Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual, Langkah Melindungi Diri dan Pasangan
Eduaksi | 2026-08-01 11:39:54
Penyakit menular seksual (PMS) atau infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jutaan kasus baru infeksi menular seksual yang dapat disembuhkan terjadi setiap hari di seluruh dunia. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan bahwa kasus sifilis dan gonore masih menunjukkan tren yang perlu diwaspadai, terutama pada kelompok usia produktif.
Sayangnya, banyak orang baru mencari pengobatan setelah gejala muncul. Padahal, beberapa jenis penyakit menular seksual dapat berkembang tanpa keluhan sehingga penderita tetap berisiko menularkan infeksi kepada pasangan tanpa menyadarinya.
Kabar baiknya, sebagian besar penyakit menular seksual dapat dicegah melalui kebiasaan hidup yang sehat, perilaku seksual yang bertanggung jawab, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Apa Itu Penyakit Menular Seksual?
Penyakit menular seksual adalah infeksi yang terutama menyebar melalui hubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral. Penyebabnya dapat berupa bakteri, virus, atau parasit.
Beberapa penyakit yang paling sering ditemukan antara lain:
- Gonore.
- Klamidia.
- Sifilis.
- Herpes genital.
- Human papillomavirus (HPV).
- HIV.
Sebagian penyakit tersebut dapat disembuhkan apabila ditangani sejak dini, sedangkan beberapa lainnya memerlukan terapi jangka panjang untuk mengendalikan infeksi.
Mengapa Pencegahan Sangat Penting?
Pencegahan lebih mudah dibandingkan mengobati komplikasi yang mungkin terjadi.
Apabila tidak ditangani dengan baik, penyakit menular seksual dapat meningkatkan risiko:
- Penyakit radang panggul.
- Gangguan kesuburan pada pria maupun wanita.
- Kehamilan ektopik.
- Penularan kepada pasangan.
- Penularan dari ibu kepada bayi.
- Meningkatkan risiko penularan HIV.
Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu menjadi bagian dari gaya hidup sehat, terutama bagi remaja dan dewasa muda yang telah aktif secara seksual.
Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual
1. Gunakan Kondom Secara Benar dan Konsisten
Penggunaan kondom merupakan salah satu cara paling efektif untuk menurunkan risiko penularan berbagai penyakit menular seksual.
Agar perlindungan optimal, kondom harus digunakan sejak awal hingga akhir hubungan seksual dan digunakan sesuai petunjuk.
2. Setia pada Satu Pasangan
Memiliki satu pasangan seksual yang sama-sama telah mengetahui status kesehatan reproduksi masing-masing dapat membantu menurunkan risiko penularan infeksi.
Semakin banyak pasangan seksual, semakin besar peluang seseorang terpapar mikroorganisme penyebab penyakit.
3. Jangan Mengabaikan Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan atau skrining IMS sangat penting, terutama bagi seseorang yang memiliki faktor risiko atau pernah melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan.
Beberapa infeksi tidak menimbulkan gejala sehingga hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.
4. Lakukan Vaksinasi
Vaksin HPV dan hepatitis B merupakan salah satu bentuk pencegahan yang direkomendasikan oleh banyak organisasi kesehatan dunia.
Vaksinasi membantu menurunkan risiko infeksi yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk beberapa jenis kanker yang berkaitan dengan HPV.
5. Hindari Berbagi Jarum Suntik
Beberapa penyakit seperti HIV dan hepatitis B dapat menyebar melalui darah yang terkontaminasi.
Karena itu, penggunaan jarum suntik secara bergantian harus dihindari.
6. Segera Berobat Jika Muncul Gejala
Jangan menunda pemeriksaan apabila mengalami:
- Nyeri saat buang air kecil.
- Keluar cairan tidak normal dari alat kelamin.
- Luka pada area genital.
- Benjolan menyerupai kutil.
- Gatal yang tidak kunjung membaik.
- Nyeri saat berhubungan seksual.
Pengobatan sejak dini dapat mencegah komplikasi sekaligus mengurangi risiko penularan.
Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan
Beberapa kebiasaan berikut justru meningkatkan risiko penyakit menular seksual.
Menganggap Tidak Ada Gejala Berarti Aman
Banyak penderita tidak mengalami gejala pada tahap awal infeksi.
Menghentikan Pengobatan Sebelum Selesai
Antibiotik maupun obat lain harus digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan agar infeksi benar-benar teratasi.
Tidak Memberi Tahu Pasangan
Pasangan seksual juga perlu mendapatkan pemeriksaan apabila salah satu didiagnosis mengalami penyakit menular seksual.
Percaya Mitos dari Internet
Informasi kesehatan sebaiknya diperoleh dari tenaga kesehatan maupun lembaga resmi agar tidak salah mengambil keputusan.
Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan?
Pemeriksaan IMS dianjurkan apabila:
- Pernah melakukan hubungan seksual tanpa kondom.
- Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
- Pasangan didiagnosis mengalami IMS.
- Mengalami gejala yang mengarah pada penyakit menular seksual.
- Sedang merencanakan kehamilan.
Skrining dini membantu mendeteksi infeksi sebelum berkembang menjadi komplikasi.
Kesimpulan.
Penyakit menular seksual masih menjadi tantangan kesehatan yang dapat menyerang siapa saja yang aktif secara seksual. Namun, sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui penggunaan kondom secara benar, setia pada satu pasangan, vaksinasi, pemeriksaan kesehatan berkala, serta segera berkonsultasi apabila muncul gejala. Edukasi yang benar dan perilaku seksual yang bertanggung jawab merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri sekaligus mencegah penularan kepada pasangan.
Referensi Medis
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan rekomendasi dan publikasi dari:
- World Health Organization (WHO). Sexually transmitted infections (STIs).
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines.
- Mayo Clinic. Sexually Transmitted Diseases (STDs): Symptoms and Causes - https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sexually-transmitted-diseases-stds/symptoms-causes/syc-20351240
- Cerupon - https://cerupon.web.id/tanda-tanda-infeksi-menular-seksual-yang-sering-diabaikan-pada-pria-dan-wanita/
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
