HIV Mengancam Generasi Muda, Benarkah Pendidikan Seksual Solusinya?
Gaya Hidup | 2026-08-09 08:20:04
Oleh: Ayu Lestari
Betapa miris melihat masa depan generasi sekarang yang sudah ternoda oleh penyakit HIV/AIDS. Kondisi ini dapat menghancurkan masa depan mereka. Hal tersebut terjadi karena generasi muda bergaul terlalu bebas dan tidak memiliki batasan. Saat ini, hukum Allah Swt. telah diabaikan oleh manusia sehingga perbuatan zina terjadi di mana-mana. Salah satu dampaknya adalah semakin tumbuh suburnya penyakit menular seksual, salah satunya HIV/AIDS.
Berdasarkan data situasi HIV di Kabupaten Sidoarjo, sejak 2001 hingga Juni 2026, kenaikan jumlah kasus yang ditemukan setiap tahun berjalan seiring dengan meluasnya layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan.
Dinas Kesehatan Pemkab Sidoarjo mencatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) berdasarkan data kumulatif sejak 2001 hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV/AIDS.
Tingginya kasus HIV pada remaja mencerminkan rusaknya sistem sosial akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang menjauhkan agama dari kehidupan. Perilaku hidup bebas tanpa aturan menyebabkan berbagai kerusakan.
Sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan, telah menumbuhkan gaya hidup hedonistik dan permisif. Nilai-nilai kesucian, tanggung jawab, dan penjagaan kehormatan diri kian memudar. Akibatnya, penyakit sosial seperti HIV/AIDS berkembang, tidak hanya di kalangan yang berisiko tinggi, tetapi juga mulai menyebar ke masyarakat umum.
Bukan berarti pemerintah tidak berusaha. Ironisnya, banyak kampanye pencegahan masih berpijak pada logika sekularisme. Di satu sisi, pemerintah mengampanyekan bahaya HIV/AIDS, tetapi di sisi lain menekankan konsep “seks aman” dengan pendekatan penggunaan kondom. Jelasnya, hal ini hanya menekan gejala, bukan akar permasalahan. Sementara itu, generasi muda juga terus-menerus disuguhi tayangan, konten, dan gaya hidup yang menormalisasi hubungan di luar nikah.
Islam memiliki aturan tegas yang bersumber dari Allah Ta'ala yang menciptakan manusia. Allah telah menyediakan berbagai aturan yang sesuai dengan fitrah manusia. Kelalaian manusia terhadap aturan Allah telah menyebabkan kebebasan berperilaku tumbuh subur, khususnya dalam naungan individualisme yang dijamin oleh sistem demokrasi dan kapitalisme dengan aturan sekulernya.
Untuk mencegah HIV pada pelajar, Islam membangun sistem sosial yang preventif melalui sistem pergaulan dalam Islam (Nizham al-Ijtima'i). Melalui aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, kewajiban mengenakan pakaian syar'i, serta pengaturan pernikahan dan sanksi (uqubat) bagi pelanggar hukum syara'.
Penerapan pendidikan Islam mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fikih pergaulan dan akhlak. Dengan demikian, pelajar memahami bahwa menjaga kesehatan reproduksi merupakan bagian dari ibadah dan amanah Ilahi serta menyadari bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Hal tersebut dapat diwujudkan melalui sinergi tiga pilar dalam membentuk generasi yang selamat dari ancaman HIV/AIDS dan pergaulan bebas, yaitu keluarga, masyarakat, sekolah, dan negara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
