Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ananda Mawadasoe16

Tragedi Dukuh Paruk dan Capeknya Rasus Jadi Orang Waras di Desa yang Naif

Eduaksi | 2026-06-07 10:22:06

Pernah gak sih kamu merasa gemas sendiri saat lagi kerja kelompok atau di tongkrongan karena cuma kamu satu-satunya orang yang mikir logis sedangkan yang lain malah sibuk percaya hoaks atau kemakan omongan manis orang luar? Rasanya pasti capek sekali, ingin marah tapi bingung harus mulai dari mana.

Nah, kalau kamu pernah merasa di posisi itu, percayalah kalau penderitaanmu belum ada apa-apanya dibanding apa yang dialami oleh Rasus. Dia adalah salah satu tokoh utama dalam novel legendaris karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Rasus ini ibarat selembar kertas putih yang berhasil keluar dari lumpur hitam bernama Dukuh Paruk, tapi saat dia kembali lagi ke desanya, dia malah pusing sendiri karena jadi satu-satunya orang pintar di antara orang-orang yang naifnya tak tertolong.

Lewat mata Rasus, Ahmad Tohari sebenarnya tidak hanya ingin cerita soal penari ronggeng bernama Srintil. Beliau justru ingin menunjukan sebuah realitas pahit yang nyata adanya: betapa apesnya jadi orang melek di tengah-tengah masyarakat yang masih kolot, buta huruf, dan tunduk sama mitos.

Begini gambaran capeknya Rasus pas harus jadi orang paling waras di desanya sendiri.

 

  • Ketika Logika Gak Mempan Melawan Mitos dan Dukun

Dukuh Paruk itu digambarkan sebagai desa terpencil yang benar-benar terisolasi dari peradaban modern. Di saat dunia luar sudah mulai berkembang, warga Dukuh Paruk hidupnya cuma berputar di sekeliling makam Ki Secamenggala, leluhur desa yang mereka agung-agungkan. Bagi mereka, apa kata dukun bertindak adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Saat Rasus memutuskan keluar dari desa dan bergabung jadi tentara, pikirannya mendadak terbuka luas. Dia mulai belajar membaca, melihat dunia luar yang rasional, dan paham kalau hidup itu digerakkan oleh logika, bukan hanya lewat sesajen atau jampi-jampi.

Lucunya, saat Rasus balik ke desa dengan seragam tentara dan pemikiran yang sudah maju, dia malah menemukan kenyataan kalau warga desanya masih saja jalan di tempat. Mau dinasehati pakai logika bagaimanapun, omongan Rasus bakal kalah telak kalau sang dukun ronggeng sudah bersabda. Kebayang kan gimana jengkelnya jadi Rasus? Di luar desa dia dihormati sebagai aparat yang melek hukum, tapi di kampung halaman sendiri, dia cuma bisa geleng-geleng kepala melihat warganya yang dikit-dikit menghubungkan masalah hidup dengan urusan mistis.

 

  • Cara Licik Orang Kota Memanfaatkan Warga Desa yang Buta Huruf

Capeknya Rasus makin naik ke level maksimal pas badai politik tahun 1965 mulai mendekat ke desanya. Karena warga Dukuh Paruk itu semuanya buta huruf dan gak tahu apa-apa soal politik negara, mereka jadi sasaran empuk para elite politik dari kota yang datang membawa bendera partai.

Warga desa dikasih tontonan gratis, dipuji-puji, dan dibikinkan panggung kesenian ronggeng yang megah. Bagi warga Dukuh Paruk yang miskin dan haus hiburan, mereka mikirnya orang-orang kota ini baik banget kayak malaikat. Mereka dengan senang hati memakai atribut partai dan meneriakkan yel-yel politik tanpa tahu kalau mereka sebenarnya cuma dijadikan alat dan tameng demi kepentingan kekuasaan.

Di sini kontrasnya kelihatan banget. Rasus yang punya pikiran lebih luas sudah mencium aroma bahaya. Dia tahu kalau desanya sedang dimanipulasi secara licik dan pelan-pelan sedang diseret ke jurang kehancuran. Tapi apa daya, sendirian melawan sekampung yang lagi euforia itu mustahil. Usaha Rasus untuk mengingatkan mereka mental begitu aja karena warga desa sudah telanjur terkena doktrin dan merasa paling benar sendiri.

 

  • Wong Cilik yang Jadi Korban Akibat Terlalu Naif

Akhir dari ketidakmauan warga desa untuk berpikir luas ini berujung pada tragedi yang sangat menohok. Saat angin politik berbalik arah, Dukuh Paruk langsung dicap sebagai desa pemberontak. Rumah-rumah mereka dibakar, kesenian mereka dilarang, dan warga desanya ditangkap serta disiksa tanpa mereka pernah tahu apa sebenarnya kesalahan yang sudah mereka perbuat.

Rasus akhirnya hanya bisa menonton dengan hati hancur melihat desa kelahirannya rata dengan tanah akibat kebodohan warganya sendiri. Penyesalan emang selalu datang di akhir, dan harga yang harus dibayar oleh Dukuh Paruk akibat menolak buat jadi pintar itu mahal banget: seluruh ruang hidup dan masa depan mereka hancur lebur digulung sejarah.

Melalui karakter Rasus yang ditulis dengan sangat ciamik ini, Ahmad Tohari seolah melempar tamparan keras buat kita semua yang hidup di zaman sekarang. Menjadi orang pintar dan waras di tengah lingkaran orang-orang yang naif itu emang melelahkan. Tapi kalau kita memilih untuk mengabaikan dan ikut-ikutan jadi bodoh, siap-siap saja nasib kita bakal berakhir tragis kayak warga Dukuh Paruk: dikorbankan dan dikambinghitamkan oleh keadaan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image