Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Penanganan Kesehatan Mental dalam Islam

Agama | 2026-08-24 10:38:44

 

Ilustrasi gambar

Banyak anak muda Generasi Z hari ini bertumbuh dalam ruang hidup yang dipenuhi keterasingan dan kecemasan emosional. Kecenderungan ini mewujud dalam bentuk krisis kesehatan mental, seperti kecemasan berlebih, kelelahan jiwa, hingga hilangnya fokus hidup. Persoalan ini bukan lagi sekadar dinamika pubertas biasa, melainkan cermin dari tekanan lingkungan sosial yang kian kompleks.

Pesatnya perkembangan media digital membawa berbagai dampak psikologis bagi para penggunanya, khususnya pada kalangan Generasi Z. KPID Jawa Barat merespons kondisi tersebut dengan memperkuat siaran ramah anak serta perlindungan terhadap perempuan untuk menangkal paparan konten negatif di media digital sebagaimana dilaporkan pada 12 Mei 2026.

Kebijakan pembatasan serta pengawasan konten digital perlu kita baca sebagai ikhtiar awal yang positif. Namun, jika kita menelusurinya dari sudut pandang sosial yang lebih mendalam, fenomena ini tidak cukup diselesaikan dengan regulasi teknis penyiaran belaka. Hasil riset KPID Jawa Barat menunjukkan bahwa mayoritas responden dari kalangan Gen Z mengalami tekanan emosional dan gangguan konsentrasi akibat paparan media sosial secara masif.

Krisis kesehatan mental pada kalangan remaja tidak akan pernah tuntas hanya melalui pendekatan tambal sulam, seperti program first aider atau penanganan krisis sesaat. Akar persoalan yang sesungguhnya terletak pada pergeseran paradigma kehidupan yang memisahkan nilai-nilai spiritualitas dari tata kelola publik. Ketika ukuran keberhasilan hidup direduksi sebatas capaian materiil, popularitas digital, dan standar kompetisi pasar, anak muda kehilangan pegangan iman yang hakiki.

Sistem pendidikan yang terlalu mengejar tuntutan efisiensi industri turut memperberat beban psikologis pemuda. Sekolah kerap terjebak menjadi arena persaingan capaian angka, sementara pembinaan akidah dan pembentukan karakter justru terabaikan. Di sisi lain, beratnya tekanan ekonomi memaksa banyak orang tua mengorbankan waktu pengasuhan di rumah. Akibatnya, fungsi keluarga sebagai benteng moral tergerus, sementara negara belum sepenuhnya hadir menjalankan fungsi raa'in yang menjamin lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan menenteramkan bagi warganya.

*Solusi Islam dalam Membangun Generasi Tangguh*

Islam memandang kesehatan mental secara holistik, yaitu kesatuan antara kesehatan jasad, akal, dan kesucian jiwa yang berakar pada ketakwaan. Islam membangun ketahanan mental pemuda sejak dini melalui penanaman akidah yang kuat, sehingga lahir keyakinan bahwa setiap perjalanan hidup berada dalam takdir Allah Swt.

Allah Swt. Berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Selanjutnya, Islam menetapkan keluarga sebagai pilar utama pembentukan karakter. Ibu menjalankan peran strategis sebagai pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bait), sedangkan ayah bertanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup. Negara wajib menjamin keterpenuhan kebutuhan dasar rakyat melalui tata kelola ekonomi yang adil, sehingga orang tua tidak kehilangan peran edukatifnya dalam keluarga akibat himpitan ekonomi.

Dalam aspek pendidikan, kurikulum berbasis akidah Islam diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam (syahsiah islamiah). Pendidikan bertujuan melahirkan pemuda yang tangguh secara mental, unggul secara intelektual, serta memahami hakikat kehidupan, bukan sekadar mencetak tenaga kerja yang siap diadu di pasar bebas.

Lebih jauh, media penyiaran dalam tata kehidupan Islam diposisikan sebagai sarana pembinaan moral dan edukasi publik, bukan komoditas bisnis yang mengeksploitasi sensasi. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (HR. al-Bukhari No. 7138 dan Muslim No. 1829).”

Melalui sinergi antara ketakwaan individu, kontrol sosial masyarakat, dan kehadiran negara yang bertanggung jawab, kesehatan mental Generasi Z dapat dilindungi secara mendasar dan berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image