Di Balik Ramainya Bimbel: Hidden Curriculum yang Jarang Dibicarakan
Pendidikan dan Literasi | 2026-07-01 14:45:58
Setiap menjelang Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), pemandangan yang sama selalu terulang. Media sosial dipenuhi iklan program "intensif lolos PTN", baliho bimbingan belajar (bimbel) bermunculan di berbagai kota, sementara ribuan siswa rela mengikuti kelas hingga larut malam demi mengejar kampus impian. Bahkan, tidak sedikit lembaga bimbel yang menawarkan program karantina belajar selama berminggu-minggu dengan biaya jutaan hingga belasan juta rupiah. Fenomena ini menunjukkan bahwa bimbel bukan lagi sekadar pelengkap pembelajaran, tetapi telah menjadi bagian dari strategi yang dianggap penting untuk memenangkan persaingan masuk perguruan tinggi.
Di sisi lain, kondisi tersebut muncul ketika kualitas pembelajaran di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa capaian siswa Indonesia dalam matematika, membaca, dan sains masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Bahkan, hasil 2022 menjadi salah satu capaian terendah Indonesia sejak mengikuti PISA. Hanya sekitar 18% siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum (Level 2) dalam matematika, sedangkan rata-rata negara OECD mencapai 69% Pada bidang sains, hanya 34% siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 76%.
Kondisi tersebut membuat banyak orang tua merasa bahwa sekolah saja belum cukup. Akibatnya, bimbel dipandang sebagai solusi untuk menutup kesenjangan pembelajaran sekaligus meningkatkan peluang lolos SNBT. Namun, di balik ramainya ruang-ruang bimbel, terdapat proses pendidikan lain yang jarang dibicarakan, yaitu hidden curriculum.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan individu, tetapi juga oleh kepemilikan modal budaya (cultural capital), yakni pengetahuan, kebiasaan belajar, cara berkomunikasi, strategi menghadapi ujian, hingga rasa percaya diri yang diwariskan dan diperkuat melalui lingkungan sosial.
Dalam konteks Indonesia, bimbel menjadi ruang produksi modal budaya tersebut. Siswa bukan hanya mempelajari materi pelajaran, tetapi juga memperoleh teknik membaca pola soal SNBT, strategi manajemen waktu, cara berpikir yang berorientasi pada skor, serta budaya kompetisi yang sangat kuat. Semua itu merupakan bentuk hidden curriculum karena tidak pernah tertulis dalam silabus, tetapi justru menjadi pelajaran yang paling berpengaruh terhadap cara siswa memaknai pendidikan.
Yang menarik, modal budaya tersebut tidak dapat diakses secara merata. Ketika sebagian siswa mampu mengikuti program intensif, membeli paket try out, memperoleh pendampingan mentor, hingga mengakses ribuan bank soal, sebagian siswa lainnya hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah. Akibatnya, persaingan SNBT tampak berlangsung secara adil karena seluruh peserta mengerjakan soal yang sama. Namun, jika dilihat melalui kacamata Bourdieu, para peserta sesungguhnya memasuki ruang kompetisi dengan modal budaya yang berbeda-beda.
Temuan OECD juga memperlihatkan bahwa latar belakang sosial ekonomi masih berkaitan dengan capaian belajar siswa. Dalam PISA 2022, sekitar 43% peserta didik Indonesia berasal dari kelompok sosial ekonomi terbawah dalam skala internasional. Di sisi lain, siswa dari kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi memperoleh capaian matematika yang lebih baik dibandingkan kelompok terbawah. Fakta ini menunjukkan bahwa kesempatan belajar masih dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi keluarga, bukan semata-mata oleh kemampuan akademik.
Di sinilah bimbel berperan sebagai arena reproduksi sosial sebagaimana dijelaskan Bourdieu. Bimbel memang membantu meningkatkan kemampuan belajar, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi memperbesar keuntungan bagi mereka yang sejak awal memiliki sumber daya ekonomi lebih baik. Pendidikan akhirnya tidak hanya menjadi ruang belajar, melainkan juga ruang distribusi kesempatan yang tidak selalu setara.
Karena itu, perdebatan mengenai bimbel seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah bimbel efektif meningkatkan nilai atau membantu siswa lolos SNBT. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah sistem pendidikan kita sedang bergerak menuju kompetisi yang semakin bergantung pada kemampuan membeli layanan pendidikan tambahan.
Bimbel tentu bukan penyebab rendahnya kualitas pendidikan Indonesia, apalagi musuh bagi sekolah. Kehadirannya justru menunjukkan bahwa masyarakat memiliki harapan besar terhadap masa depan anak-anak mereka. Namun, ketika keberhasilan akademik semakin ditentukan oleh akses terhadap modal budaya yang diperoleh melalui pendidikan tambahan berbayar, kita perlu bertanya kembali apakah pendidikan masih menjalankan fungsi utamanya sebagai ruang yang memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua.
Pada akhirnya, hidden curriculum di balik ramainya bimbel mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga mereproduksi cara berpikir, budaya berkompetisi, dan distribusi kesempatan. Selama isu ini belum menjadi bagian dari diskusi publik, bimbel akan terus dipandang sekadar tempat belajar tambahan. Padahal, ia juga menjadi cermin bagaimana ketimpangan sosial bekerja secara halus melalui dunia pendidikan, sesuatu yang sejak lama telah diingatkan oleh Pierre Bourdieu.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
