Menjadi Guru Pkn yang Mencerahkan dan Membuka Cakrawala Pikiran
Sastra | 2026-07-23 18:45:03
Jurusan Pendidikan Pancasila tidak pernah ada dalam bayangan anak-anak SMA. Saya berani jamin jika dilakukan survei setelah lulus mereka akan kuliah jurusan apa, bidang studi PKn nyaris tak muncul dalam list tersebut. Kebanyakan dari mereka akan memilih jurusan-jurusan seperti Kedokteran, Hukum, Ekonomi, Managemen, Teknik, serta program studi mentereng lainnya. Hal tersebut tidak salah saya pun dulu sempat mendambakan masuk jurusan keren di salah satu universitas ternama. Inisial UGM.
Hingga akhirnya nasib dan takdir membawa saya ke jurusan ini, prodi Pendidikan Pancasila dibawah naungan Fakultas Ilmu Sosial UNY. Suka tidak suka output paling realitis dari jurusan ini adalah menjadi guru Pendidikan Pancasila untuk jenjang SMP maupun SMA.
Saya lalu mengingat guru PKn saya sepanjang SMP sampai SMA. Jujur saja saya tidak begitu menggemari pelajaran PKn kecuali pada materi-materi tertentu. Perhatian saya tercurah di mata pelajaran lain seperti Sastra, Sejarah, dan Akidah Akhlak. Terdapat banyak alasan mengapa saya tidak terlalu mendalami pelajaran PKn salah satunya karena saya tidak terlalu suka politik dan hukum. Kala itu minat baca saya memang tidak berkutat pada kedua bidang tersebut. Akan tetapi begitu masuk ke materi yang lumayan filosofis seperti ideologi-ideologi, konsep demokrasi dan sejarah reformasi. Gairah belajar saya tiba-tiba membuncah.
Saya masih mengenang, guru PKn saya di MAN 3 Bantul namanya Bu Nurokhmah. Di mata saya beliau ini sangat pintar, cara mengajarnya runtut dan sistematis. Semacam personifikasi dari perpustakaan berjalan. Segala jenis pertanyaan mampu dijawab, meski berikut hari saya ketahui kalau jawaban dari beliau kurang tepat. Dari situ kemudian saya belajar jika menjadi guru berarti harus berpengetahuan luas atau setidak-tidaknya "nampak" berpengetahuan luas. Sederhananya kita harus tampil meyakinkan dihadapan murid-murid.
Ketika mengenyam bangku perkuliahan di UNY saya semakin menyadari modal utama untuk menjadi guru PKn yang baik adalah memiliki pemahaman yang luas terutama tentang informasi-informasi terkini. Hal tersebut menjadikan pembelajaran PKn tidak lagi membosankan malah pada titik tertentu pembelajaran ini bisa bernilai pragmatis, murid menjadi tau alasan logis mengapa ia perlu belajar PKn dan bagaimana aplikasi ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari.
Guru PKn juga harus mampu membaca fenomena-fenomena ketatanegaraan secara arif, sebab tak jarang apa yang yang tertulis "indah" di konstitusi ternyata bertolak belakang dengan realita. Bukan mendogmatisasi murid dengan nilai-nilai, seakan-akan entitas besar bernama negara itu selalu bergerak dan berpihak pada kesejahteraan warganya. Sehingga luput menyadari bahwa negara dijalankan oleh subjek bernama pemerintah yang gerak-geriknya bisa memunggungi tujuan negara.
Saya belum genap setahun menjadi guru PKn, tentu pemahaman saya masih kalah dari guru-guru senior yang sudah mengajar puluhan tahun. Namun dari pengamatan terbatas saya tujuan belajar PKn sebenarnya sangatlah sederhana tapi sulit, yaitu menjadi warga negara yang baik (good citizen). Sependek pengetahuan saya warga negara yang baik bukan mereka yang "manut-manut" terhadap setiap kebijakan pemerintah. Melainkan mereka yang berdaulat, tahu hak dan kewajiban, dan pada titik tertinggi kritis terhadap segala kebijakan yang dibuat oleh perwakilan mereka di perlemen.
Membiasakan murid untuk berpikir kritis bukanlah perkara mudah. Namun itu semua bisa dimulai dengan memasukan persoalan sehari-hari ke dalam ruang kelas lalu menghubungkannya dengan spektrum yang lebih luas bernama "public policy". Bermula dari situ mereka bisa mengenal realitas bangsanya.
Guru juga harus meminjam istilah Cak Nun, njembarke ati ne murid agar mereka berani dan percaya diri untuk mengemban tugas berat sebagai generasi penerus berbekal kecakapan intelektual, emosional dan spiritual. Guru PKn yang hanya memiliki porsi waktu dua jam perminggu tentu sangat berat untuk bisa membentuk generasi ini. Namun sedikit banyak kita harus memercikkan nyala api itu, sekecil apapun. Bahwa harapan akan terus ada, selama kita berusaha dan percaya.
Saya sendiri masih terus belajar menjadi guru PKn yang memiliki integritas, wawasan ilmu dan akhlak yang baik. Tak henti-hentinya, tak putus-putusnya. Sebab hanya guru yang terus belajar yang boleh untuk terus mengajar.
Yogyakarta, Juli 2026.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
