Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ibnu Sina

SD Negeri Sepi, Kok Bisa?

Agama | 2026-07-19 21:30:56

Fenomena SD Negeri sepi peminat tengah ramai dibicarakan. Berbagai argumentasi berseliweran kesana kemari. Semuanya mengarah kepada satu pembahasan menarik yaitu karakter (Syaksiyah/Personality)
Baik, mari kita ulas. Sebuah pertanyaan menggelitik untuk kita jawab bersama, apakah kita yang di didik di era tahun 90-an sampai 2000 -an yang harusnya saat ini sudah menjadi bapak/Ibu yang anaknya akan masuk SD, berani mengatakan bahwa dulu kita di didik dengan buruk ketika bersekolah di SD Negeri? Karena trauma itulah kemudian enggan memasukkan putra-putri kita kesana lagi? Silahkan di jawab dengan sejujur-jujurnya.

Kalau ternyata jawaban yang kita ucapkan sama, "tentu saja tidak, justru sebalikanya kita sangat-sangat berterima kasih atas segala jasa bapak-Ibu guru kita yang telah mendidik kita sehingga menjadi pribadi-pribadi yang berbudi dan mandiri". Dan hal ini terbukti ketika kita menjadi orang tua, kita memiliki cukup kemampuan secara finansial untuk menyekolahkan anak di sekolah Swasta/Islami.

Maka, marilah kita bercermin sebenarnya apa yang menjadi akar masalah sehingga mindset kita mengarahkan kepada Pendidikan Swasta/Islami yang jelas berbayar bahkan mahal?

Jawaban yang mungkin sekelebat terlintas, "kami hanya ingin anak kami lebih baik dari kami, kami tidak ingin anak-anak terjebak dalam pergaulan yang salah seperti di luaran sana, kami ingin anak-anak mendapatkan lingkungan, teman yang baik-baik pula".

Baiklah semua jawban itu tentu berawal dari diskusi mendalam antara ayah dan bunda ketika memikirkan pendidikan putra-putrinya. Namun, pernahkah terlintas, apakah tujuan mulia tersebut telah diiringi pula dengan ikhtiar yang sejalan? Misalkan saja, ketika kita menghendaki anak-anak yang memiliki kerakter yang baik, pernahkah kita memikirkan pula, kenapa kemudian anak-anak diluaran sana menjadi tidak baik? Benarkah hanya karena pendidikan akhlaknya yang kurang atau ada faktor yang sama dan justru kita memaklumi hal tersebut?

Apa lagi kalau bukan gadget/HP, bukan kah kita semua hampir sepakat bahwa anak memiliki/bermain HP adalah hal lumrah, wajar dan sesuai zamannya? Atau mungkin kita coba berlindung dengan alasan, "kan HP anak kami sudah super protektif, tidak ada game online, Judol, apalagi Pornografi".

Cobalah kita renungkan sejenak, apakah semua orang tua berfikiran sama? Atau masih di dominasi alasan yang penting anak kami punya HP. Jika satu saja tidak peduli dengan apa yang kita sebut tadi "protektif" maka dari satu sumber ini lah kemudian virus negatif itu menular dengan cepat, perkataan kotor, perbuatan kasar dan cabul, bahkan prilaku yang di dunia hewanpun tak ada seperti LGBT. Semua bermula dari sana. Dan tentu kita tidak memungkiri di sekolah Swasta/Islami sekalipun fakta itu ada.

Maka, mari kita kupas lebih dalam. Kemajuan teknologi termasuk Gagdet adalah bersifat netral, bagaikan sebuah pisau yang tajam, maka tergantung siapa dan digunakan untuk apa. Ketika pisau yang tajam itu digunakan oleh seorang anak yang belum mengerti bahaya tajamnya pisau itu bisa melukai dirinya sendiri, maka dia akan terluka, begitupun dengan fungsinya, ketika pisau itu bisa memotong apa saja, maka bisa pula memotong jarinya sendiri.

Sebagai orang tua yang bijak, tentu kita harus mempertimbangakan dengan serius hal ini. Ketika memberkan izin kepada anak untuk mengakses gadget, maka harus siap pula melakukan pendampingan ketat terhadap penggunaannya.
Hal lain juga yang harus menjadi perhatian yaitu bagaimana peran Negara hari ini dalam melindungi generasi penerusnya. Dalam urusan akses informasi yang begitu cepat dan mudahnya hari ini, apakah negara benar-benar peduli akan bahaya kerusakan yang bisa ditimbulkan? Atau sebaliknya, negara hanya melihatnya sebagai salah satu sumber pemasukan yang begitu menggiurkan.

Karena bagaimanapun kebutuhan kepada akses internet, sudah seperti kebutuhan akan nasi. Dan para pelaku bisnis ini tahu betul, bahwa pasar terbesar mereka adalah anak-anak, karena ketika orang tua bisa menahan diri untuk berhemat, tidak dengan anak-anak yang akan terus merengek-rengek agar dibelikan paket data.

Dalam sistem politik kita hari ini yang mana negara hanya sebagai fasilitator para pengusaha. Tentu saja secara tidak langsung negara akan abai atau setidaknya tidak akan menjadikan segala sesuatu yang sekiranya menghambat para pebisnis tadi sebagai prioritas.

Lalu bagian berikutnya yang juga perlu kita pikirkan bersama adalah, ketika di satu sisi kita tidak tega ketika anak meminta gadget seperti teman-temannya, di sisi lain negara abai akan rasa aman bagi putra-putri kita ketika menikmati gadgetnya. Adakah faktor lain yang bisa berperan?

Tentu saja, dalam struktur kehidupan bermasyarakat, setidaknya terdiri dari tiga entitas yang saling berkaitan, pertama adalah Masyarakat itu sendiri, kedua adalah Institusi yang mengatur urusan masyarakat itu sendiri, dan yang ketiga keberadaan partai politik yang berperan sebagai pendidik masyarakat sekaligus pengkoreksi kebijakan negara ketika kebijakan itu tidak memihak kepada kepentiangan masyarakat.

Pertanyaan terakhir, apakah saat ini bisa kita temui keberadaan partai politik yang demikian? Atau sebaliknya, partai yang ada ditengah-tengah masyarakat hari ini menjalankan fungsi sebagai pereda amarah dan fasilitator kekuasaan yang tidak memihak kepada masyakat. Karena pada hakikatnya partai adalah pengemban Ideologi yang menentukan arah baik-buruknya suatu negara.

Maka ketika suatu Negeri, apalagi berpenduduk Muslim terbesar tidak menjadikan Islam sebagai Ideologinya, tidak pula sedang memperjuangkan Ideologi Sosialisme/Komunisme karena jelas bertentangan bagi Penganut agama, maka secara sadar ataupun tidak, kehidupan kita hari ini sedang terjebak dalam lingkaran Ideologi Kapitaliame yang menghamba kepada Materi/harta.

Jadi, memiliki cita-cita menjadikan anak bersekolah di sekolah swasta/Islami agar memiliki akhlak yang baik hari ini, lebih seperti hanya sekedar mimpi. Selama belum muncul kesadaran bersama kembali kepada Ideologi Islam yang selama 13 abad lamanya terbukti menaungi umat manusia tidak hanya Muslim saja, berada dalam peradaban Mulia dan melahirkan generasi berakhlak mulia. Maka sebagai orang tua yang masih peduli apalagi sebagai seorang muslim, berjuanglah untuk kembalinya Kehidupan Islam, untuk masa depan generasi penerus.

Karena hidup tidak hanya tentang sejahtera di dunia, tetapi juga tentang pertanggungjawaban di Akhirat. Ingat anak adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban itu.
Salam Saudaramu.. Ki Badai

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image