Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin Eviyanti

Tangis Gaza dan Wajah Dunia yang Kehilangan Nurani

Politik | 2026-06-07 13:35:53

Oleh Amelia Ayu Permatasari S. S.Psi

Aktivis Dakwah

Tangis anak-anak Gaza hari ini tidak selalu terdengar. Sebagiannya bahkan telah berubah menjadi sunyi yang memilukan. Di tengah reruntuhan rumah, kehilangan keluarga, dan bayang-bayang ledakan yang tak kunjung reda, masa kecil mereka tercerabut sebelum sempat tumbuh utuh.

Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan kepada BBC bahwa setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak menderita trauma berat akibat perang dan serangan yang berkepanjangan. Fakta ini bukan sekadar angka statistik kemanusiaan, melainkan gambaran luka kolektif yang sedang diwariskan pada satu generasi.

Trauma itu bahkan meninggalkan dampak yang sangat serius. Sebagian anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara. Mereka membisu, bukan karena tak memiliki bahasa, tetapi karena rasa takut, kehilangan, dan tekanan psikologis telah melampaui batas yang mampu ditanggung jiwa anak-anak.

Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza jelas tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan konsekuensi dari kekerasan yang terus berlangsung—serangan yang merenggut nyawa, menghancurkan rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, serta ruang aman yang seharusnya melindungi anak-anak. Ketika ledakan menjadi suara harian dan kematian menjadi pengalaman yang akrab, kerusakan tidak hanya terjadi pada bangunan, tetapi juga pada fisik dan mental manusia.

Apa yang dialami rakyat Gaza memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya menargetkan wilayah, melainkan juga daya hidup suatu masyarakat. Anak-anak yang kehilangan keluarga, pendidikan, dan kesehatan mental menghadapi risiko panjang berupa gangguan psikologis, kesulitan sosial, hingga hilangnya rasa aman terhadap kehidupan itu sendiri. Luka semacam ini dapat bertahan jauh lebih lama dibanding kehancuran fisik yang tampak di layar televisi.

Ironisnya, dunia yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia tampak belum mampu menghentikan tragedi ini secara nyata. Berbagai kecaman, forum diplomatik, dan bantuan kemanusiaan memang hadir, tetapi sering kali belum cukup untuk menghentikan siklus penderitaan yang terus berulang. Bantuan makanan dan obat-obatan penting, tetapi tidak akan pernah cukup bila sumber kekerasan dan penjajahan yang melahirkan krisis kemanusiaan tetap berlangsung.

Situasi ini juga memunculkan pertanyaan serius terhadap peran negara-negara Muslim. Di tengah penderitaan Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun, respons yang lahir kerap dipandang belum sebanding dengan skala tragedi yang terjadi. Solidaritas simbolik dan pernyataan politik belum berhasil menjawab kebutuhan mendasar rakyat Gaza: perlindungan, keamanan, dan kebebasan hidup tanpa ancaman perang.

Karena itu, penderitaan anak-anak Palestina tidak boleh dipandang semata sebagai masalah trauma yang membutuhkan terapi psikologis. Terapi penting, tetapi tidak cukup. Luka anak-anak Gaza hanya dapat benar-benar dipulihkan bila akar persoalan diselesaikan—yakni berakhirnya kekerasan, penjajahan, dan kondisi yang terus melahirkan penderitaan.

Tangis Gaza sesungguhnya bukan hanya ujian bagi rakyat Palestina, melainkan juga cermin bagi dunia. Ketika anak-anak kehilangan suara akibat trauma, pertanyaan yang lebih besar justru harus diarahkan kepada kita semua: masih adakah nurani yang hidup untuk menghentikan tragedi ini, atau dunia telah terlalu lama belajar hidup berdampingan dengan penderitaan?

Gaza hari ini bukan sekadar berita luar negeri. Ia adalah ukuran tentang seberapa jauh kemanusiaan masih memiliki arti. Sebab jika jeritan anak-anak yang membisu saja gagal menggugah dunia, mungkin yang sedang terluka bukan hanya Gaza—melainkan juga nurani peradaban manusia itu sendiri.

Penderiataan anak-anak Gaza harus segera diakhiri secepatnya. Mereka tak hanya sekedar membutuhkan terapi pasca trauma. Namun mereka membutuhkan tempat dan lingkungan yang aman dan terbebas dari penjajahan zionis Israel.

Kejahatan zionis tak bisa di biarkan terus berlangsung. Umat muslim membutuhkan pelindung. Khilafahlah menjadi satu-satunya jawaban yang relevan. Kekuatan penjajahan zionis hanya bisa dengan kekuatan Daulah Islam. Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fi sabilillah. Khilafah akan mengarahkan tentaranya demi pembebasan Palestina.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image