Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Azkya Saradiva

Rupiah Melemah dan Makna Tawakal yang Sering Disalahpahami

Agama | 2026-06-15 08:14:24

Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada awal Juni 2026 kembali memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. Harga barang impor meningkat, biaya produksi bertambah, dan daya beli masyarakat semakin tertekan. Dalam situasi seperti ini, tidak jarang muncul pernyataan yang terdengar menenangkan: "Tidak perlu khawatir, rezeki sudah dijamin oleh Allah." Sebagai seorang Muslim, tentu kita meyakini kebenaran pernyataan tersebut. Allah SWT berfirman, "Dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin rezekinya oleh Allah" (QS. Hud: 6).

Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah keyakinan terhadap jaminan Allah berarti kita cukup berdiam diri dan menerima segala keadaan tanpa usaha untuk memperbaikinya?Kekeliruan yang sering terjadi bukanlah pada keyakinan bahwa Allah menjamin rezeki, melainkan pada cara memahami jaminan tersebut. Sebagian orang begitu fokus pada jaminan Allah, tetapi melupakan perintah Allah. Padahal keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Setelah memerintahkan ibadah, Allah juga berfirman, "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah" (QS. Al-Jumu'ah: 10). Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan tidak pernah mengajarkan kemalasan. Seorang Muslim diperintahkan untuk mencari karunia Allah melalui kerja keras, usaha, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Rasulullah SAW bahkan memberikan pelajaran yang sangat jelas tentang hubungan antara ikhtiar dan tawakal. Ketika seorang sahabat bertanya apakah ia harus melepaskan untanya lalu bertawakal kepada Allah, Rasulullah menjawab, "Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah" (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa tawakal bukanlah alasan untuk meninggalkan usaha. Sebaliknya, tawakal adalah keyakinan kepada Allah setelah seseorang melakukan ikhtiar terbaik yang mampu ia lakukan.Dalam konteks pelemahan rupiah, prinsip ini menjadi sangat relevan. Seorang pedagang gorengan yang bangun pukul empat pagi setiap hari mungkin telah bekerja keras untuk menjemput rezekinya. Namun, penghasilannya tidak hanya ditentukan oleh usahanya sendiri.

Harga minyak goreng, biaya distribusi, kondisi pasar, daya beli masyarakat, hingga kebijakan ekonomi pemerintah turut memengaruhi pendapatannya. Ketika rupiah melemah dan harga-harga naik, beban yang ditanggung masyarakat kecil pun semakin berat. Oleh karena itu, persoalan ekonomi tidak dapat disikapi hanya dengan berkata "rezeki sudah diatur Allah" tanpa adanya usaha untuk memahami dan memperbaiki faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan tersebut.Islam juga mengajarkan pentingnya menasihati pemimpin dan memperjuangkan keadilan. Rasulullah SAW bersabda, "Agama adalah nasihat," termasuk nasihat kepada para pemimpin kaum Muslimin (HR. Muslim). Karena itu, membahas kebijakan ekonomi, memberikan kritik yang konstruktif, atau mendorong tata kelola negara yang lebih baik bukanlah bentuk kurangnya tawakal. Justru hal tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial seorang Muslim. Allah sendiri memerintahkan keadilan dalam firman-Nya, "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan" (QS. An-Nahl: 90).

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image