Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agus Budiana

AI dan Filosofi Kemanusiaan Ketika Mesin Mulai Bertanya Siapa Kita

Teknologi | 2026-08-04 07:40:45
Ilustrasi AI dan Filosofi manusia ( Generated AI)

Suatu pagi, saya membuka ponsel dan mendapati chatbot AI sudah lebih dulu menyusun jadwal rapat, merangkum email semalam, bahkan menyarankan kalimat pembuka untuk pesan ke atasan. Semua terasa ringan, nyaris tanpa jeda berpikir. Tapi di titik itulah pertanyaan lama muncul dengan wajah baru: kalau mesin bisa berpikir, merasa "tahu" apa yang saya mau, lalu apa yang tersisa dari manusia?

Pertanyaan ini bukan sekadar wacana kampus filsafat. Ia hadir setiap kali kita mengetik prompt, setiap kali Google Maps memilih rute untuk kita, setiap kali algoritma media sosial memutuskan berita apa yang layak kita baca duluan. AI hari ini bukan lagi sekadar alat, ia mulai menjadi mitra bahkan wasit diam-diam dalam banyak keputusan hidup kita.

Ketika Kecerdasan Buatan Menggeser Kendali Manusia

Kita terbiasa menganggap teknologi sebagai perpanjangan tangan manusia: pisau memperpanjang kuku, mobil memperpanjang kaki, komputer memperpanjang hitungan otak. Tapi AI generatif dan model bahasa besar tidak berhenti di situ. Ia belajar, berubah, dan pada titik tertentu mengambil keputusan yang bahkan penciptanya sendiri tidak bisa tebak sepenuhnya.

Sejarawan sekaligus filsuf Israel, Yuval Noah Harari, pernah mengingatkan bahwa AI berbeda dari segala alat yang pernah dibuat manusia sebelumnya karena ia dapat belajar, berubah, dan mengambil keputusannya sendiri, layaknya sebuah pisau yang tiba-tiba bisa memilih sendiri apakah mau memotong sayuran atau tidak.

Dalam keseharian, ini terasa sederhana: kita mengetik alamat di aplikasi peta, lalu tanpa sadar menyerahkan otoritas menentukan jalan pulang pada algoritma. Ambil contoh remeh seperti Google Maps atau Waze, kata Harari di satu sisi kemampuan manusia diperkuat karena kita sampai tujuan lebih cepat, tapi di sisi lain otoritas menentukan arah sudah bergeser ke algoritma, sementara kemampuan kita sendiri untuk menemukan jalan perlahan menghilang.

Fenomena kecil ini adalah miniatur dari persoalan besar: setiap kali kita menyerahkan keputusan pada mesin demi efisiensi, sedikit demi sedikit kita juga menyerahkan otot berpikir yang dulu kita latih sendiri.

Cermin yang Memantulkan, Bukan Menciptakan, Manusia

Ironisnya, semakin canggih AI, semakin ia hanya menjadi cermin dari diri kita sendiri, bukan sosok baru yang lebih bijak. Filsuf teknologi Shannon Vallor dari University of Edinburgh, yang bertahun-tahun meneliti etika kecerdasan buatan, menggambarkan AI sebagai cermin bagi manusia, bukan cermin tentang siapa kita seharusnya atau bisa menjadi, melainkan cermin tentang siapa kita sesungguhnya selama ini dan karena itulah kita tidak boleh membiarkan perkakas AI hari ini yang menentukan akan menjadi siapa kita kelak. Renungan ini terasa dekat ketika kita melihat bagaimana algoritma rekomendasi di media sosial justru memperbesar bias, prasangka, dan kebiasaan buruk yang sudah lama ada di masyarakat kita, hanya dengan kecepatan dan skala yang jauh lebih besar.

AI tidak menciptakan kebencian, polarisasi, atau kecanduan gawai dari nol ia hanya memoles dan mempercepat sisi-sisi manusia yang memang sudah rapuh. Vallor menekankan pentingnya menumbuhkan apa yang ia sebut kebajikan-teknomoral, semacam kesadaran dan disiplin batin baru yang dibutuhkan agar manusia tidak sekadar diseret arus perubahan teknologi, melainkan tetap memegang kemudi arah hidupnya sendiri.

Di sinilah filsafat kembali relevan: bukan untuk menolak AI, tapi untuk menata ulang karakter kita sendiri di hadapannya.

Merancang Mesin yang Tunduk pada Nilai Manusia

Pertanyaan berikutnya yang tidak kalah mendesak: kalau AI makin pintar, siapa yang menjamin ia tetap berpihak pada kepentingan manusia, bukan pada tujuannya sendiri yang sempit dan kaku?

Ilmuwan komputer Stuart Russell dari University of California, Berkeley, mengusulkan agar mesin cerdas dirancang dengan tiga prinsip dasar satu-satunya tujuan AI adalah mewujudkan sebesar mungkin nilai dan preferensi manusia, AI tersebut pada dasarnya tidak yakin betul apa isi nilai dan preferensi itu, dan sumber informasi terbaik tentang nilai manusia adalah perilaku manusia itu sendiri.

Dengan kata lain, mesin yang baik justru harus rendah hati, ragu-ragu, dan selalu bersedia dikoreksi oleh manusia, bukan mesin yang percaya diri penuh menjalankan satu tujuan sempit tanpa bisa dihentikan. Prinsip ini sebetulnya sangat manusiawi kalau kita renungkan kita pun ingin dipimpin oleh orang yang mau mendengar, bukan yang merasa paling benar sendiri.

Dalam keseharian, gagasan ini relevan ketika kita memakai asisten AI untuk menulis surat lamaran kerja, membuat keputusan finansial, atau bahkan sekadar memilih tontonan sejauh mana kita membiarkan sistem itu "menebak" keinginan kita, dan sejauh mana kita tetap menjaga hak untuk berubah pikiran, adalah cerminan dari filosofi kontrol yang digagas Russell.

Menemukan Kembali Makna di Tengah Efisiensi

Persoalan AI dan kemanusiaan bukan sekadar soal seberapa canggih mesin, melainkan seberapa sadar kita menjaga ruang untuk tetap menjadi manusia: ruang untuk bingung, mencoba, gagal, dan menemukan makna lewat proses yang tidak instan.

Ketika AI menjawab semua pertanyaan kita dalam hitungan detik, ketika algoritma menyusun rencana hidup kita lebih rapi dari yang bisa kita susun sendiri, ada godaan besar untuk berhenti berpikir, berhenti bertanya, berhenti tersesat padahal justru dari kesesatan dan pergulatan itulah karakter dan kearifan manusia biasanya tumbuh.

Filsafat kemanusiaan di era AI bukan tentang menolak kemajuan, melainkan tentang memastikan bahwa kemajuan itu tetap melayani manusia yang utuh, yang berpikir, meragu, dan memilih dengan sadar, bukan manusia yang diam-diam kehilangan kemudi karena keasyikan dilayani.

Agus Budiana, adalah jurnalis, penulis dan pemerhati komunikasi digital. Karyanya dimuat di berbagai plaform media nasional dan mengangkat isu jurnalisme, media, AI, literasi digital, serta dinamika masyarakat informasi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image