Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Ketika Kelahiran tidak Selalu Membawa Selamat

Hospitality | 2026-06-16 12:47:06
Ilustrasi

Seorang ibu memulai harinya dengan harap. Ia menanti kelahiran dengan doa yang tidak putus. Namun, tidak semua kisah berakhir dengan pelukan hangat. Sebagian justru berhenti di ruang yang sunyi. Di sanalah angka kematian ibu (AKI) menemukan maknanya yang paling nyata. Indonesia masih mencatat AKI tertinggi di Asia Tenggara. Fakta ini terasa janggal ketika jumlah dokter kandungan justru melimpah. (Kompas.id,04/06/2026)

Namun, persoalan tidak berhenti pada jumlah. Dokter terkumpul di kota besar. Sementara itu, daerah terpencil terus menunggu. Kesenjangan fasilitas dan kesejahteraan memperlebar jarak pelayanan. Wilayah timur Indonesia masih menghadapi angka kematian yang tinggi. (Bloombergtechnoz.com, 06/05/2026)

Kita sering merasa cukup ketika jumlah tenaga kesehatan meningkat. Kita melihat angka dan merasa lega. Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Ketersediaan tidak selalu berarti keterjangkauan. Tenaga medis ada, tetapi tidak berada di tempat yang membutuhkan. Semua ini menggambarkan satu hal, bahwa akses belum merata.

Banyak ahli kesehatan masyarakat menegaskan bahwa distribusi menjadi kunci. Para peneliti di bidang kesehatan ibu dan anak menunjukkan bahwa risiko kematian meningkat ketika akses terlambat. Mereka berasal dari kalangan akademisi dan praktisi yang meneliti langsung kondisi layanan di daerah.

Temuan mereka memperlihatkan bahwa jarak, fasilitas, dan kesiapan layanan sangat menentukan keselamatan ibu. Di titik ini, kita mulai memahami bahwa persoalan bukan sekadar teknis. Persoalan ini menyentuh cara pandang dalam menyusun kebijakan.

Setiap kematian ibu mencerminkan satu ruang yang belum terjangkau. Negara telah berupaya menghadirkan layanan. Namun, kehadiran itu belum terasa merata. Ada wilayah yang menikmati fasilitas lengkap. Ada pula wilayah yang masih berjuang dengan keterbatasan.

Kemudian, pendekatan kebijakan sering berfokus pada efisiensi dan angka capaian. Sistem mencatat berapa banyak tenaga medis. Sistem menghitung berapa fasilitas yang tersedia. Namun, sistem tidak selalu memastikan apakah semua itu sampai kepada yang membutuhkan.

Akibatnya, ketimpangan terus berulang. Kota menjadi pusat layanan. Desa menjadi penunggu layanan. Dalam kondisi ini, waktu menjadi faktor yang menentukan. Dan dalam banyak kasus, keterlambatan berujung pada kehilangan.

Masalah ini tidak berdiri sendiri. Distribusi dokter kandungan hanya salah satu bagian. Di balik itu, terdapat persoalan infrastruktur yang belum merata. Rumah sakit belum tersedia di semua wilayah. Tenaga medis belum tersebar secara seimbang. Akses jalan masih menjadi hambatan di banyak daerah.

Lebih jauh, layanan kesehatan sering berjalan dalam kerangka yang mempertimbangkan aspek biaya. Dalam kondisi ini, pelayanan tidak selalu hadir sebagai kebutuhan dasar. Ia terkadang dipandang sebagai layanan yang harus disesuaikan dengan kemampuan.

Akibatnya, muncul kesenjangan. Sebagian masyarakat mendapat layanan cepat. Sebagian lainnya harus menunggu. Dalam situasi genting seperti persalinan, perbedaan waktu sekecil apa pun dapat membawa dampak besar.

*Islam dan Tanggung Jawab Menjaga Kehidupan*

Islam memandang kehidupan sebagai amanah yang tidak boleh diabaikan. Negara memegang peran penting dalam menjaga amanah tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada kebijakan, tetapi juga pada hasil yang dirasakan rakyat.

Allah Swt. berfirman, “Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar” (QS. Al-Isra: 33). Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga kehidupan adalah kewajiban yang utama.

Dalam sejarah Islam, layanan kesehatan hadir sebagai bentuk tanggung jawab negara. Rumah sakit dibangun di berbagai wilayah. Tenaga medis disiapkan dan ditempatkan sesuai kebutuhan. Negara tidak menunggu masyarakat datang. Negara justru mendekatkan layanan kepada masyarakat. Pada masa para khalifah, bahkan layanan bergerak digunakan untuk menjangkau daerah yang sulit dijangkau.

Negara dalam sistem Islam membiayai layanan kesehatan dari sumber yang dikelola untuk kepentingan publik. Dengan demikian, layanan dapat diakses tanpa beban biaya. Semua warga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan terbaik.

Negara juga memastikan distribusi tenaga medis berjalan adil. Tidak ada wilayah yang terabaikan. Infrastruktur dibangun untuk memudahkan akses. Pendidikan tenaga medis diperkuat agar kebutuhan terpenuhi secara merata.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan bukan sekadar sektor pembangunan. Ia adalah bentuk kepedulian terhadap kehidupan manusia. Ketika negara menjalankan peran ini secara utuh, maka pelayanan tidak hanya tersedia, tetapi juga terasa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image