Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fitria ainun janah

Bukan Anak Malas, Tapi Belum Sesuai Cara Belajarnya

Rubrik | 2026-06-03 00:08:41
Setiap anak memiliki cara dan tahap perkembangan yang berbeda. Pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhannya akan membantu anak memahami materi dengan lebih mudah dan menyenangkan.

Psikolog perkembangan Jean Piaget menjelaskan bahwa anak berkembang melalui tahapan berpikir yang berurutan. Pada usia sekolah dasar sekitar 6–12 tahun, anak berada dalam tahap operasional konkret. Artinya, mereka belum sepenuhnya mampu memahami hal-hal yang bersifat abstrak. Mereka baru bisa menangkap makna jika disajikan dalam bentuk nyata, bisa dilihat, disentuh, atau dialami langsung.

Masalah muncul ketika guru atau orang tua mengajarkan konsep yang rumit hanya lewat penjelasan lisan atau tulisan di papan tulis. Misalnya, menjelaskan konsep pecahan hanya dengan angka tanpa menggunakan benda seperti potongan roti, buah, atau batang warna. Akibatnya, anak merasa bingung, tidak paham, dan lama-kelamaan kehilangan minat untuk mengikuti pelajaran. Padahal, ini bukan berarti anaknya malas, melainkan cara penyampaiannya yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.

Selain kemampuan berpikir, aspek emosional juga berperan besar. Menurut Erik Erikson, di usia ini anak sedang berusaha membentuk rasa kompetensi dan percaya diri. Ketika ia terus-menerus merasa tidak paham, ia akan mulai berpikir “saya memang tidak pandai”, lalu memilih untuk diam atau terlihat tidak tertarik. Padahal, di balik itu ada keinginan alami untuk memahami, namun belum menemukan cara yang tepat.

Di sekolah saat ini, pendekatan yang seragam masih sering digunakan. Semua siswa diajarkan dengan metode yang sama, kecepatan yang sama, dan penilaian yang sama. Padahal, setiap anak memiliki ritme dan gaya belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami lewat pendengaran, ada yang butuh visual, dan ada yang baru paham setelah bergerak dan mempraktikkan. Ketika kebutuhan ini tidak dipenuhi, anak akan merasa terbebani dan aktivitas belajarnya terlihat seperti kemalasan.


Sudah saatnya kita mengubah pola pikir. Jangan terburu-buru menyebut anak malas hanya karena ia sulit berkonsentrasi atau lambat menangkap pelajaran. Sebaliknya, tanyakanlah: apakah cara mengajarnya sudah sesuai dengan tahap perkembangannya? Apakah disajikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami?

Memahami perkembangan peserta didik berarti melihat potensi di balik setiap tingkah laku anak. Ketika pembelajaran disesuaikan dengan cara kerja pikirannya, yang tadinya terlihat malas bisa berubah menjadi anak yang aktif, antusias, dan percaya diri. Karena hakikatnya, setiap anak memiliki keinginan alami untuk belajar — tinggal bagaimana kita menyalurkannya dengan cara yang tepat.

Penulis

Fitria ainun janah

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Universitas Pamulang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image