Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rizki Anugerah Lastiyanto

Sebait Doa di Antara Dua Pilihan

Sastra | 2026-08-11 10:52:18
Sebait Doa di Antara Dua Pilihan, mampukah mereka menuju ke pelaminan? (Sumber: AI)

Layar laptop di hadapan Andi perlahan meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang pias di layar kaca. Ia baru saja menutup belasan tab peramban berisi portal lowongan kerja. Sudah terhitung bulan sejak ia memindahkan kuncir toganya di salah satu universitas ternama di kota ini. Gelar sarjana teknologi informasi yang dulu ia banggakan, kini terasa seperti beban yang tak kasatmata di pundaknya.

Namun, Andi pantang mengutuk nasib. Di atas sajadah lusuhnya setiap sepertiga malam, ia merapalkan keyakinan bahwa Allah selalu punya waktu yang paling tepat. Ikhtiar dan tawakal adalah dua sayap yang menjaganya agar tidak jatuh dalam jurang keputusasaan.

Hanya saja, ujian batinnya belakangan ini bukan sekadar soal selembar surat panggilan kerja. Ujian itu bernama Eta.

Andi memejamkan mata, membiarkan ingatan tentang pesta pernikahan tetangganya dua hari lalu kembali berputar. Di tengah hiruk-pikuk tamu undangan, matanya bersirobok dengan sosok yang dulu sangat ia kenal. Eta, teman masa kecilnya. Gadis yang dulu selalu berebut rakaat pertama dengannya di surau, yang wajahnya selalu teduh dalam balutan mukena putih.

Namun, Eta yang ia temui tempo hari bukanlah Eta yang sama. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, dengan riasan wajah yang menurut Andi terlalu tebal untuk sekadar menghadiri kondangan. Dari obrolan canggung mereka yang diiringi dentum musik hajatan, Andi tahu bahwa Eta terpaksa melepas hijabnya karena tuntutan pekerjaan di sebuah perusahaan kosmetik.

Mereka bertukar nomor WhatsApp hari itu. Ada senyum manis yang tertinggal, namun membawa luka yang ngilu di dada Andi.

Malam harinya, kegundahan itu semakin menyiksa saat Andi tanpa sengaja melihat pembaruan status WhatsApp Eta. Layar ponselnya menampilkan potret Eta yang sedang tertawa lepas bersama rekan-rekan kerjanya di sebuah kafe bergaya modern, dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk lehernya dan riasan wajah yang mencolok. Tidak ada lagi gurat kesederhanaan dari gadis surau yang dulu ia kenal. Ada desir nyeri yang merambat di dada Andi; bukan sekadar cemburu pada dunia gemerlap yang kini mengelilingi Eta, melainkan kesedihan mendalam melihat betapa jauh gadis itu telah menepi dari nilai-nilai yang dulu mereka pelajari bersama. Ia ingin menyapa dan mengingatkan, namun ia segera menahan jarinya di atas layar. Ia sadar diri. Siapa dia saat ini? Jangankan untuk menjadi pelindung yang menasihati, memberikan jaminan masa depan dengan nafkah yang halal saja ia belum mampu.

Di satu sisi, perasaannya pada Eta tidak pernah benar-benar mati. Namun di sisi lain, realitas menamparnya dengan keras. Bagaimana mungkin ia berani melangkah ke pelaminan, sementara untuk membeli pulsa paket data guna melamar pekerjaan saja ia harus berhitung teliti?

Lebih dari itu, ada dinding tebal yang baru saja didirikan oleh kedua orang tuanya semalam.

"Bapak dan Ibu tidak pernah menuntut kamu harus mapan dulu untuk menikah, Ndi. Rezeki itu Allah yang jamin setelah akad," ucap ibunya pelan namun tegas, saat Andi tak sengaja menyinggung pertemuannya dengan Eta. "Tapi Ibu mohon, carilah istri yang bisa menyejukkan pandanganmu dan anak-anakmu kelak. Eta yang sekarang... Ibu kurang sreg, Ndi. Dia sudah berani membuka auratnya dan berpenampilan semenor itu di depan umum."

Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hati. Orang tuanya tidak mempermasalahkan dompetnya yang kosong, melainkan kondisi spiritual calon menantunya.

Andi mengusap wajahnya kasar. Ia harus mengubur perasaannya dalam-dalam. Bukan karena ia membenci Eta, tapi karena ia tahu, ia belum memiliki kapasitas—baik secara finansial maupun wibawa seorang imam—untuk menarik Eta kembali ke jalan yang diridhai-Nya.

Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah ventilasi kamarnya. Andi menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara subuh yang segar dan harapan baru. Ia bergegas mandi, mengenakan kemeja katun terbaiknya yang sudah ia setrika licin semalam, dan merapikan rambutnya.

Hari ini ada bursa kerja besar-besaran di pusat kota.

Sambil memasukkan setumpuk map lamaran ke dalam tas, Andi membisikkan sebuah doa yang hangat di relung hatinya. Ia tidak lagi sekadar meminta pekerjaan.

“Ya Rabb, Sang Maha Pemberi Rezeki. Mudahkanlah langkah hamba hari ini untuk menjemput rezeki-Mu yang halal. Kuatkan pundak hamba agar kelak pantas menjadi seorang imam. Dan jika memang Eta adalah tulang rusuk hamba... mudahkanlah hamba mendapatkan pekerjaan ini, agar hamba bisa segera melamarnya, dan membimbingnya kembali mengenakan mahkota kehormatannya sebagai seorang muslimah sejati.”

Dengan langkah mantap, Andi membuka pintu rumah. Deru mesin kendaraannya membelah jalanan kota yang mulai padat. Hatinya kini jauh lebih ringan. Ia menyerahkan urusan cinta dan rezekinya kepada Sang Pemilik Skenario, sementara ia akan berjuang habis-habisan di medan ikhtiar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image