Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aisyah Hamiyatur

Darurat HIV Remaja: Bukan Sekadar Persoalan Kesehatan, tetapi Krisis Pergaulan

Rubrik | 2026-08-14 17:44:11

Meningkatnya kasus HIV remaja hari ini menjadi permasalahan penting yang harus segera diselesaikan. Yang sedang ramai dibicarakan di daerah Sidoarjo yang tercatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.jPlt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni menyebutkan bahwa peningkatan jumlah kasus HIV yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring makin luasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai faskes (kumparan.com).

Di Kediri sendiri terdapat 130 kasus HIV selama periode Januari-Juni pada tahun ini sebagaimana dikutip dari beritakediri.com-- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mencatat sebanyak 130 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) selama periode Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 33 kasus merupakan warga ber-KTP Kota Kediri, sedangkan 97 kasus lainnya berasal dari luar daerah yang menjalani pemeriksaan dan pengobatan di Kota Kediri.

Astaghfirullahal ‘adziim, sungguh semakin miris keadaan generasi negeri ini jika terus dibiarkan.

Tingginya kasus HIV pada remaja tentu menunjukkan kepada kita bagaimana pola sikap remaja hari ini dibawah naungan sistem sekuler yang membebaskan apa saja. Mereka dibiarkan memilih teman sesuka hati, dibiarkan masuk kedalam pergaulan bebas yang menyesatkan, bahkan tak segan-segan mereka dibiarkan mengajak temannya yang lain untuk ikut serta. Inilah akibat dunia tanpa aturan pergaulan yang sesuai. Sistem kapitalis yang berlandaskan asas sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) membuat negara berlepas tangan dari perannya sebagai pengurus umat yang menetapkan aturan sesuai dengan aturan Pencipta.

Pada akhirnya, rakyat dibiarkan melakukan apa saja asalkan tidak mengganggu negara, karena negara hanya menjadi wasit saja. Begitu juga dalam hal pergaulan, remaja dibiarkan bebas melakukan yang mereka inginkan dan masyarakat bungkam dengan dalih itu bukan urusannya. Adapun solusi dari permasalahan yang muncul di tengah-tengah umat juga tidak mendasar, tidak menyentuh akar permasalahan.

Sebagaimana narasi terkait temuan adanya peningkatan jumlah kasus HIV, maka tidak bisa langsung diartikan penyebabnya karena meningkatnya kasus penularan. Hal ini terkuak karena seiring makin luasnya upaya deteksi dini kasus HIV yang dilakukan pemerintah maupun mitra-mitra yang berkaitan. Maka besar kemungkinan masih ada remaja yang mengidap penyakit HIV yang belum tercatat. Sehingga membuat adanya kegagalan dalam memahami problematika HIV ini dan tidak bisa jika solusinya hanya sebatas edukasi dini terkait seks dan pergaulan bebas yang umumnya berfokus pada dampak kesehatan medis pelaku yaitu penularan penyakit dan kehamilan yang tidak diinginkan. Sedangkan mereka tidak diajarkan bagaimana batasan pergaulan antara lawan jenis maupun sesama jenis, apakah berdosa atau tidak.

Sebaliknya dalam Islam, para remaja akan dididik sejak dini dengan landasan akidah Iman kepada Allah sebagai Pencipta dan Pengatur. Mengubah pola sikap dan pola pikir mereka sesuai dengan Islam menjadi kepribadian yang cerdas, berakhlakul karimah, dan bertaqwa. Terkait pergaulan, Islam mengajarkan batasan-batasan aurat antara laki-laki dan perempuan sekaligus pakaian syar’inya, siapa mahramnya, menjaga pandangan, larangan mendekati zina, aturan pernikahan dan terkait sanksi bagi pelaku yang melakukan pelanggaran. Dengan sistem pendidikan Islam yang mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqh dan aqidah akan membuat generasi menyadari bahwa menjaga organ reproduksi adalah bagian dari ibadah dan amanah dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Keluarga akan menjadi benteng awal remaja sebelum menghadapi dunia luar, masyarakat sekitar akan menjadi pengingat dan pengontrol kelakuan remaja ketika diluar rumah, dan negara akan menjadi penjamin terurusnya kebutuhan pokok individu serta pengontrol masyarakat lebih luas dengan menetapkan kebijakan dan hukuman tegas sesuai syara’. Inilah pentingnya sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara agar menjamin keselamatan generasi dari ancaman HIV. Wallahu a’lam bishshowwab

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image