Korupsi Hanya Settingan
Agama | 2026-07-27 21:43:44
Sesak rasanya dada setiap kali berita melintas di layar kaca. Rompi orange seakan bukanlah simbol penyesalan, apalagi ketika masih terlihat dengan jelas senyum simpul dibalik bejatnya moral orang-orang yang katanya diberi Amanah rakyat.
Setiap saat kita dipaksa menahan antara harus sabar ataukah marah, semua bercampur aduk hidup di Negeri yang katanya Zambrud Khatulistiwa.
Bersabar karena itu adalah perintah Allah, marah karena kita ini masih manusia, bukanlah kebo yang setiap saat bisa dibodohi. Lalu, ketika ditanya, mau sampai kapan? Jawaban yang paling sering muncul, sabar itu tak memiliki batas. Kalau sudah marah itu sama saja dengan tidak sabar. Dan jika tidak sabar, artinya kita telah berdosa. Bukankah kalau begitu menjadi kebo seakan lebih baik dari pada dijadikan manusia di bumi pertiwi, tetapi, disiksa hati dan pikiran kita setiap detiknya.
Sebuah pertanyaan kemudian muncul, jangan-jangan ini semua ini hanya settingan. Ketika ada tuduhan seperti ini, biasanya semua akan mengatakan, "ini konspirasi".
Bagaimana jikalau yang membuat konspirasi itu adalah yang menciptakan manusia? Bukan kah Allah berfirman " Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar Rum : 41)
Para Ahli tafsir mengkategorikan kerusakan ini tidak hanya pada kerusakan keseimbangan alam akibat ekploitasi membabi buta tanpa bimbingan syari'at, tetapi juga berkenaan dengan kerusakan Sosial yang jauh lebih dahsyat dibandingkan bencana alam, contohnya korupsi.
Apabila bencana alam hanya merusak sebagian besar wilayah, menghancurkan bagunan, merenggut sebagian nyawa. Maka saksikanlah dampak dari korupsi yang dilakukan para Pejabat bejat itu, rakyat dipaksa kerja keras sampai tersisa tulang berbalut kulit agar bisa bayar pajak, kemudian pajaknya mereka korupsi. Ini sama saja dengan pembunuhan masal, membiarkan rakyat mati perlahan dalam kesengsaraan tak berhujung ditengah rimba raya kekayaan Alam yang melimpah ruah. Tapi apa daya semua itu telah dilacurkan kepada para Pemilik modal asing dan aseng yang tak kan pernah puas.
Tetapi yakinlah, ketika semua takdir yang tengah terjadi ini menimpa kita, Allah sesungguhnya tengah menyiapkan hadiah terbaik bagi meraka yang tidak hanya mencukupkan diri dengan sabar, tetapi juga berikhtiar agar manusia mau kembali diatur dengan aturan Sang Pencipta, setelah sekian dekade mencicipi pahitnya hidup diatur dengan aturan sesama manusia, yang hanya menghasilkan derita demi derita.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
