Kenapa Beribadah Tapi Masih Cemas? Mungkin Pemahaman Tawakal Anda Keliru
Agama | 2026-06-21 09:02:16
"Ketenangan jiwa bukan lahir dari hilangnya masalah, melainkan dari kedalaman penghayatan saat kita menyeimbangkan usaha dan penyerahan diri(Foto: Pexels/ Marshall Hembram) ".
Pernah nggak sih kamu merasa capek banget sama hidup, terus tiba-tiba bilang, "Ya sudah lah, ini memang sudah takdir," sambil rebahan tanpa melakukan apa-apa? Atau sebaliknya, kamu jadi orang yang super ambisius, kerja sampai lupa napas, tapi malah dihantui rasa cemas karena takut hasilnya nggak sesuai ekspektasi?
Dua sikap ekstrem ini sebenarnya bukan tanda orang yang beragama banget, melainkan sinyal bahwa pemahaman kita tentang takdir, ikhtiar, dan tawakal lagi "sakit". Ironisnya, pemahaman yang bengkok ini justru jadi pemicu stres yang bikin kesehatan mental kita berantakan.
Takdir Bukan "Jalan Buntu"
Banyak orang salah kaprah menganggap takdir itu seperti skenario film yang sudah dikunci mati dan kita tinggal duduk manis menonton hasilnya. Padahal, ulama membedakan takdir menjadi dua: yang mutlak (seperti kematian) dan yang masih bisa "dikejar" lewat usaha serta doa.
Ini artinya, kita bukan cuma figuran. Tuhan sendiri sudah memberi sinyal lewat Al-Qur’an bahwa Dia nggak akan mengubah nasib suatu kaum kalau mereka sendiri nggak punya inisiatif buat berubah. Jadi, ikhtiar itu bukan perlawanan terhadap takdir, tapi justru cara kita menjemput takdir terbaik.
"Ikat Dulu Untanya," Baru Tawakal
"Ikhtiar adalah cara kita menjemput takdir terbaik; ibarat mengikat unta, usaha maksimal adalah bentuk penghambaan yang jujur sebelum kita bertawakal( Foto: Pexels/ Ronny Ronda Danariawan) ".
Saya sering mendengar orang bilang tawakal itu cukup dengan "menyerahkan semua ke Tuhan" tanpa berbuat apa-apa. Padahal, ada nasihat ikonik Nabi Muhammad SAW yang menegur orang yang membiarkan untanya lepas dengan alasan tawakal. Beliau menegaskan: "Ikatlah dulu, baru bertawakal".
Secara psikologis, tawakal itu bukan pasrah buta, tapi "penyerahan aktif". Bayangkan seperti ini: setelah kamu berjuang habis-habisan (ikhtiar), kamu menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Inilah yang di dunia psikologi mirip dengan konsep acceptance, di mana kamu berhenti membebani diri dengan hal-hal yang di luar kendalimu. Hasilnya? Pikiran jadi jauh lebih tenang.
Kenapa Kombinasi Ini Bikin Kita Lebih "Sakti"?
"Tawakal berfungsi sebagai mekanisme koping yang menumbuhkan resiliensi; membuat kita tetap lentur dan tegak berdiri meski dihadapkan pada ketidakpastian hidup( Foto: Pexels/ Luca)".
Berdasarkan kajian terbaru, mengintegrasikan ikhtiar dan tawakal itu punya efek luar biasa bagi jiwa kita:
- Cara pandang yang baru: Kita jadi nggak gampang menyalahkan diri sendiri saat gagal. Kegagalan cuma dianggap bagian dari proses, bukan hukuman mati.
- Emosi jadi stabil: Rasa syukur dan sabar jadi "tameng" biar kita nggak gampang depresi saat keadaan nggak sesuai rencana.
- Lebih tangguh (Resiliensi): Orang yang paham tawakal punya "daya lentur" yang kuat. Mau ada bencana atau masalah hidup, mereka lebih cepat bangkit karena percaya ada hikmah di balik itu semua.
Jadi, Gimana Cara Praktisnya?
Kuncinya bukan seberapa sering kamu bilang "tawakal" di media sosial, tapi seberapa dalam kamu menghayati konsep itu.
Mulai hari ini, coba deh: setiap kali mau kerja atau belajar, niatkan sebagai ibadah supaya prosesnya tetap bermakna meski hasilnya nanti nggak sesuai target. Lalu, setelah tenaga kamu habis buat berikhtiar, lepaskan keterikatan pada hasil. Percaya deh, ketika kamu sudah melakukan bagianmu dan menyerahkan sisanya pada "sutradara" hidup yang paling tahu segalanya, di situlah ketenangan sejati bakal muncul.
Bagaimana denganmu? Apakah selama ini kamu merasa sudah cukup "mengikat unta" dalam setiap urusanmu, atau masih sering terjebak dalam rasa cemas yang nggak perlu? Mari diskusi di kolom komentar!
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
