Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image syrliy nawwar24

Larangan Calistung di TK dan Tuntutan Membaca di SD, Di Mana Letak Masalahnya?

Edukasi | 2026-06-11 17:31:05

Larangan calistung di tingkat TK bertujuan melindungi anak dari tekanan akademik yang terlalu dini. Namun ketika memasuki kelas 1 SD, banyak anak justru dihadapkan pada tuntutan untuk sudah mampu membaca dengan baik. Perbedaan harapan antara jenjang TK dan SD ini menimbulkan pertanyaan: di mana sebenarnya letak masalahnya?

Ilustrasi anak usia dini yang sedang belajar membaca dan menulis. (https://pixabay.com/photos/)

Dunia pendidikan dasar di Indonesia masih dihadapkan pada dua tuntutan yang saling bertolak belakang sehingga kerap membingungkan para orang tua. Isu calistung menjadi salah satu perdebatan yang masih sering muncul dalam dunia pendidikan. Pemerintah dan para ahli pendidikan anak usia dini mendorong agar anak-anak TK tidak dipaksa menguasai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) secara intensif. Namun ketika anak memasuki kelas 1 SD, banyak sekolah justru mengharapkan peserta didik baru sudah mampu membaca dengan lancar sejak awal tahun ajaran.

Mengapa Calistung Tidak Diwajibkan di TK?

Kebijakan yang tidak mewajibkan calistung di TK sebenarnya bukan tanpa alasan. Melalui Surat Edaran Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1839/C.C2/TU/2009, pemerintah menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini seharusnya berfokus pada pengembangan kemampuan dasar melalui aktivitas yang menyenangkan. Anak diperkenalkan pada membaca, menulis, dan berhitung secara bertahap sesuai tahap perkembangannya, bukan melalui pembelajaran akademik yang menekan. Bahkan, sekolah dasar juga diharapkan tidak menjadikan kemampuan calistung sebagai syarat penerimaan peserta didik baru.

Pada dasarnya, kebijakan yang tidak mewajibkan calistung di TK memiliki landasan yang kuat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik semata. Anak yang mampu mengendalikan emosi, bekerja sama dengan teman, mengikuti aturan, dan mandiri dalam aktivitas sehari-hari sering kali lebih siap menghadapi lingkungan sekolah dibandingkan anak yang hanya unggul dalam membaca atau berhitung. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini seharusnya berfokus pada pembentukan karakter, kreativitas, dan keterampilan dasar yang mendukung proses belajar jangka panjang.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Tambusai (2024) menunjukkan bahwa tekanan akademik yang terlalu dini dapat memicu stres pada anak usia dini. Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa pendidikan anak usia dini seharusnya lebih menekankan proses bermain dan eksplorasi dibandingkan pencapaian akademik yang berlebihan.

Salah satu alasan pemerintah tidak mendorong pembelajaran calistung secara intensif di TK adalah adanya risiko yang dapat muncul apabila anak dipaksa belajar di luar tahap perkembangannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tekanan akademik yang terlalu dini dapat memicu stres pada anak usia dini. Anak dapat menunjukkan berbagai respons, seperti menolak belajar, mudah frustrasi, kehilangan minat terhadap kegiatan belajar, hingga mengalami tekanan emosional yang dapat memengaruhi proses tumbuh kembangnya.

Selain itu, tuntutan untuk menguasai membaca, menulis, dan berhitung sejak dini juga berpotensi menghambat perkembangan sosial dan emosional anak. Padahal pada usia dini, anak membutuhkan banyak kesempatan untuk bermain, berinteraksi, bereksplorasi, dan mengembangkan kreativitas. Ketika sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk mengejar target akademik, pengalaman belajar yang seharusnya menyenangkan dapat berubah menjadi beban.

Namun demikian, hal ini bukan berarti anak sama sekali tidak boleh dikenalkan pada membaca, menulis, dan berhitung. Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa stimulasi literasi awal tetap penting dilakukan selama disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dan dikemas melalui aktivitas yang menyenangkan, seperti bermain, bernyanyi, bercerita, atau mengenal huruf melalui lingkungan sekitar.

Namun, Bagaimana Jika Anak Tidak Memiliki Kemampuan Membaca Saat Masuk SD?

Banyak orang tua merasa bahwa anak kelas 1 SD dituntut untuk bisa membaca sejak awal masuk sekolah. Pasalnya, buku pelajaran yang digunakan sudah memuat cukup banyak bacaan dan petunjuk yang harus dipahami siswa. Bagi anak yang belum bisa membaca, kondisi ini tentu dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyulitkan.

Meskipun berbagai penelitian menunjukkan bahwa calistung tidak seharusnya dipaksakan pada anak usia dini, bukan berarti kemampuan membaca dapat diabaikan sepenuhnya sebelum anak memasuki sekolah dasar. Pada kenyataannya, banyak kegiatan belajar di kelas 1 SD yang mengharuskan siswa mengenali huruf, membaca kata sederhana, dan memahami instruksi tertulis.

Penelitian mengenai membaca permulaan pada siswa sekolah dasar menunjukkan bahwa kemampuan membaca merupakan fondasi penting bagi keberhasilan belajar pada jenjang berikutnya. Anak yang mengalami kesulitan membaca sering kali menghadapi hambatan dalam memahami materi pelajaran lain karena sebagian besar proses pembelajaran dilakukan melalui teks dan instruksi tertulis.

Di sinilah letak dilema yang sering dihadapi orang tua. Di satu sisi, mereka diminta untuk tidak memaksakan anak menguasai calistung sejak TK. Namun di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak buku dan kegiatan pembelajaran di kelas 1 SD telah mengasumsikan adanya kemampuan membaca dasar. Akibatnya, sebagian orang tua merasa perlu mengenalkan literasi sejak dini agar anak tidak mengalami kesulitan saat memasuki sekolah dasar.

Di Mana Letak Masalahnya?

Jika ditelaah lebih jauh, permasalahan utama bukan terletak pada kebijakan yang tidak mewajibkan calistung di TK maupun pada kebutuhan membaca di sekolah dasar. Letak masalahnya justru berada pada kurang sinkronnya proses transisi antara kedua jenjang pendidikan tersebut.

Di satu sisi, TK berfokus pada pengembangan aspek sosial, emosional, motorik, bahasa, dan pembelajaran melalui bermain. Namun di sisi lain, sebagian sekolah dasar telah menggunakan bahan ajar yang menuntut kemampuan membaca dasar sejak awal tahun ajaran. Perbedaan harapan ini membuat sebagian anak mengalami kesulitan dalam proses adaptasi ketika memasuki kelas 1 SD.

Masalah ini juga diperkuat oleh pandangan masyarakat yang masih sering menganggap kemampuan membaca sebagai satu-satunya tolak ukur kesiapan sekolah. Padahal kesiapan anak memasuki SD tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan emosional, sosial, bahasa, kemandirian, serta kemampuan mengikuti aturan dan berinteraksi dengan lingkungan baru.

Dengan demikian, persoalan yang terjadi saat ini bukanlah apakah anak harus diajarkan calistung atau tidak. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menciptakan proses transisi yang lebih baik antara TK dan SD sehingga anak dapat berkembang sesuai tahap perkembangannya tanpa mengalami tekanan maupun ketertinggalan dalam belajar.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Guru?

Solusi terhadap persoalan ini memerlukan kerja sama antara keluarga dan sekolah. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan belajar di rumah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesiapan akademik anak. Namun pendampingan tersebut tidak harus dilakukan melalui latihan yang kaku dan menekan.

Orang tua dapat membangun kebiasaan membaca melalui kegiatan sederhana seperti membacakan buku cerita, mengajak anak berdiskusi mengenai gambar dalam buku, mengenalkan huruf melalui permainan, serta menciptakan lingkungan yang kaya akan bahan bacaan. Dengan cara ini, anak dapat mengenal literasi secara alami dan menyenangkan.

Di sisi lain, guru TK dan SD perlu memperkuat koordinasi dalam mempersiapkan masa transisi anak dari TK ke SD. Guru TK dapat memberikan stimulasi literasi awal melalui kegiatan bermain yang sesuai dengan perkembangan anak. Sementara itu, guru SD perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda sehingga kelas 1 SD seharusnya menjadi ruang yang ramah bagi anak untuk belajar membaca dari dasar.

Sekolah juga perlu mengembangkan program transisi yang membantu anak beradaptasi dengan lingkungan belajar baru tanpa memberikan tekanan akademik yang berlebihan. Dengan demikian, anak yang belum lancar membaca tetap memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.

Pada akhirnya, persoalan calistung tidak dapat disederhanakan menjadi pilihan antara mengajarkan atau tidak mengajarkan membaca kepada anak usia dini. Yang lebih penting adalah bagaimana kemampuan tersebut dikenalkan sesuai tahap perkembangan anak serta didukung oleh transisi yang baik antara TK dan SD. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa cepat anak mampu membaca, tetapi juga dari bagaimana mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri, bahagia, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Syrliy Azizah Nawwarani, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Mulawarman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image