Pelajaran yang tak Tertulis: Hidden Curriculum dan Relasi Kuasa di Ruang Kelas
Sekolah | 2026-06-08 13:43:12Sekolah dan Kurikulum yang Tidak Terlihat
Sekolah sering dipahami sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar secara formal. Namun, di balik mata pelajaran, buku teks, dan kurikulum, terdapat pelajaran lain yang bekerja secara diam-diam. Pelajaran itu hadir melalui kebiasaan, aturan, budaya sekolah, cara guru berbicara, serta cara siswa diposisikan dalam ruang kelas. Inilah yang disebut sebagai hidden curriculum.
Hidden curriculum tidak tertulis secara terlihat pendidikan, tetapi pengaruhnya sangat kuat. Siswa belajar tentang disiplin, kepatuhan, penghormatan terhadap otoritas, dan batas-batas perilaku yang dianggap pantas. Dalam banyak kasus, siswa tidak hanya belajar “apa yang harus diketahui”, tetapi juga “bagaimana harus bersikap” di hadapan guru dan institusi sekolah.
Relasi Kuasa Guru dan Siswa dalam Ruang Kelas
Pemikiran Michel Foucault membantu menjelaskan bahwa sekolah bukan ruang yang netral. Pendidikan bukan hanya proses penyampaian pengetahuan, tetapi juga arena tempat kuasa bekerja melalui kurikulum, aturan, penilaian, dan struktur kelembagaan.
Dalam relasi guru dan siswa, kuasa tampak melalui posisi guru sebagai pihak yang menentukan kebenaran, memberi nilai, mengatur kelas, dan menetapkan standar keberhasilan. Sementara itu, siswa sering ditempatkan sebagai pihak yang harus menerima, mematuhi, dan menyesuaikan diri. Melalui hidden curriculum, relasi ini menjadi tampak wajar, seolah-olah kepatuhan adalah syarat utama menjadi siswa yang baik.
Masalah muncul ketika kepatuhan lebih dihargai daripada keberanian berpikir kritis. Siswa yang diam dan patuh kerap dianggap ideal, sementara siswa yang bertanya atau berbeda pendapat bisa dipandang mengganggu. Dalam situasi seperti ini, pendidikan berisiko melahirkan individu yang tertib secara akademik, tetapi tidak cukup merdeka secara intelektual.
Menuju Pendidikan yang Lebih Dialogis
Relasi kuasa antara guru dan siswa tidak selalu harus dipahami secara negatif. Otoritas guru tetap dibutuhkan agar pembelajaran berjalan terarah. Namun, otoritas itu perlu dijalankan secara reflektif, bukan sekadar untuk mengontrol siswa. Guru seharusnya menggunakan posisinya untuk membuka ruang dialog, bukan menutup kemungkinan siswa untuk bertanya dan berpikir berbeda.
Foucault menunjukkan bahwa disiplin dan pengawasan dalam pendidikan dapat membentuk cara siswa mengatur dirinya sendiri. Karena itu, sekolah perlu menyadari bahwa aturan dan kebiasaan sehari-hari bukan hal yang netral. Semuanya ikut membentuk karakter, identitas, dan cara berpikir siswa.
Pada akhirnya, hidden curriculum mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga soal relasi sosial yang dibangun di dalamnya. Jika sekolah ingin melahirkan generasi yang kritis, demokratis, dan berani berpikir, maka hubungan guru dan siswa perlu dibangun atas dasar dialog, penghargaan, dan kepercayaan. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kepatuhan, tetapi bergerak menuju pembebasan cara berpikir.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
