Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Elvia Dwi Cahyani

Peran Perencanaan SDM dalam Mengatasi Turnover pada Industri Retail di Indonesia

Info Terkini | 2026-09-22 15:55:01

Pernah nggak sih kita melihat lowongan kerja untuk posisi kasir, pramuniaga, atau store crew yang terus muncul? Fenomena seperti ini cukup sering ditemukan pada industri retail di Indonesia. Perusahaan membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan operasional setiap hari, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi karyawan yang keluar dan harus digantikan dengan karyawan baru. Kondisi inilah yang disebut dengan turnover.

Kenapa Karyawan Retail Sering Keluar Masuk?

Turnover sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam dunia kerja. Karyawan bisa mengundurkan diri karena mendapatkan pekerjaan lain, alasan pribadi, melanjutkan pendidikan, atau merasa pekerjaan yang dijalani kurang sesuai dengan harapan. Namun, jika pergantian karyawan terjadi terlalu sering, perusahaan tentu akan mengalami beberapa kendala.

Pekerjaan di bidang retail juga cukup dinamis. Karyawan tidak hanya melayani pelanggan, tetapi bisa melakukan pengecekan stok, menata barang, menjaga kebersihan, membantu pembayaran, dan pekerjaan lainnya. Ditambah dengan sistem kerja shift dan target tertentu, kondisi tersebut dapat membuat beban kerja terasa cukup berat bagi sebagian karyawan.

Apakah Turnover Hanya Disebabkan oleh Karyawan?

Belum tentu. Ketika banyak karyawan keluar, perusahaan juga perlu melihat kondisi yang ada di lingkungan kerja. Beban kerja, jadwal kerja, hubungan dengan atasan, kompensasi, lingkungan kerja, hingga kesempatan untuk berkembang dapat menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Misalnya, jika dalam satu toko jumlah karyawannya sedikit sementara pekerjaan cukup banyak, karyawan yang ada harus mengerjakan lebih banyak tugas. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, karyawan bisa merasa lelah dan mulai mempertimbangkan pekerjaan lain. Karena itu, perusahaan perlu melihat masalah turnover secara lebih luas dan tidak hanya menganggapnya sebagai keputusan pribadi karyawan.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Perencanaan SDM?

Perencanaan SDM berperan dalam menentukan berapa banyak tenaga kerja yang sebenarnya dibutuhkan perusahaan. Perusahaan perlu menyesuaikan jumlah karyawan dengan jam operasional, jumlah pelanggan, beban pekerjaan, serta kemungkinan adanya karyawan yang keluar.

Perusahaan juga dapat melihat data turnover untuk mengetahui posisi atau lokasi mana yang paling sering mengalami pergantian karyawan. Dari data tersebut, perusahaan dapat memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di masa depan dan menyiapkan langkah apabila terjadi kekosongan posisi.

Apakah Membuka Lowongan Baru Sudah Cukup?

Sebenarnya belum. Recruitment memang diperlukan ketika ada posisi yang kosong, tetapi perusahaan juga perlu mencari tahu alasan karyawan sebelumnya keluar. Jika perusahaan hanya terus mencari karyawan baru tanpa memperbaiki penyebab turnover, masalah yang sama bisa saja terjadi kembali.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan evaluasi atau exit interview kepada karyawan yang mengundurkan diri. Dari sana perusahaan dapat mengetahui apakah masalahnya berkaitan dengan beban kerja, sistem shift, lingkungan kerja, hubungan dengan atasan, atau faktor lainnya.

Bagaimana Cara Perusahaan Mempertahankan Karyawan?

Selain melakukan recruitment, perusahaan juga perlu memperhatikan karyawan yang masih bertahan. Memberikan pelatihan, kesempatan untuk berkembang, apresiasi, komunikasi yang baik, dan lingkungan kerja yang nyaman dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan karyawan.

Karyawan juga perlu merasa bahwa pekerjaannya memiliki kesempatan untuk berkembang, bukan hanya sekadar bekerja untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Ketika perusahaan dan karyawan sama-sama mendapatkan manfaat, hubungan kerja dapat berjalan lebih baik.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Perusahaan perlu membuat perencanaan SDM yang tidak hanya berfokus pada jumlah karyawan, tetapi juga memperhatikan kondisi dan kebutuhan mereka. Data mengenai turnover, beban kerja, kebutuhan setiap posisi, dan alasan karyawan keluar dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.

Dengan perencanaan yang lebih baik, perusahaan dapat mengantisipasi kekurangan tenaga kerja dan tidak selalu berada dalam kondisi mencari pengganti. Di sisi lain, karyawan juga mendapatkan lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kesimpulan

Fenomena karyawan yang datang dan pergi merupakan salah satu tantangan yang dapat ditemukan dalam industri retail di Indonesia. Turnover memang tidak bisa sepenuhnya dihindari, tetapi perusahaan dapat mengelolanya melalui perencanaan SDM yang lebih baik.

Perencanaan SDM bukan hanya tentang berapa banyak karyawan yang harus direkrut, tetapi juga bagaimana perusahaan menempatkan, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya sibuk mencari orang baru ketika ada posisi yang kosong, tetapi juga berusaha membuat karyawan yang sudah ada merasa nyaman dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

Referensi

Bintang, S. K., Oshel, L., & Hariyanto, H. (2020). Pelatihan manajemen diri untuk meningkatkan work engagement pada kepala toko di perusahaan ritel. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 12(2). https://doi.org/10.15294/intuisi.v12i2.23907

Cahyana, K. S., & Prahara, S. A. (2020). Work engagement dengan intensi turnover pada karyawan. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah, 12(3). https://doi.org/10.15294/intuisi.v12i3.24073

Nindhita, Y., Saputro, P. H., & Prawani, D. (2022). Analyzing factors of turnover intention at PT. Sumber Alfariya Trijaya Tbk. Management Analysis Journal, 11(4). https://doi.org/10.15294/maj.v11i4.63693

Soraya, E. A., & Zaenuri, A. (2025). Pengaruh role ambiguity dan job insecurity terhadap turnover intention melalui mediasi work engagement: Studi pada karyawan PT. Auri Steel Metalindo. Unnes Business Quarterly, 1(1), 127–137.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image