Menggugat Kapitalisme dari Pinggiran: Ketika Sastra Australia Menolak Bungkem
Sastra | 2026-08-05 09:57:45
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Di tengah gempuran ideologi pasar bebas yang mengukur segala hal dengan angka dan profit, masihkah ada ruang bagi imajinasi kemanusiaan? Dalam bukunya yang monumental, Contemporary Australian Literature: A World Not Yet Dead (2015), kritikus sastra asal Amerika Serikat, Nicholas Birns, memberikan jawaban yang tegas bahwa dunia itu belum mati. Lewat bedah kritis yang tajam namun ditulis dengan gaya yang memikat, Birns mengajak kita melintasi peta kesusastraan Benua Kanguru dari era pertengahan abad ke-20 hingga dekade 2010-an.
Kesimpulan utamanya sungguh provokatif: sastra Australia modern bukan sekadar hiasan rak buku, melainkan sebuah medan perlawanan terhadap paham neoliberalisme—sebuah sistem nilai yang secara kejam membagi umat manusia hanya ke dalam dua kategori, yaitu pemenang (winner) dan pecundang (loser).
Birns membuka narasinya dengan sebuah pengakuan personal. Pada tahun 1985, di tengah kekecewaannya terhadap era Presiden Ronald Reagan di AS yang dinilainya dingin dan individualistis, ia berpaling pada karya-karya sastra Australia. Kala itu, Australia terlihat sebagai tempat yang lebih hangat, egaliter, dan menjunjung tinggi keadilan sosial. Namun, dunia berubah pesat. Memasuki era 1990-an dan 2000-an, arus globalisasi dan neoliberalisme merangsek ke Australia.
Dunia industri penerbitan dan ruang publik mulai didominasi oleh logika meritokrasi ekstrem. Jika Anda sukses secara finansial, Anda dianggap mulia; jika Anda gagal, Anda dicap sebagai pecundang yang pantas disingkirkan. Di sinilah para novelis dan penyair Australia mengambil peran penting. Novel-novel Australia tidak menerima pembagian hitam-putih ini begitu saja. Para penulisnya justru memberikan ruang bagi mereka yang kalah, yang terpinggirkan, dan yang tak terdengar suaranya, untuk menunjukkan bahwa nilai seorang manusia jauh lebih berharga daripada saldo rekening banknya.
Dalam menelusuri akar perlawanan ini, Birns membagi perkembangan sastra Australia ke dalam beberapa fase penting. Pada fase awal, Christina Stead digambarkan sebagai raksasa sastra yang mampu membaca bahaya otoritarianisme melalui karya klasik seperti The Man Who Loved Children dan Letty Fox: Her Luck. Karakter Sam Pollit—seorang ayah yang manipulatif dan merasa paling benar—bukan sekadar sosok patriark lokal, melainkan cerminan dari kecenderungan totalitarianisme global yang mengontrol kehidupan pribadi warga negara. Memasuki era akhir modernitas (late modernity) pada 1950-an dan 1960-an,
Elizabeth Harrower mengeksplorasi kehidupan karakter-karakter perempuan yang terkekang dalam ruang-ruang domestik yang sepi, seperti dalam novel The Watch Tower dan The Long Prospect. Harrower menggambarkan bagaimana masyarakat pasca-perang yang kaku dan birokratis sering kali menindas "manusia-manusia berukuran sedang" (medium-sized mortals). Namun, di balik ketertindasan itu, karakter-karakter Harrower mempertahankan martabat moral mereka—mereka adalah para pecundang yang sejatinya menang secara spiritual.
Salah satu titik balik sejarah terpenting dalam sastra Australia adalah pengakuan hak atas tanah bagi penduduk asli Aborigin melalui Keputusan Mabo pada 1992. Mabo meruntuhkan mitos terra nullius (tanah kosong milik tak seorang pun) yang selama ratusan tahun dipakai oleh kolonial Inggris. Novelis Aborigin seperti Alexis Wright (lewat novel monumental Carpentaria dan The Swan Book) kini menjadi suar utama. Karya-karya mereka menghadirkan lanskap yang kaya, dalam, dan spiritual, yang secara radikal menentang pengerukan alam oleh perusahaan-perusahaan tambang multinasional.
Untuk melawan narasi dominan pasar bebas, para penulis kontemporer menghadirkan tiga afek atau gelombang emosi utama dalam novel dan puisi Australia modern. Gelombang pertama adalah Rancour (rasa jengkel atau dendam sosial), yaitu penolakan untuk bersikap ramah di hadapan ketidakadilan.
Penulis seperti Christos Tsiolkas—yang melejit lewat novel The Slap dan Barracuda—dengan telanjang memperlihatkan gesekan kelas, ras, dan seksualitas di Australia modern. Dalam Barracuda, ketika karakter utamanya dicap sebagai "fucking loser" karena gagal menjadi atlet renang Olimpiade, Tsiolkas sedang membedah betapa beracunnya kultur persaingan di sekolah-sekolah elite dan masyarakat modern. Hal serupa terlihat dalam puisi-puisi tajam Ouyang Yu dan John Kinsella yang menolak konformitas.
Gelombang kedua adalah Idealism (idealisme arsitektur dan mobilitas), yang hadir lewat pencarian akan keindahan dan ruang hidup yang lebih manusiawi. Penulis seperti Frank Moorhouse (lewat trilogi Grand Days-nya) atau Shirley Hazzard mengeksplorasi cita-cita internasionalisme, arsitektur, dan hubungan antar-manusia yang melampaui batas negara, mencari tatanan dunia yang lebih adil di tengah reruntuhan perang dan birokrasi global.
Gelombang ketiga adalah Concern (kepedulian dan empati). Di tengah sistem neoliberal yang mengajarkan sikap acuh tak acuh, emosi yang paling radikal adalah kepedulian. Dalam novel Eyrie karya Tim Winton, karakter Tom Keely—seorang mantan aktivis lingkungan yang hancur dan apatis—akhirnya memilih untuk bangkit dan merawat seorang anak kecil yang terancam bahaya. Merawat orang lain (caring for others) di tengah dunia yang egois adalah tindakan perlawanan paling nyata. Hal ini juga terlihat jelas dalam novel karya Richard Flanagan, The Narrow Road to the Deep North (pemenang Man Booker Prize 2014), di mana rasa empati di antara para tawanan perang Australia di jalur kereta maut Burma menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan kemanusiaan.
Di samping itu, Birns mengulas tentang bagaimana sastra Australia dikonsumsi oleh pasar internasional. Ada mitos bahwa buku Australia yang sukses di luar negeri haruslah novel-novel tebal bernuansa epik (total novel) yang menceritakan seluruh lanskap benua. Namun, Birns menunjukkan fenomena sebaliknya. Novel-novel berukuran sedang atau pendek (récit) yang mengusung gaya estetika tajam, jujur, dan berani—seperti karya David Malouf, Delia Falconer, hingga J.M. Coetzee—justru lebih ampuh dalam menyampaikan kebenaran psikologis dan politik.
Melalui buku Contemporary Australian Literature ini, Nicholas Birns tidak sedang menulis pemakaman bagi sastra. Sebaliknya, ia memberikan sebuah penghormatan yang bergelora. Australia mungkin telah berubah menjadi negara kapitalis modern yang tak luput dari masalah rasialisme, ketimpangan ekonomi, dan isu pengungsi. Namun, melalui pena para penulisnya, jiwa dari "republik yang demokratis dan egaliter" itu terus dipertahankan. Buku ini mengingatkan kita semua, para pembaca di seluruh dunia, bahwa selama sastra masih berani menyuarakan rasa sakit para pecundang, memperjuangkan empati, dan menolak tunduk pada berhala uang, maka dunia kita belum sepenuhnya mati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
