Ketika Diam Menjadi Bahasa Anak Muda
Lomba | 2026-07-30 19:01:29
Ada satu kalimat yang mungkin terlalu sering kita dengar dari teman, adik, atau bahkan diri sendiri: "Aku nggak apa-apa, cuma capek aja." Kalimat pendek itu terdengar sepele, tapi sering menjadi tirai yang menutupi sesuatu yang jauh lebih berat: kecemasan yang dipendam, rasa lelah emosional yang menumpuk, atau bahkan gejala gangguan mental yang tidak pernah diakui karena takut merepotkan orang lain, atau takut dianggap berlebihan.
Saya sendiri pernah berada di titik itu. Ada masa ketika dada terasa sesak tanpa sebab yang jelas, pikiran terus berputar memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, dan tidur pun terasa tidak pernah cukup untuk memulihkan energi. Selama beberapa waktu, saya menjawab pertanyaan "kamu kenapa?" dengan jawaban yang sama seperti kebanyakan orang: "cuma capek aja kok". Sampai akhirnya saya memutuskan untuk konsultasi lewat Halodoc, sekadar mencoba, tanpa ekspektasi apa-apa. Dari sanalah saya mendapat diagnosis anxiety disorder unspecified dari psikolog yang menangani. Rasanya campur aduk: ada lega karena akhirnya tahu apa yang sebenarnya sedang saya rasakan, tapi juga ada rasa canggung untuk mengakuinya secara terbuka, bahkan kepada orang-orang terdekat.
Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal penting: mencari bantuan tidak butuh momen "cukup parah" untuk dianggap layak. Justru semakin cepat kita mengenali dan mengakui apa yang sedang dirasakan, semakin ringan pula prosesnya untuk pulih.
Barangkali kepekaan saya terhadap isu ini juga tidak lepas dari latar belakang keluarga. Orang tua saya berpisah ketika saya berusia 2,5 tahun, dan saya tumbuh besar tanpa figur ayah dan ibu yang utuh di sisi saya. Saya tidak bermaksud menyederhanakan alasan perpisahan orang tua saya, karena setiap keluarga punya dinamikanya sendiri yang rumit. Namun yang saya pahami sekarang, setelah dewasa dan mengalami sendiri persoalan kesehatan mental, adalah bahwa kondisi keluarga yang tidak utuh sejak usia dini bisa meninggalkan jejak emosional yang panjang, meski sering kali tidak terlihat dari luar. Bertahun-tahun kemudian, saya sendiri didiagnosis mengalami gangguan kecemasan. Boleh jadi ini bukan kebetulan, melainkan gambaran nyata bagaimana luka masa kecil yang tidak pernah benar-benar diproses bisa terus terbawa hingga dewasa, jika tidak dikenali dan ditangani sejak awal.
Itu bukan kasus tunggal. Ia adalah potret kecil dari persoalan yang jauh lebih besar dan sedang terjadi pada jutaan anak muda Indonesia saat ini: krisis kesehatan mental yang berjalan senyap, tertutup oleh kalimat-kalimat singkat seperti "aku cuma capek aja". Padahal, sebuah bangsa tidak akan pernah benar-benar kuat jika generasi penerusnya tumbuh dengan pikiran yang lelah, cemas, dan terbiasa memendam semuanya sendirian.
Fakta yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan
Data berbicara jauh lebih keras daripada asumsi. Survei nasional pertama mengenai kesehatan jiwa remaja di Indonesia, Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), mengungkap bahwa satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun, atau setara 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Satu dari dua puluh remaja bahkan sudah didiagnosis mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan serius. Kecemasan tercatat sebagai keluhan paling umum, dengan prevalensi lebih tinggi pada remaja perempuan dibandingkan laki-laki.
Yang lebih memprihatinkan, dari jutaan remaja yang mengalami masalah kesehatan mental tersebut, hanya sekitar 2,6 persen yang benar-benar mengakses layanan konseling atau fasilitas kesehatan jiwa. Artinya, sebagian besar dari mereka memendam sendiri persoalan yang sesungguhnya bisa ditangani, hanya karena stigma, minimnya akses, atau ketidaktahuan bahwa bantuan itu ada dan boleh dicari.
Temuan terbaru dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 yang digagas Kementerian Kesehatan turut memperkuat gambaran ini. Dari sekitar tujuh juta anak yang telah menjalani skrining, hampir sepuluh persen menunjukkan gejala kecemasan dan depresi. Ini bukan lagi persoalan pribadi segelintir anak, melainkan fenomena struktural yang menyentuh jutaan anak dan remaja Indonesia secara bersamaan.
Dunia Digital: Ruang Ekspresi Sekaligus Sumber Tekanan Baru
Salah satu faktor yang tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini adalah dunia digital. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat bahwa sembilan dari sepuluh remaja usia 13–19 tahun aktif menggunakan media sosial setiap hari, dengan durasi rata-rata hampir enam jam. Media sosial memang membuka ruang ekspresi, informasi, dan koneksi sosial yang luas. Namun di sisi lain, paparan konstan terhadap kehidupan orang lain yang tampak "sempurna", budaya perbandingan diri, hingga perundungan siber, menjadikan ruang digital sebagai salah satu sumber tekanan emosional baru bagi generasi muda.
Generasi yang tumbuh dengan gawai di tangan ini kerap dicap sebagai "generasi stroberi", mudah rapuh dan kurang tahan banting. Namun label semacam ini justru menyederhanakan persoalan yang sebenarnya jauh lebih kompleks. Yang mereka hadapi bukan sekadar kurangnya ketahanan mental, melainkan akumulasi tekanan akademik, ekonomi, sosial, dan digital yang belum pernah dialami generasi sebelumnya dalam intensitas yang sama.
Mengapa Ini Urusan Bangsa, Bukan Sekadar Urusan Pribadi
Di sinilah letak relevansi tema besar "Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat". Kekuatan sebuah bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, dan sumber daya manusia yang unggul tidak mungkin lahir dari generasi yang terus-menerus bergulat dengan kecemasan tanpa dukungan yang memadai. Ketika satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental namun hanya segelintir yang mendapat penanganan, itu berarti ada potensi besar bangsa yang berisiko tidak berkembang secara optimal, baik dalam pendidikan, produktivitas, maupun kontribusi sosial di masa depan.
Isu ini juga tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan penguatan Program Jaminan Kesehatan Nasional yang terus mendorong upaya promotif dan preventif, termasuk skrining kesehatan jiwa yang kini mulai menjangkau jutaan anak melalui layanan kesehatan primer. Langkah ini patut diapresiasi, namun skrining saja tidak cukup jika tidak diikuti oleh keberanian keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial untuk merespons hasilnya dengan tepat.
Apa yang Bisa Dilakukan, Mulai dari Sekarang
Pertama, keluarga perlu menjadi ruang aman pertama. Banyak remaja tidak bercerita bukan karena tidak ingin, melainkan karena khawatir dihakimi atau dianggap berlebihan. Membuka ruang dialog tanpa menghakimi adalah langkah sederhana namun berdampak besar.
Kedua, sekolah dan kampus perlu memperkuat peran layanan bimbingan konseling, bukan sekadar sebagai tempat mengurus masalah disiplin, melainkan sebagai ruang dukungan psikologis yang mudah diakses dan bebas stigma.
Ketiga, literasi digital sehat perlu ditanamkan sejak dini, termasuk kemampuan mengenali kapan harus membatasi paparan media sosial dan bagaimana menyaring konten yang memicu perbandingan diri berlebihan.
Keempat, dan ini yang paling konkret dan bisa langsung dilakukan hari ini juga: manfaatkan layanan Healing119.id milik Kementerian Kesehatan. Layanan ini gratis, bisa diakses 24 jam, dan menyediakan konsultasi dengan konselor terlatih melalui chat teks maupun panggilan suara tanpa perlu registrasi rumit, cukup buka situs www.healing119.id atau menghubungi 119 ekstensi 8. Seperti yang saya alami sendiri lewat konsultasi daring, langkah kecil semacam ini bisa menjadi pintu masuk pertama untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan, jauh sebelum semuanya menjadi lebih berat.
Kelima, dan tidak kalah penting, masyarakat luas perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental itu sendiri. Selama gangguan jiwa masih dianggap tabu untuk dibicarakan, selama itu pula jutaan anak muda akan terus memilih diam.
Menutup dengan Harapan
Indonesia yang kuat bukan hanya Indonesia dengan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau prestasi olahraga yang membanggakan, melainkan Indonesia yang generasi mudanya tumbuh dengan pikiran yang tenang, hati yang didengar, dan akses bantuan yang terbuka lebar saat mereka membutuhkannya. Momentum peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati juga berarti bebas dari beban psikologis yang dipendam sendirian.
Membangun bangsa yang kuat dimulai dari hal yang tampak kecil: menanyakan kabar dengan tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memastikan tidak ada anak muda yang merasa harus berjuang sendirian. Karena pada akhirnya, masyarakat yang sehat, baik secara fisik maupun mental, adalah fondasi paling nyata dari Indonesia yang kuat.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombakesehatanKomdigi2026 #HUT81RI
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
