Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Daratullaila Nasri

Hamka Bicara Dua Tokoh Komunis dalam Roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck

Sastra | 2026-06-09 20:21:49

Oleh: Daratullaila Nasri

Dosen Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Sumber Gambar: Generate AI

Jamak pembaca mengenal Tenggelamnya Kapal van der Wijck sebagai kisah cinta tragis antara Zanuddin dan Hayati. Roman karya Hamka itu memang berhasil menggugah perasaan pembacanya selama puluhan tahun. Namun bagi saya, roman tersebut menyimpan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kisah percintaan.

Beberapa tahun lalu saya menulis sebuah kajian tentang aspek historis dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Nasri, 2020). Dalam studi tersebut saya membaca roman itu bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai ruang tempat pengarang menyimpan pengalaman sejarah dan ingatan sosial yang hidup pada zamannya. Pembacaan itu membawa saya pada sebuah dugaan, yaitu tokoh Zainuddin kemungkinan memiliki keterkaitan dengan Natar Zainuddin, sedangkan tokoh Muluk dapat dikaitkan dengan Muluk Nasution, dua tokoh yang pernah berperan dalam penyebaran gerakan komunis di Sumatera Barat pada dekade 1920-an. Dugaan tersebut lahir dari pembacaan terhadap berbagai petunjuk yang tersebar dalam roman.

Dalam kajian yang saya tulis, saya melihat bahwa Hamka menghadirkan latar tetang masuknya "paham merah" ke Padang Panjang (Hamka, 1982). latar itu bukan sekadar tempelan sejarah, melainkan bagian penting yang membantu pembaca memahami tokoh-tokoh yang hadir dalam cerita. di antara tokoh tersebut muncul Zainuddin dan Muluk, dua sahabat yang memiliki hubungan sangat erat.

Nama Zanuddin (dalam roman) atau Natar Zainuddin bukanlah nama yang asing dalam sejarah Minangkabau. Dia dikenal sebagai salah seorang tokoh yang menyebarkan gagasan komunis di lingkungan Sumatera Thawalib Padang Panjang. Bersama Haji Datuk Batuah (murid Haji rasul yang sangat pintar), dia berhasil memengaruhi sebagian kalangan muda dan pelajar pada masa itu (Kahin, 2005). Perkembangan gerakan tersebut kemudian menimbulkan gejolak besar di lingkungan pendidikan Islam modern yang dipimpin oleh Haji Rasul, ayah Buya Hamka.

Dalam roman, Zainuddin digambarkan sebagai sosok yang mengalami penolakan dan keterasingan karena cintanya kepada Hayati tidak diterima Hayati dan pihak keluarganya. Oleh karena itu, dia menjadi tokoh yang "terusir." Menariknya, Hamka menampilkan sebuah tonil yang ditulis Zainuddin dengan judul terusir. Ketika membaca bagian ini, saya melihat adanya kemungkinan hubungan simbolik dengan pengalaman Haji Rasul yang pernah meninggalkan Sumatera Thawalib di tengah gejolak berkembang di lembaga pendidikan tersebut.

Kecerugian saya semakin kuat ketika membaca tokoh Muluk. Dalam Roman, tokoh Muluk adalah sahabat paling dekat dengan Zainuddin. Ia hadir ketika Zanuddin berada dalam masa-masa sulit. Ia bukan sekadar teman, tetapi sosok yang mengubah jalan hidup Zainuddin.

Hubungan persahabat yang erat itu mengingatkan saya kepada kedekatan historis antara Natar Zanuddin dan Muluk Nasution. Dalam catatan sejarah, Muluk Nasution merupakan tokoh muda, pemain tonil yang aktif dalam lingkungan pergerakan kiri di Sumatera Barat, terutama di kawasan Silungkang (Hadler, 2010). Ia berada dalam lingkaran gerakan yang sama dengan aktivis yang menyebarkan gagasan komunis pada masa kolonial.

Semua itu pada awalnya hanya hasil pembacaan dan interpretasi saya terhadap teks dan sejarah.

Namun sebuah peristiwa yang saya alami kemudian membuat dugaan tersebut semakin menarik. Ketika berkunjung ke Museum Hamka di Maninjau tahun 2023, saya berkesempatan berbincang dengan putra bungsu Buya Hamka, Syakib Arsalan. Dalam kesempatan itu saya menyampaikan hasil pembacaan yang telah lama saya lakukan.

Saya bertanya kepada beliau:

"Apakah Zanuddin dalam tenggelamnya Kapal van der Wijck sebenarnya merujuk kepada Natar Zainuddin? Dan Tokoh Muluk mengacu kepada Muluk Nasution?

Beliau memberikan respons yang tidak saya duga. dengan mengacungkan dua jempol, beliau memberikan tanda pembenaran. Kemudian beliau berkata, "Memang itu kata Buya kepada saya." Di tengah obrolan kami, beliau mengatakan bahwa selama ini tidak ada orang yang menanyakan hal tersebut.

Saya kemudian melanjutkan pertanyaan yang lebih spesifik?'

"Apakah peristiwa itu berkaitan dengan terusirnya Haji Rasul dari Sumatera Thawalib?"

Kembali beliau memberkan respons yang mengarah pada pembenaran.

Percakapan itu ditutup dengan kalimat yang sangat berkesan bagi saya: "Kalau Anda ingin menulis tentang hal itu, tulislah. Saya akan membantu."

Tentu saja kesaksian lisan tidak dapat menggantikan dokumen sejarah. Namun, bagi saya, peristiwa tersebut menjadi penguat bahwa pembacaan yang saya lakukan tidak sepenuhnya bergerak di ruang spekulasi.

Menariknya lagi, setelah Natar Zainuddin dan beberapa tokoh radikal lainnya ditangkap pemerintah kolonial, Haji Rasul kembali mengajar di Sumatera Thawalib. Peristiwa itu seakan memperoleh pantulan dalam roman melalui tonil yang ditulis Zainuddin, yaitu dengan judul Kembali. Dalam kajian saya, judul tersebut dibaca sebagai simbol kembalinya Haji Rasul ke lingkungan pendidikan yang pernah ditinggalkannya.

Jika pembacaan ini dapat diterima, maka Tenggelamnya kapal van der Wijck bukan hanya roman percintaan. Di balik kisah Zainuddin dan Hayati tersimpan rekaman pergulatan sejarah yang melibatkan ulama, gerakan politik, kolonial, dan perubahan sosial yang mengguncang Minangkabau pada awal abad ke-20.

Hamka tidak sedang menulis sejarah secara lagsung. Namun, sebagai sastrawan besar, ia telah menyimpan serpihan sejarah itu dalam bentuk yang lebih halus, yaitu roman.

Referensi:

Nasri, Daratullaila. 2020. "Historical Materialization as Repertoire in Hamka's Tenggelamnya Kapal van der Wijck Novel Aesthetic Studies By Wolfgang Iser. Tuah Talino, vol. 4 (1), 31 Juli 2020.

Hamka. (1982). Tenggelamnya Kapan van der Wijck. Jakarta: Bulan Bintang.

Kahin, A. (2005). Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1962-1998. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hadler, J. (2010). Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau. Jakarta: Freedom Institute.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image