Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image eka dwiningsih

Tembok 23 Km Membelah Gaza, Akankah Palestina Kembali Terpecah?

Dunia islam | 2026-08-16 21:39:25
Sumber gambar: Iluustrasi AI, dibuat dengan bantuan ChatGPT

Penulis: Eka Dwiningsih

Jalur Gaza kembali menghadapi babak baru yang menunjukkan betapa rumitnya masa depan Palestina. Citra satelit mengungkap pembangunan penghalang tanah raksasa oleh militer Israel yang panjangnya telah mencapai lebih dari 23 kilometer. Penghalang tersebut dibangun di sepanjang area yang dikenal sebagai Yellow Line, garis yang menjadi batas antara wilayah yang berada di bawah kontrol militer Israel dan wilayah Gaza lainnya.

Laporan berbasis citra satelit yang diberitakan Associated Press pada 21 Juli 2026 menunjukkan bahwa penghalang tersebut dibangun dalam beberapa bulan terakhir dan melewati sejumlah kawasan permukiman Palestina yang sebelumnya telah hancur akibat perang. Panjangnya bahkan lebih dari separuh panjang Jalur Gaza yang sekitar 40 kilometer. Militer Israel mengonfirmasi adanya pembangunan penghalang fisik tersebut, tetapi tidak memberikan penjelasan rinci mengenai tujuan dan batas akhir pembangunannya.

Fakta ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: apakah pembagian wilayah Gaza yang awalnya dianggap sementara sedang diarahkan menjadi kenyataan permanen?

Tembok yang Mempertegas Pembagian Gaza

Pembangunan penghalang fisik tidak dapat dipandang hanya sebagai pembangunan tanggul tanah biasa. Letaknya di sepanjang garis pemisah wilayah yang dikontrol Israel membuat keberadaannya memiliki konsekuensi politik dan kemanusiaan.

Sejumlah laporan menyoroti kekhawatiran bahwa Yellow Line dapat berubah menjadi batas de facto yang semakin permanen. Kekhawatiran tersebut muncul ketika pembangunan infrastruktur militer berjalan bersamaan dengan perluasan kontrol Israel atas sebagian wilayah Gaza.

Jika sebuah garis pemisah terus diperkuat dengan penghalang fisik, jalan militer, dan infrastruktur keamanan, maka masyarakat tentu berhak bertanya: apakah pembagian tersebut benar-benar sementara?

Bagi rakyat Palestina, persoalannya bukan sekadar garis di atas peta. Di baliknya terdapat rumah yang hancur, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, akses terhadap tanah, serta masa depan sebuah bangsa yang selama puluhan tahun memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri.

Benarkah Ada Jalan Menuju “New Gaza”?

Di tengah kondisi tersebut, berbagai gagasan mengenai masa depan Gaza terus ditawarkan. Salah satunya adalah konsep “New Gaza” yang berkaitan dengan rencana Board of Peace (BoP).

Dalam rancangan yang dipublikasikan BoP, Gaza akan dikelola sementara oleh komite teknokratis Palestina dengan pengawasan lembaga internasional. Rencana tersebut juga memuat gagasan demiliterisasi, pembentukan pasukan stabilisasi internasional, pembangunan kembali Gaza, serta kemungkinan menuju penentuan nasib sendiri dan negara Palestina.

Namun, rencana tersebut bukan tanpa persoalan. Pelaksanaannya menghadapi berbagai hambatan, termasuk belum terlaksananya penarikan penuh pasukan Israel dan perbedaan pandangan mengenai pelucutan senjata Hamas. Bahkan pada Juli 2026, rencana pembangunan kembali Gaza dilaporkan menyusut menjadi proyek percontohan yang jauh lebih kecil daripada rancangan awal.

Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menerima setiap narasi perdamaian begitu saja tanpa melihat realitas di lapangan.

Jangan Sampai Palestina Hanya Mendapat Janji

Perdamaian tentu merupakan sesuatu yang diharapkan oleh setiap manusia. Rakyat Gaza membutuhkan keselamatan, rumah, makanan, layanan kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang bermartabat.

Namun, perdamaian yang hanya menghasilkan pembagian wilayah, sementara hak rakyat Palestina atas tanah dan kedaulatannya tidak benar-benar terwujud, patut dikritisi.

Dalam perspektif Islam, umat tidak semestinya mudah terpesona oleh istilah-istilah pembangunan, rekonstruksi, ataupun perdamaian apabila realitas politiknya justru berpotensi mempertahankan ketidakadilan.

Karena itu, sikap kritis terhadap BoP maupun gagasan “New Gaza” bukan berarti menolak bantuan kemanusiaan atau pembangunan kembali Gaza. Justru sebaliknya, pembangunan harus benar-benar diarahkan untuk kepentingan rakyat Palestina dan tidak menjadi sarana yang menghilangkan hak politik mereka.

Palestina Membutuhkan Perlindungan Nyata

Islam memandang kaum Muslim sebagai satu umat. Penderitaan rakyat Palestina karena penjajahan dan konflik semestinya membangkitkan kepedulian umat Islam di seluruh dunia.

Dalam kerangka pemikiran politik Islam, perlindungan terhadap umat tidak cukup diserahkan kepada kepentingan negara-negara yang memiliki agenda masing-masing. Umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan politik, ekonomi, dan diplomasi untuk melindungi kepentingan kaum Muslim.

Konsep Khilafah dalam pemikiran politik Islam dipandang sebagai institusi kepemimpinan yang menaungi umat dan menjalankan fungsi perlindungan terhadap rakyat. Dalam konteks Palestina, gagasan ini melihat persatuan umat dan kekuatan politik sebagai bagian penting dari upaya membebaskan rakyat dari penjajahan.

Adapun pembahasan tentang jihad dalam khazanah fikih memiliki ketentuan hukum dan otoritas yang tidak boleh diterjemahkan menjadi tindakan kekerasan individual tanpa aturan. Yang terpenting bagi umat saat ini adalah membangun kesadaran, persatuan, kepedulian, serta dukungan nyata bagi rakyat Palestina melalui cara-cara yang bertanggung jawab.

Persatuan Umat untuk Masa Depan Palestina

Tembok sepanjang lebih dari 23 kilometer di Gaza seharusnya tidak hanya menjadi berita yang lewat di layar ponsel. Ia merupakan pengingat bahwa persoalan Palestina belum selesai.

Umat Islam perlu kritis terhadap setiap proyek politik yang mengatasnamakan perdamaian dan pembangunan. Jangan sampai istilah New Gaza justru menutupi persoalan mendasar mengenai hak rakyat Palestina atas tanah dan masa depannya.

Palestina tidak hanya membutuhkan bantuan untuk membangun kembali gedung yang hancur. Palestina membutuhkan jaminan kehidupan yang aman, bermartabat, dan bebas dari dominasi serta penjajahan.

Karena itu, persatuan umat, kepemimpinan yang melindungi rakyat, dan keberpihakan yang nyata terhadap keadilan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan. Selama akar persoalan tidak diselesaikan, tembok apa pun yang dibangun di Gaza hanya akan menjadi simbol baru dari konflik yang belum menemukan penyelesaian hakiki.

Wallahualam Bissawwab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image