Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shilva Lioni

Bendera Merah Putih dan Wajah Perjuangan di Pinggir Jalan

Momen | 2026-08-23 20:20:11
https://www.shutterstock.com

Setiap memasuki bulan Agustus, ada satu pemandangan yang hampir selalu muncul di berbagai wilayah kota di Indonesia. Di antara lalu lintas kendaraan, debu jalanan, panas matahari, dan hiruk-pikuk aktivitas warga, bermunculan lapak-lapak kecil dengan warna yang sama yakni merah dan putih. Mereka datang ketika kalender memasuki bulan kemerdekaan, membawa barang dagangan, membuka lapak di bawah terik matahari, menunggu kendaraan berhenti, dan berharap satu per satu bendera berpindah ke tangan pembeli. Sebagian menjadikan aktivitas itu sebagai usaha musiman yang dilakukan setiap tahun.

Bendera digantung memanjang. Umbul-umbul disusun berjajar. Tiang bambu ditumpuk di salah satu sudut lapak. Para pedagang berdiri menunggu kendaraan yang berhenti, menawarkan dagangan kepada orang-orang yang melintas. Pemandangan ini mungkin sudah menjadi pemandangan biasa menjelang 17 Agustus. Namun, dibalik hal ini semua barangkali mungkin kita perlu berhenti sejenak dan melihat lebih dalam melalui fenomena ini seperti halnya sebagai catatan perjuangan seorang ayah ditengah terik matahari di hari kemerdekaan atau sebagai catatan perjuangan seorang ibu sembari menggendong anak dan menjajakan bendera di hari jelang kemerdekaan.

Lebih jauh pada dasarnya, di balik bendera yang kita beli, terdapat wajah manusia yang sedang berjuang. Mereka adalah para penjual bendera. Mereka bukan veteran perang. Mereka bukan nama yang tercatat dalam buku sejarah. Tidak ada monumen yang dibangun untuk mengenang mereka. Tetapi mereka memiliki satu kesamaan dengan para pejuang yang sering kita kenang setiap bulan Agustus yaitu mereka berjuang. Hanya saja, bentuk perjuangannya berbeda yakni dari merebut kemerdekaan menjadi memperjuangkan kehidupan. Perjuangan untuk bangun sebelum matahari terbit demi mencari nafkah. Perjuangan berdiri di bawah terik matahari, menunggu pembeli yang belum tentu datang.

Jika dahulu para pejuang berusaha membebaskan negeri dari penjajahan, hari ini jutaan orang berjuang agar dirinya dan keluarganya terbebas dari kesulitan hidup. Jika dahulu musuh yang dihadapi adalah kolonialisme, hari ini tantangannya adalah kebutuhan hidup, ketidakpastian pendapatan, persaingan usaha, dan perubahan pola konsumsi. Medannya berbeda dan musuhnya berbeda. Namun, semangat bertahannya tetap sama.

Lebih jauh, dibalik lapak penjualan bendera ditepi jalanan, terdapat tangan yang menjahitnya. Ada tangan yang mengemasnya. Ada tangan yang mengangkutnya dan ada tangan yang menjajakannya di pinggir jalan. Ada keluarga yang mungkin menggantungkan sebagian pendapatannya pada setiap lembar yang terjual. Mereka menghidupi keluarga melalui momentum kemerdekaan. Mungkin bagi sebagian orang, sebuah bendera hanya bernilai puluhan ribu rupiah. Tetapi bagi penjualnya, beberapa bendera yang terjual bisa berarti uang sekolah. Bisa berarti kebutuhan dapur. Bisa berarti ongkos pulang. Bisa berarti kesempatan untuk mempertahankan kehidupan. Harga sebuah bendera mungkin tertera pada label namun nilai perjuangan di baliknya tidak pernah tercetak.

Maka, ketika Agustus datang dan kita melihat bendera-bendera memenuhi pinggir jalan, sudah sepatutnya kita jangan hanya melihat warna merah dan putih yang terpampang semata. Lihatlah wajah-wajah perjuangan di baliknya. Bagi seorang pedagang bendera, kemerdekaan mungkin sesederhana kesempatan untuk berdagang dan membawa pulang penghasilan bagi keluarganya.

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan konsep yang hanya hidup dalam buku sejarah. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan terasa dalam kesempatan bekerja. Dalam kesempatan belajar. Dalam kesempatan berusaha. Dalam kesempatan hidup secara bermartabat bahkan di tempat seorang penjual bendera berdiri di bawah matahari, menawarkan Merah Putih kepada orang-orang yang lewat. Merah Putih bukan hanya kain yang berkibar di langit Indonesia. Ia adalah simbol bagi jutaan manusia yang terus berjuang agar dapat hidup dengan bermartabat di bawah naungannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image