa yang Harus Dilakukan Digital Marketer?

Perubahan tersebut membuat digital marketer perlu memiliki cara berpikir yang lebih strategis. Pertama, perusahaan perlu memahami siapa target konsumennya sebelum menentukan platform dan jenis konten.

Kedua, konten harus memiliki tujuan yang jelas. Konten untuk meningkatkan awareness tentu berbeda dengan konten yang bertujuan mendorong pembelian. Ketiga, perusahaan perlu menggunakan data untuk mengevaluasi apakah strategi yang dijalankan benar-benar menghasilkan perubahan pada perilaku konsumen.

Metrik seperti reach, views, likes, dan comments tetap berguna, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya indikator. Digital marketer juga perlu memperhatikan click-through rate, conversion rate, cost per acquisition, jumlah transaksi, serta return on advertising spend apabila menggunakan iklan berbayar.

Dengan demikian, pengelolaan digital marketing harus menghubungkan antara konten, konsumen, data, dan tujuan bisnis.

Penutup

Perkembangan digital marketing menunjukkan bahwa persaingan bisnis saat ini bukan hanya mengenai siapa yang mampu membuat konten paling menarik, tetapi juga siapa yang mampu memahami perjalanan konsumennya.

Video commerce membuat batas antara media sosial dan aktivitas belanja semakin tipis. Influencer dan creator membantu membangun kepercayaan sekaligus mendorong transaksi, sementara AI membuka peluang baru dalam personalisasi dan optimasi pemasaran.

Dalam kondisi tersebut, digital marketing perlu dikelola secara strategis. Jumlah views dan likes memang dapat menunjukkan perhatian audiens, tetapi tujuan akhir pemasaran perlu dikaitkan dengan bagaimana perhatian tersebut berkembang menjadi ketertarikan, interaksi, dan keputusan pembelian.

Bagi mahasiswa Manajemen Digital Marketing, fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan membuat konten saja belum cukup. Seorang digital marketer juga perlu memahami perilaku konsumen, marketing funnel, analisis data, teknologi AI, serta bagaimana seluruh elemen tersebut dapat digunakan untuk mencapai tujuan bisnis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image