Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dahlia-Ku

Remaja Terjangkit HIV tak Cukup Hanya Rutin Konsumsi ARV

Edukasi | 2026-08-02 12:55:28
Picture : magnific (freepik)

Media mempunyai peran untuk menyebarkan informasi ke tengah-tengah masyarakat. Salah satu informasi yang viral dan ramai dibicarakan akhir-akhir ini adalah terkuaknya data dimana terdapat 522 anak dan remaja di Sidoarjo, Jawa Timur yang terpapar HIV/AIDS.

Viralnya informasi ini, akhirnya membuat Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengungkapkan data resmi terkait orang-orang yang terpapar HIV/AIDS di wilayah tersebut. (CNN Indonesia, 27 Juli 2026).

Dalam pernyataan resmi dari Kemenkes diungkapkan bahwa situasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur pada tahun 2001 - 2026 menemukan sebanyak 1.183 kasus HIV pada usia 0-24 tahun. Dari jumlah tersebut terdapat 117 kasus terjadi melalui penularan vertikal dari seorang ibu ke anaknya, dimana rentang usia anak antara 0 hingga 10 tahun.

Selanjutnya di usia 11 hingga 17 tahun ditemukan sebanyak 60 kasus HIV. Kemudian di kelompok usia 18 hingga 24 tahun terdapat 1.006 kasus HIV, dengan jumlah 1.005 kasus merupakan penularan secara horizontal. Baik itu penularan melalui perilaku homoseksual, pasangan berisiko tinggi, pekerja seks perempuan, pelanggan pekerja seks, waria, pasien IMS, pengguna napza suntik, dan calon pengantin.

Menurut Kemenkes, data di atas adalah data kumulatif selama 25 tahun. Sehingga kedepannya Kemenkes akan terus memperkuat pelayanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) dan terapi antiretroviral (ARV) pada ibu hamil, sehingga risiko penularan pada bayi bisa ditekan. Sehingga dengan pengobatan yang diminum secara teratur, maka setiap orang yang hidup dengan HIV bisa kembali produktif, sehat, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Perlu dikritisi bersama bahwa meskipun data yang disampaikan merupakan akumulasi selama 25 tahun, namun kita patut waspada. Karena angka-angka di atas mencerminkan rusaknya sistem sosial dan rusaknya pergaulan di tengah masyarakat. Saat agama tak lagi menjadi panduan hidup, manusia lantas bebas berperilaku hingga timbullah kerusakan dan penyakit. Dimana orang dengan HIV harus terus mengkonsumsi obat dan berpotensi menularkan pada orang lain.

Langkah kuratif (misalnya pengobatan dan pendataan) yang dilakukan Pemerintah patut diapresiasi. Namun solusi tersebut belum menyentuh akar masalah dari orang-orang terkhusus anak-anak dan remaja yang terjangkit HIV. Kenapa anak-anak dan remaja harus diprioritaskan untuk mendapatkan solusi tuntas?. Karena di tangan merekalah kelak bangsa ini akan dilanjutkan estafet pengurusannya. Bagaimana mungkin bangsa ini akan bisa menjadi bangsa yang maju, hebat dan punya kontribusi nyata, jika secara internal justru terdapat banyak kasus generasi yang sakit HIV.

Maka dari itu butuh solusi tuntas, yang bisa melihat akar masalah problem HIV, sehingga problem ini benar-benar bisa selesai tanpa meninggalkan masalah baru. Langkah yang perlu diambil dan jangan dilupakan adalah langkah preventif yang bisa mencegah dan melindungi generasi dari sakit HIV/AIDS.

Islam merupakan sistem hidup yang sempurna. Maka Islam juga mempunyai panduan bagi manusia, baik masalah pendidikan, pergaulan, dan sistem sosial. Yang pertama di bidang pendidikan, Islam memberikan panduan agar generasi tumbuh menjadi manusia dengan kepribadian Islam, cerdas, sehat dan berakhlaq mulia. Urgen untuk menerapkan sistem pendidikan Islam yang mengkolaborasikan kurikulum dan materi pelajaran mulai dari bab kesehatan reproduksi, pergaulan dan akhlaq dalam tinjauan fiqih Islam.

Ketika anak-anak dan remaja diberikan materi ini, maka mereka akan tahu dan paham bahwa menjaga kesehatan organ reproduksi adalah bagian dari ibadah kepada Allah Ta'ala. Generasi juga akan paham bahwa sifat dan sikap malu berbuat kemaksiatan, merupakan amanah dari Sang Pencipta yang musti dijaga sampai kapanpun. Karena dalam paradigma seorang mukmin, kelak semua perilaku manusia di dunia akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah.

Yang kedua sistem pergaulan di tengah masyarakat selayaknya dikembalikan pada pengaturan syariah Islam. Contohnya melalui syariah menjaga pandangan (baik laki-laki maupun perempuan), berpakaian sesuai syariah, larangan zina, syariah tentang pernikahan, dan saksi tegas bagi pelaku pelanggaran hukum syariah.

Ketiga sistem sosial yang diatur dengan Islam hingga melahirkan budaya amar makruf nahi munkar, saling menasihati meskipun yang melanggar syariah bukan anggota keluarganya misalnya. Sehingga tiga pilar pembentuk masyarakat, yaitu keluarga, masyarakat dan negara saling bekerjasama dan menguatkan untuk memberikan kehidupan dan lingkungan yang aman untuk generasi. Selain itu media sosial perlu diatur juga dengan syariah, sehingga tontonan dan artikel yang ada di media sosial merupakan tayangan yang benar. Sehingga akan memberikan kebaikan dan mencerdaskan generasi serta masyarakat. Bukan tayangan-tayangan yang asal memberikan keuntungan (cuan) padahal bisa merusak generasi dan semua pengguna media sosial.

Bertambah hari kita ditunjukkan dengan fakta kerusakan problem HIV yang makin menyeramkan. Semoga kita bisa menyadari ini, dan mau kembali pada fitrah pengaturan yang terbaik, yaitu ketundukan totalitas pada syariah Islam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image