Meraup Manfaat Puasa dengan Jamu Jabati Jarak Bagian 3

Image
Ade Sudaryat
Lomba | Tuesday, 15 Mar 2022, 03:20 WIB

Banyak orang yang beranggapan keliru, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Hal ini dikhawatirkan akan melahirkan anggapan bahwa selama melakukan ibadah puasa kita harus mengurangi porsi bekerja yang tentu saja berujung pada berkurangnya produktivitas dalam bekerja. Dengan kata lain sangatlah salah jika selama melaksanakan ibadah puasa kita lebih memperbanyak kegiatan tidur daripada bekerja.

Aktivitas ritual keagamaan harus menjadikan pendorong bagi seseorang untuk lebih aktif dan kreatif dalam berkarya. Seseorang yang aktif dan kreatif dengan dorongan spiritual keagamaan, terlebih-lebih dalam ajaran Islam, ia akan memperoleh dua keuntungan, yakni keuntungan duniawi dan ukhrawi.

Meminjam perkataan Gianozzo Manetti, seorang filosof Itali seperti dikutip Bambang Sugiharto (2008 : xvii) dalam bukunya Humanisme dan Humaniora, “Agama sesungguhnya merupakan dukungan vital bagi maksimilasi karya terbaik manusia di bumi ini. Praktik ritual keagamaan harus menjadi pendorong dalam melakukan suatu aktivitas.”

Dari sudut pandang kesehatan sudah banyak bukti ilmiah, orang-orang yang taat melakukan praktik ritual keagamaan dengan tatacara yang benar dapat menjadikan jiwanya lebih sehat. Dalam hal ini termasuk melaksanakan ibadah puasa.

Hasil penelitian Andrew Newberg dan Eugene D’Aquilli yang dituangkan dalam bukunya Why God Won’t Go Away : Brain Science and the Biology of Believe (versi e-book, 2002 : 113) mengatakan, orang-orang yang melaksanakan kehidupan beragama dengan benar cenderung hidup lebih lama, lebih rendah menderita penyakit stroke, rendah penyakit jantung, fungsi sistem kekebalan yang lebih baik, dan memiliki tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya yang tidak taat beragama.

Meskipun dianggap hadits lemah, terbuktilah secara ilmiah sebuah ungkapan yang menyatakan, ”laksanakanlah ibadah puasa, pasti kamu akan sehat”. Namun demikian terdapat banyak syarat yang harus ditempuh agar kita dapat meraup manfaat ibadah puasa selain jamu seperti yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, kita pun harus melakukan jabati (jangan banyak tidur).

Pada umumnya kekeliruan yang dilakukan orang-orang yang berpuasa adalah memperbanyak porsi tidur. Dengan dalih kekurangan tidur pada malam hari karena melaksanakan salat tarawih dan sahur, pada umumnya kebanyakan orang menambah porsi tidurnya setelah salat subuh dan pada siang hari. Padahal Rasulullah saw mewanti-wanti agar kita benar-benar memperhatikan waktu tidur. Misalnya, kita tidak boleh tidur setelah salat subuh.

“Janganlah kalian tidur setelah salat subuh, sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Thabrani).

“Bangunlah kalian pada pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar).

Ibnu Qayyim dalam kitabnya, Zaadul Ma’ad, Jilid IV, hal. 222 menyebutkan, “Jika bukan karena darurat, makruh tidur setelah salat subuh. Pagi hari bukanlah waktu untuk berleha-leha, tetapi waktu untuk mencari rezeki. Tidur setelah salat subuh berbahaya bagi kesehatan dan melemahkan badan”.

Demikian pula halnya, kita tidak boleh tidur sesudah makan, terutama sesudah makan malam atau sahur. “Rasulullah saw melarang seseorang tidur setelah makan, karena perbuatan tersebut akan mengeraskan hati” (H. R. Abu Nuaim).

Dari sudut pandang kesehatan, Dr. Danial Zainal Abidin, pakar kesehatan asal Malayasia dalam bukunya Perubatan Islam dan Bukti Sains Moden, (Kualalumpur, 2015 : 52-540) menyebutkan, langsung tidur setelah makan malam dapat meningkatkan resiko penyakit stroke, sementara menangguhkan tidur selama satu jam atau lebih setelah makan malam dapat menghindarkan seseorang dari penyakit stroke.

Para peneliti di Universitas George Washington, USA (2013) pernah melakukan kajian, beristirahat atau berjalan-jalan selama 15 menit setelah makan malam dapat membantu menurunkan kadar gula dalam darah, dan mampu mengurangi penyakit diabetes. Disinilah kita dapat merenungkan hikmah ibadah salat tarawih selepas kita makan berat, berbuka puasa.

Seorang peneliti dari University Malaya, Dr. Fatimah Ibrahim dalam bukunya Solat Kebaikan dari Persfektif Sains (Kualalumpur, 2009 : 34 – 37) melakukan penelitian dampak ibadah puasa dan salat tarawih terhadap kesehatan jasmani. Ia melakukan penelitian selama 20 hari kepada para sukarelawan berusia 19 – 21 tahun.

Terlepas dari perbedaan jumlah rakaatnya, jika salat tarawih dilaksanakan dengan baik berdasarkan tatacara salat Rasulullah saw seperti membaca ayat Al-Qur’an dengan tartil, memahami bacaan salat, melaksanakan rukuk, sujud, dan duduk ketika tasyahud dengan benar terbukti memberikan dampak yang baik terhadap kesehatan jasmani.

Seseorang yang melaksanakan salat tarawih selama 20 menit/malam atau 140 menit/minggu, gerakan salat yang dilakukannya setara dengan melakukan senam selama 150 menit/minggu. Kegiatan fisik seperti ini dapat meningkatkan aktivitas otot, mengurangi kadar glukosa, meningkatkan pembakaran lemak sehingga kadar lemak dalam tubuh dan darah menjadi berkurang. Sementara ibadah puasa yang dilaksanakan sesuai dengan sunah Rasulullah saw setara dengan diet seimbang yang dapat menyehatkan tubuh.

Dengan demikian bukanlah hal yang baik jika kita melakukan banyak tidur selama melaksanakan ibadah puasa. Tidur yang proporsional akan memberikan dampak baik terhadap kesehatan, sementara tidur yang berlebihan memberikan dampak kurang baik terhadap kesehatan.

Terdapat sebagian orang yang berpendapat, “daripada melakukan dosa/kemaksiatan selama berpuasa lebih baik tidur, jadi dosanya berkurang’. Pendapat ini kurang tepat juga, jelas orang yang tidur tak akan berbuat apapun selain tidur, tak ada tantangan untuk berbuat kemaksiatan dan tak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.

Derajat kesalehan seseorang akan diraih manakala ia mampu mengendalikan diri dari perbuatan jelek atau maksiat ketika lingkungan di sekitarnya mendorong dirinya untuk melakukan kejelekan. Ibadah puasa seseorang dikatakan berkualitas manakala ia mampu melewati ujian dan mampu menjaga nilai-nilai luhur ibadah puasa untuk tidak melakukan kemaksiatan di kala ia terjaga, hidup berkarya di tengah-tengah lingkungan yang beragam.

Tujuan dari ibadah puasa adalah menjadikan diri kita sebagai orang-orang yang bertakwa yang pahalanya tiada lain adalah ampunan Allah. Salah satu kriteria orang yang bertakwa adalah orang yang sabar, benar, taat, mengeluarkan infaq, dan orang yang mengurangi waktu tidurnya karena dipergunakan untuk munajat kepada Allah terutama pada waktu sahur atau akhir malam. Semua perbuatan ini terkumpul dalam ibadah puasa.

Walhasil, sangatlah disayangkan jika selama melaksanakan ibadah puasa porsi tidur kita lebih banyak daripada terjaganya. Jabati (jangan banyak tidur) selama melaksanakan ibadah puasa agar kita benar-benar dapat meraup manfaat ibadah puasa semaksimal mungkin.

Ilustrasi : ibadah puasa selama Pandemi Covid-19 (Sumber Gambar : https://pwmu.co)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Program pembuatan ruang literasi sebagai bentuk peningkatan minat baca SDN 13 Tambun Sukkean kecamat

Image

Peringatan HUT RI ke 77, Rutan Purworejo Tampilkan Beragam Baju Daerah Ala Model Profesional

Image

HUT RI Ke-77, 22 WBP Lapas Terbuka Nusakambangan Mendapat Remisi, 5 diantaranya Langsung Bebas

Image

Makna Hijrah dan Momentum Peringatan Kemerdekaan

Image

Terus Belajar, Menginspirasi, Memberi Manfaat, HUT RI ke-77 SIT Tunas Bangsa

Image

Upacara Kolaboratif HUT RI ke-77 ala SMP Mugadeta

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image