Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Belajar Biologi di Tengah Keterbatasan Laboratorium

Eduaksi | 2026-07-28 07:56:01

Saya masih mengingat jelas raut wajah seorang siswa SMA ketika untuk pertama kalinya melihat gumpalan serabut putih hasil isolasi DNA dari buah stroberi mengambang di dalam tabung reaksi. Ia hampir tidak percaya bahwa DNA, yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar heliks berwarna-warni di buku pelajaran, ternyata dapat diamati secara langsung melalui percobaan sederhana.

Momen seperti itu terlihat kecil, tetapi justru sering hilang dari pembelajaran biologi di banyak sekolah.Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dengan guru biologi SMA, saya cukup sering mendengar persoalan yang sama: keterbatasan alat dan bahan laboratorium. Sebuah sekolah mungkin hanya memiliki tiga atau empat mikroskop untuk digunakan oleh satu kelas yang terdiri atas 30 hingga 40 siswa. Bahan kimia dasar pun terkadang baru dapat dibeli setelah menunggu ketersediaan anggaran.

Bagi sekolah yang berada jauh dari kota besar, memiliki laboratorium IPA dengan peralatan lengkap tentu bukan perkara mudah. Akibatnya, sebagian guru terpaksa memilih metode yang paling memungkinkan, yaitu menjelaskan materi melalui ceramah, gambar dalam buku, atau video praktikum. Siswa akhirnya lebih banyak menyaksikan percobaan daripada melakukannya sendiri.

Padahal, biologi merupakan ilmu yang tumbuh melalui kegiatan mengamati, membandingkan, mencoba, dan menarik kesimpulan dari berbagai fenomena kehidupan. Siswa yang hanya menghafal istilah seperti mitokondria, fotosintesis, sel, jaringan, atau DNA tanpa pernah mengamati objek dan prosesnya secara langsung akan lebih sulit membangun pemahaman yang mendalam.

Sebaliknya, pengalaman sederhana, seperti mengamati sel di bawah mikroskop atau melihat DNA mengendap di dalam tabung reaksi, dapat meninggalkan kesan yang kuat. Pengalaman tersebut tidak hanya membantu siswa memahami pelajaran, tetapi juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap sains. Bagi sebagian siswa, satu kegiatan praktikum bahkan dapat menjadi titik awal untuk memilih pendidikan dan karier di bidang sains pada masa mendatang.

Berangkat dari persoalan tersebut, saya bersama rekan sejawat, Dr. M. Idris, menyusun buku panduan berjudul Biologi dan Bioteknologi Dasar: Dari Mikroskop hingga DNA dengan ISBN 978-634-7036-77-3. Buku ini tidak kami susun sebagai tambahan buku teori, melainkan sebagai buku kerja yang berisi tahapan praktikum yang dapat digunakan oleh guru dan siswa.Setiap kegiatan dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan serta alternatif penyesuaian bagi sekolah yang memiliki keterbatasan sarana. Tujuannya adalah agar kegiatan praktikum tetap dapat berlangsung tanpa harus selalu bergantung pada peralatan laboratorium yang mahal.

Buku tersebut memuat modul pengenalan alat dan keselamatan kerja di laboratorium, latihan menggunakan mikroskop cahaya, pengenalan anatomi hewan sebagai dasar memahami struktur dan fungsi tubuh, pengenalan kultur jaringan tumbuhan sederhana, produksi microgreens dengan memanfaatkan sumber cahaya yang tersedia, serta isolasi DNA menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh.

Dalam praktikum isolasi DNA, misalnya, guru dan siswa dapat menggunakan buah stroberi, sabun pencuci piring, garam dapur, dan alkohol dingin. Melalui tahapan sederhana tersebut, siswa dapat mengamati endapan DNA yang tampak seperti serabut berwarna putih. Konsep yang sebelumnya terasa abstrak pun menjadi lebih nyata dan lebih mudah dipahami.

Modul-modul di dalam buku sengaja dirancang agar dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengenalan kultur jaringan tumbuhan, misalnya, selama ini sering dianggap hanya dapat dilakukan di laboratorium modern dengan fasilitas steril yang mahal. Padahal, untuk tujuan pembelajaran dasar, guru dapat memperkenalkan prinsip-prinsipnya menggunakan peralatan sederhana dengan tetap memperhatikan kebersihan, sterilitas, keselamatan kerja, dan keterbatasan metode.

Ruang kerja sederhana dapat dimodifikasi dari kotak plastik transparan, sedangkan beberapa bahan media dapat diperkenalkan melalui bahan yang relatif mudah diperoleh, seperti air kelapa dan sumber vitamin. Kegiatan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menggantikan laboratorium kultur jaringan yang memenuhi standar, melainkan sebagai sarana bagi siswa untuk memahami prinsip dasar pertumbuhan jaringan tumbuhan secara aseptik.

Saya percaya bahwa mutu pendidikan sains tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan peralatan. Mutu pembelajaran juga ditentukan oleh kemampuan guru menghidupkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian siswa untuk mencoba.

Sekolah memang membutuhkan dukungan fasilitas laboratorium yang lebih baik. Namun, keterbatasan alat seharusnya tidak sepenuhnya menghilangkan kesempatan siswa untuk mengalami proses ilmiah. Sebuah percobaan sederhana yang dilakukan dengan tangan sendiri sering kali lebih membekas dalam ingatan dibandingkan seratus halaman teori yang hanya dibaca dan dihafalkan.

Ketika tiga mikroskop harus digunakan oleh 40 siswa, persoalan yang dihadapi bukan sekadar kurangnya alat. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan setiap siswa tetap memperoleh kesempatan untuk mengamati, bertanya, mencoba, dan menemukan jawabannya sendiri.

Bagi guru SMA yang ingin menggunakan buku ini sebagai salah satu bahan pendukung pembelajaran atau berbagi pengalaman mengenai pelaksanaan praktikum sederhana di sekolah (akan diberikan gratis), diskusi dapat dilakukan melalui alamat surel ritamaliza@sci.unand.ac.id.Semoga semangat memperkenalkan sains melalui pengalaman langsung tetap dapat tumbuh, seberapa pun terbatasnya alat yang tersedia saat ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image