Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Freddy Sugiarto

Welas Asih Sebagai Model Memakmurkan Bumi

Guru Menulis | 2026-08-12 14:08:44

Nama : Freddy Sugiarto

NIM : 2631600232

Matkul : Wawasan Budi Luhur

FEB, MM. Dosen : Bp. Dr. Rusdiyanta, S.I.P., M.Si.

ESAI 1: Welas Asih Sebagai Model Memakmurkan Bumi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi:

Krisis lingkungan global (perubahan iklim, deforestasi, polusi)

Data bencana alam yang meningkat di Indonesia

Kearifan lokal Nusantara tentang harmoni alam

Filosofi welas asih dari tradisi Jawa

Urgensi pembangunan berkelanjutan

Landasan Teoritis:

Teori Etika Lingkungan (Environmental Ethics)

Ekologi Spiritual

Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Welas Asih Sebagai Model Memakmurkan Bumi

PENDAHULUAN

Kerusakan lingkungan dan keserakahan manusia mengancam keberlangsungan

bumi secara serius. Eksploitasi sumber daya alam tanpa batas menyebabkan bencana alam

seperti banjir, longsor, kekeringan, dan kemiskinan struktural di berbagai wilayah Indonesia

maupun global.

Fenomena perubahan iklim, deforestasi masif, polusi udara dan air, serta hilangnya

keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa manusia telah melupakan tanggung jawab

moralnya terhadap alam. Diperlukan model baru yang tidak hanya teknis-ekonomis, tetapi

juga berbasis nilai spiritual dan kearifan lokal.

PEMBAHASAN

Welas asih adalah konsep filosofis Jawa yang berarti kasih sayang universal

terhadap semua makhluk hidup tanpa diskriminasi. Filosofi ini mengajarkan bahwa

memakmurkan bumi bukan sekadar kebutuhan pragmatis, melainkan tanggung jawab moral

dan spiritual setiap insan yang diberi kehidupan.

Dalam tradisi Nusantara, welas asih tercermin dalam berbagai praktik kearifan lokal

seperti hutan larangan, sungai keramat, dan tradisi sedekah bumi. Masyarakat adat

memahami bahwa alam adalah bagian integral dari kehidupan yang harus dijaga, bukan

dieksploitasi habis-habisan.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa daerah

dengan tingkat kearifan lokal tinggi memiliki kerusakan lingkungan lebih rendah.

Misalnya, masyarakat adat di Kalimantan dan Papua yang masih memegang tradisi leluhur

mampu menjaga hutan mereka tetap lestari.

Secara teologis, berbagai agama mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah atau

penjaga bumi, bukan pemilik mutlak. Dalam Islam, konsep "khalifatullah fil ardh"

menekankan tanggung jawab manusia untuk memakmurkan bumi dengan cara yang

diridhoi Tuhan.

Implementasi welas asih sebagai model memakmurkan bumi dapat dilakukan

melalui beberapa strategi konkret. Pertama, edukasi lingkungan berbasis nilai spiritual di

sekolah-sekolah dan perguruan tinggi untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

Kedua, gerakan penghijauan massal yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,

dari pemerintah, swasta, hingga komunitas akar rumput. Program satu mahasiswa satu

pohon atau satu keluarga satu pohon dapat menjadi gerakan nasional yang masif.

Ketiga, pengembangan ekonomi berkelanjutan yang ramah lingkungan seperti

pertanian organik, ekowisata, dan energi terbarukan. Model ekonomi ini tidak hanya

menghasilkan profit, tetapi juga menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.

Keempat, pemerintah perlu mengintegrasikan nilai welas asih dalam kebijakan

pembangunan nasional. Peraturan perundang-undangan harus melindungi hak-hak alam dan

memberikan sanksi tegas bagi pelaku perusakan lingkungan.

Kelima, peran media dan tokoh masyarakat sangat penting dalam menyebarkan

kesadaran tentang urgensi menjaga bumi. Kampanye publik, konten kreatif, dan ketel

tetapi juga berbasis pada penguatan faith dan religiusitas.

PEMBAHASAN

Religiusitas berarti ketakwaan kepada Tuhan melalui ibadah rutin, doa, dan akhlak

mulia dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran agama menekankan bahwa rezeki sudah diatur

oleh Tuhan dan harus dicari dengan cara halal, berkah, dan penuh syukur.

Dalam Islam, konsep rezeki telah diatur dalam Al-Qur'an dan Hadits, termasuk

jaminan bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan hamba-Nya yang bertakwa. Q.S. Adz

Dzariyat ayat 22 menegaskan bahwa rezeki semua makhluk ada di langit dan bumi.

Data berbagai penelitian menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat

religiusitas tinggi lebih rendah praktik pesugihan dan ritual sesatnya. Nilai spiritual

mengajarkan bahwa kekayaan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat yang

kekal.

Psikologi agama menjelaskan bahwa religiusitas memberikan makna dan tujuan

hidup yang lebih dalam daripada sekadar akumulasi materi. Orang yang religius cenderung

lebih sabar, bersyukur, dan tidak mudah tergoda jalan pintas yang haram.

Implementasi peningkatan religiusitas dapat dimulai dengan penguatan pendidikan

agama sejak dini di keluarga dan sekolah. Anak-anak perlu diajarkan tentang rezeki halal,

kesabaran, dan syukur sebagai fondasi karakter spiritual.

Dakwah yang menyentuh hati dan relevan dengan masalah kontemporer juga

penting untuk mencegah kesesatan. Tokoh agama perlu memberikan alternatif solusi

ekonomi yang halal dan memberkahi, bukan hanya larangan tanpa solusi.

Pembentukan komunitas religius yang saling mendukung dapat memperkuat faith

individu. Kelompok pengajian, majelis taklim, atau komunitas spiritual lainnya dapat

menjadi support system bagi anggota yang sedang menghadapi ujian ekonomi.

Peran pemerintah dan aparat juga penting dalam menindak praktik pesugihan dan

ritual sesat yang merugikan masyarakat. Namun, pendekatan hukum harus diimbangi

dengan edukasi dan penguatan spiritual agar preventif.

Program pemberdayaan ekonomi berbasis nilai agama seperti koperasi syariah,

zakat produktif, dan wakaf dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang kesulitan

ekonomi. Ini mencegah mereka mencari jalan pintas melalui pesugihan.

Hasil dari peningkatan religiusitas ini adalah masyarakat yang lebih beriman, tidak

serakah, dan mampu menerima rezeki dengan syukur dan sabar. Mereka belajar bahwa

kekayaan sejati adalah ketenangan hati, kesehatan, dan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.

KESIMPULAN

Religiusitas adalah upaya mencegah pesugihan yang efektif, preventif, dan

berkelanjutan jangka panjang. Dengan menginternalisasi nilai ketakwaan dan kepasrahan

kepada Tuhan, kita dapat mencegah kesesatan dan membentuk masyarakat yang bertakwa.

Dengan menginternalisasi nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat

membentuk masyarakat yang beriman dan bertakwa. Mari kita mulai dari diri sendiri dan

keluarga untuk mencari rezeki dengan cara halal dan penuh syukur.

Daftar Pustaka:

Dr. Rusdiyanta, S.I.P., M.Si. (2025). Panduan Penulisan Esai. Universitas Budi Luhur.

Al-Qur'an dan Terjemahan. (2025). Kementerian Agama RI.

Koran IndoPos. (2025). Religiusitas dan Pencegahan Pesugihan.

https://koranindopos.com/opini/

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image