Negara Ini Sudah Tamat
Sastra | 2026-06-12 17:52:27Apalagi yang Tersisa?Ada orang-orang yang mengatakan bahwa sebuah negara runtuh ketika perang datang, ketika mata uang kehilangan nilainya, atau ketika bendera diturunkan dari tiangnya. Aku tidak sepenuhnya percaya itu. Sebuah negara biasanya runtuh jauh sebelum reruntuhannya terlihat. Ia runtuh ketika hukum berhenti menjadi batas dan berubah menjadi alat. Ia runtuh ketika konstitusi tidak lagi dihormati sebagai perjanjian bersama, melainkan diperlakukan seperti kertas yang dapat dilipat, dipotong, dan dibentuk sesuai kebutuhan penguasa.Sejak saat itu, yang tersisa hanyalah pertunjukan.Kampanye menjadi panggung sandiwara. Janji-janji diproduksi seperti barang pabrik. Kata "rakyat" diucapkan berulang-ulang hingga kehilangan maknanya.
Di depan kamera mereka berbicara tentang pengabdian, sementara di belakang tirai berlangsung perundingan yang tidak pernah diketahui mereka yang nasibnya sedang dipertaruhkan.Lalu apa yang tersisa?Hutan-hutan digerus sedikit demi sedikit. Pohon tumbang lebih cepat daripada kebijakan yang melindunginya. Satwa kehilangan rumah dan dipaksa mengembara ke tempat yang tidak lagi mengenali mereka. Sungai yang dahulu mengalir membawa kehidupan kini membawa limbah. Laut menjadi tempat pembuangan bagi kerakusan yang dibungkus istilah pembangunan.
Mereka menyebutnya kemajuan.Seperti biasa, bahasa dipaksa bekerja melawan kebenaran.Perampasan disebut investasi. Kerusakan disebut pertumbuhan. Pengorbanan disebut transisi. Kata-kata dipoles sampai begitu bersih sehingga orang lupa melihat darah yang menempel di baliknya.Dan ketika sebagian orang mencoba bertanya, mencoba melawan, atau sekadar menolak diam, negara menunjukkan wajah yang berbeda. Bukan wajah ramah yang muncul di baliho dan iklan layanan masyarakat, melainkan wajah kekuasaan yang sesungguhnya. Barisan aparat berdiri tegak. Pentungan, tameng, dan seragam berbicara lebih keras daripada argumen.Seolah-olah warga negara adalah ancaman.
Seolah-olah orang yang mempertahankan tanahnya sendiri adalah musuh.Seolah-olah keadilan hanya berlaku selama tidak mengganggu kepentingan mereka yang duduk di atas.Sementara itu kehidupan sehari-hari menjadi semakin mahal. Harga bahan bakar naik. Harga pangan bergerak ke atas seperti memiliki kehendaknya sendiri. Di dapur-dapur sempit, para ibu mulai menghitung ulang belanjaan mereka. Ada lauk yang harus dikurangi, ada kebutuhan yang harus ditunda. Di banyak rumah, penghematan bukan lagi pilihan bijak, melainkan satu-satunya cara bertahan.
Anak-anak belajar lebih cepat daripada yang seharusnya bahwa lapar juga bagian dari pendidikan.Namun penderitaan itu tampaknya tidak pernah mencapai kawasan tempat para penguasa tinggal. Mobil tetap mewah. Jamuan tetap megah. Pakaian tetap mahal. Mereka berbicara tentang kesederhanaan dari podium yang dibangun dengan kemewahan. Mereka meminta rakyat bersabar sambil menikmati kenyamanan yang tidak akan pernah dirasakan oleh sebagian besar rakyat itu sendiri.
Inilah ironi terbesar dari kekuasaan: semakin jauh seseorang dari penderitaan, semakin mudah baginya memberi nasihat tentang ketabahan.Lalu orang bertanya, apalagi yang tersisa?Mungkin yang tersisa hanyalah kemarahan yang dipendam dan harapan yang menolak mati. Sebab sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak benar-benar hancur karena korupsi, kebohongan, atau keserakahan. Bangsa hancur ketika rakyatnya berhenti membedakan antara kebenaran dan propaganda, antara pelayanan dan penindasan, antara negara dan mereka yang kebetulan sedang menguasainya.
Dan ketika hari itu tiba, kehancuran tidak lagi perlu diumumkan.Ia sudah berlangsung di depan mata, sementara semua orang dipaksa menyebutnya kemajuan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
