Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Dendi Firdaus

Gaya Hidup Sosialita, Saldo Seadanya: Ketika Gengsi Lebih Mahal dari Biaya Hidup

Gaya Hidup | 2026-06-19 10:41:00
gambar ilustrasi. ©2015 Merdeka.com

Media sosial hari ini telah menjelma menjadi panggung sandiwara global, tempat di mana semua orang berlomba-lomba menampilkan kurasi hidup terbaik mereka. Nongkrong di kafe estetik, menenteng kopi berlogo premium, hingga memamerkan gaya hidup mewah kini dianggap sebagai standar minimum untuk diterima dalam pergaulan modern. Fenomena ini melahirkan sebuah anomali sosial baru yang menggelitik sekaligus miris Ironisnya, frasa. Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang rela menderita secara finansial demi menjaga sebuah ilusi kemakmuran. Ketika gengsi telah dinilai lebih mahal daripada biaya hidup itu sendiri, rasionalitas pun tergusur oleh validasi digital.

Dahulu, rem finansial seseorang sangat sederhana, jika tidak ada uang di dompet, maka kita tidak belanja. Namun hari ini, batas itu dikaburkan oleh kehadiran pinjaman online dan fitur paylater. Teknologi yang sejatinya diciptakan untuk inklusi keuangan, justru kerap disalahgunakan sebagai instrumen pemenuh hasrat impulsif. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan gambaran yang mencengangkan. Nilai outstanding pembiayaan pinjaman online di Indonesia terus meroket tajam hingga menembus angka Rp102,07 triliun. Mirisnya, porsi terbesar dari pengguna aktif dan debitur bermasalah ini justru didominasi oleh generasi muda berusia 19 hingga 34 tahun.

Pinjol dan paylater bertindak sebagai topeng yang memperpanjang napas kepalsuan tersebut. Mereka menawarkan dopamin instan lewat kemudahan akses dana. Seseorang bisa membeli tiket konser impian, gawai flagship terbaru, atau liburan estetik hanya dengan beberapa kali klik, tanpa sadar bahwa mereka sedang menjebak diri dalam fenomena doom spending sebagai pelarian dari stres, yang ironisnya justru bersumber dari masalah keuangan itu sendiri. Fasilitas paylater menciptakan bias kognitif yang berbahaya, sebuah ilusi mampu yang di mana barang mahal terasa murah karena bisa dicicil, padahal akumulasi bunganya perlahan menggerogoti masa depan.

Dampak dari ekosistem gengsi instan ini tidak main-main. Banyak anak muda menganggap remeh tagihan paylater atau pinjol karena nominalnya yang kecil, misalnya hanya berkisar antara Rp50.000 hingga Rp500.000. Namun, di era digitalisasi keuangan saat ini, seluruh riwayat tersebut tercatat secara otomatis dalam SLIK OJK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) atau yang dulu dikenal sebagai BI Checking. OJK berulang kali mengungkapkan studi kasus nyata yang sangat mengkhawatirkan di dunia perbankan: banyak generasi muda dan first-jobbers yang gagal mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau pinjaman modal usaha. Saat mereka mengajukan KPR, bank langsung menolak karena skor kredit mereka berada di Kolektibilitas 5 (macet) akibat tunggakan paylater belanjaan atau pinjol konsumatif masa lalu yang tidak dilunasi.

Lebih jauh lagi, beberapa perusahaan kini mulai menggunakan riwayat SLIK OJK sebagai salah satu indikator dalam proses rekrutmen karyawan. Artinya, demi sebuah pameran gaya hidup di masa lalu, seseorang tidak hanya kehilangan kesempatan memiliki rumah, tetapi juga berpotensi kehilangan kesempatan kerja. Tidak berhenti di sana, sanksi sosial dari pinjol ilegal yang menyebarkan data pribadi saat nasabah gagal bayar kerap menghancurkan reputasi seseorang dalam semalam. Hubungan pertemanan dan keluarga retak karena teror dari debt collector. Ini adalah harga yang teramat mahal untuk membayar sebuah tepuk tangan virtual di media sosial.

Pada akhirnya, hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi orang lain adalah sebuah keletihan yang tidak ada ujungnya. Kita perlu mendefinisikan ulang arti dari sebuah pencapaian. Kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak barang mewah yang bisa kita cicil, melainkan dari seberapa besar ketenangan pikiran yang kita miliki saat melihat saldo rekening kita sendiri. Sudah saatnya kita menurunkan ego gengsi dan kembali menaikkan nilai fungsi. Berhenti berpura-pura kaya hanya agar dianggap ada oleh orang-orang yang bahkan tidak peduli dengan masa depan kita. Sebab pada kenyataannya, ketika tagihan pinjol dan paylater jatuh tempo, para followers di media sosial tidak akan pernah ikut patungan untuk membayarnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image