Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Putri Nurazizah

Membaca Ulang Ronggeng Dukuh Paruk: Lebih dari Sekedar Kisah Ronggeng

Sastra | 2026-06-10 14:12:01
Novel Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari (Sumber: Dokumen Pribadi

Tokoh Srintil menjadi pusat narasi dalam novel ini. Ia dihormati dan dipuja karena dianggap memberi kebanggaan bagi Dukuh Paruk. Namun, penghormatan tersebut justru menjadi pengikat yang membuatnya sulit menentukan arah hidupnya sendiri. Melalui cerita Srintil, pembaca diajak melihat bagaimana tradisi bisa menjadi hal yang membuat seseorang bangga, sekaligus menjadi alasan kebebasannya hilang.

Yang membuat novel ini begitu mendalam adalah cara Ahmad Tohari menggambarkan kehidupan masyarakat kecil dengan sangat realistis. Ia tidak hanya menceritakan kisah seorang ronggeng, tetapi juga menggambarkan kehidupan yang miskin, perasaan cinta yang tidak terwujud, ketidakadilan dalam masyarakat, serta harapan yang tetap hidup meskipun di tengah keterbatasan.

Membaca kembali Ronggeng Dukuh Paruk membuat saya menyadari bahwa karya sastra terbaik bukan hanya menceritakan kehidupan, tetapi juga mampu membuat pembaca merasakan pengalaman hidup itu secara langsung. Itulah sebabnya novel ini tetap hidup, relevan, dan terus menggugah hati pembaca dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image