Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Publik Indonesia Percaya Sains, Tapi Mengapa Imunisasi Masih Jadi Perdebatan?

Iptek | 2026-07-01 07:48:44

Hasil riset Nature Human Behaviour yang dipublikasikan Januari 2025 mencatat tingkat kepercayaan publik Indonesia terhadap ilmuwan mencapai 3,84 dari skala 5, lebih tinggi dari rata-rata global 3,62. Angka ini menempatkan Indonesia sejajar dengan Malaysia dan Meksiko.

Tapi angka itu terasa janggal jika kita lihat kenyataan di lapangan. Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Prof. Yudi Darma, mengingatkan bahwa kepercayaan yang tinggi tidak otomatis berarti keterlibatan masyarakat dalam agenda sains. Publik merasa suara mereka jarang didengar. Ada kesenjangan antara harapan masyarakat dan arah riset yang dilakukan.

Data lain dari Kemdiktisaintek bahkan menyebutkan bahwa sebagian besar kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia masih jauh dari sains dan teknologi. Akibatnya, masyarakat jadi lebih mudah percaya pada hoaks dan informasi yang tidak berdasar.

Lalu bagaimana menjelaskan fakta bahwa di tengah kepercayaan yang tergolong tinggi, Indonesia justru bergulat dengan krisis imunisasi?

Ilustrasi vaksinasi. Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Saat Ketakutan Mengalahkan Fakta

Sepanjang awal 2026, kasus campak di Indonesia melonjak drastis. Per Februari 2026 saja sudah tercatat 8.810 kasus suspek dan 12 Kejadian Luar Biasa di 6 provinsi. Bahkan pada minggu pertama 2026, tercatat sekitar 2.932 kasus suspek, menjadi puncak awal lonjakan tahun itu. Hingga awal Maret 2026, tercatat 10.453 kasus suspek campak, 8.372 kasus terkonfirmasi. Di tengah lonjakan ini, Kementerian Kesehatan justru mengakui anggaran untuk program imunisasi nasional masih kekurangan sekitar Rp1 triliun pada tahun 2026. Sementara itu, lebih dari 2 juta anak di Indonesia belum mendapatkan imunisasi dasar atau zero dose per April 2026.

Keraguan terhadap vaksin atau vaccine hesitancy menjadi salah satu hambatan serius. Kasus nyata datang dari Banten. Seorang ibu rumah tangga mengaku khawatir dengan lonjakan kasus campak, tapi kekhawatiran itu tidak cukup untuk membuatnya memvaksinasi keempat anaknya. Ketakutan beliau dipicu oleh informasi keliru di media sosial tentang vaksin yang menyebabkan kelumpuhan. Anak pertamanya pernah demam setelah menerima vaksin tuberkulosis saat bayi, dan pengalaman itu diperkuat oleh berbagai unggahan yang membuatnya semakin takut. Ia memilih memberikan makanan bergizi dan vitamin sebagai pengganti vaksin.

Kasus serupa juga ditemukan di Makassar. Seorang pengusaha berusia 46 tahun memilih tidak memvaksinasi kelima anaknya karena khawatir kandungan vaksin tidak halal, meskipun Majelis Ulama Indonesia sudah mengeluarkan fatwa pada 2018 yang menyatakan vaksin diperbolehkan demi kesehatan masyarakat, walau mengandung gelatin babi.

Studi oleh firma data Drone Emprit menemukan retorika anti-vaksin ada di hampir semua platform media sosial utama Indonesia, dengan jumlah orang yang terpapar cukup besar. Kelompok anti-vaksin memang lebih kecil jumlahnya, tapi biasanya lebih vokal. Banyak influencer menggunakan platform mereka untuk menjual ramuan herbal yang tidak terbukti sebagai alternatif. Akibatnya, kekebalan kelompok (herd immunity) menjadi terganggu.

Mukjizat yang Terlupakan

Di tengah hiruk-pikuk hoaks dan keraguan ini, saya teringat pada dua kisah yang semestinya membuat kita percaya pada kekuatan sains. Kisah pertama tentang insulin. Tahun 1921, Leonard Thompson, remaja 14 tahun, terbaring koma karena diabetes di Toronto. Saat itu diabetes tipe 1 adalah hukuman mati. Tapi Frederick Banting dan Charles Best menyuntikkan ekstrak pankreas ke pahanya. Dalam hitungan jam, Leonard sadar. Anak-anak lain yang sekarat perlahan bangkit kembali. Ini adalah salah satu momen paling emosional dalam sejarah kedokteran.

Kisah kedua tentang vaksin polio. Dr. Jonas Salk menemukan vaksinnya pada 1955. Uji coba melibatkan 1,8 juta anak. Ketika ditanya siapa yang memegang paten, Salk menjawab, "Tidak ada paten. Bisakah kau mematenkan matahari?" Ia memberikan vaksinnya gratis ke seluruh dunia.

Di Indonesia, kampanye vaksinasi massal polio pertama dimulai pada 1959. Vaksin Salk dan vaksin oral dari Albert Sabin menjadi penentu dalam perjuangan Indonesia melawan polio. Setelah Pekan Imunisasi Nasional tiga tahun berturut-turut pada 1995, 1996, dan 1997, virus polio liar asli Indonesia tidak ditemukan lagi sejak 1996. Pada Maret 2014, Indonesia menerima sertifikasi bebas polio dari WHO.

Tapi hari ini, Indonesia justru masih masuk dalam daftar negara yang dipantau terkait kasus polio. Vaksin polio bahkan menjadi syarat wajib bagi jemaah haji asal Indonesia karena status tersebut. Dua penyakit yang dulu dianggap kutukan, kini bisa dicegah. Tapi kisah-kisah ini nyaris tenggelam. Publik lebih akrab dengan debat vaksin di linimasa daripada cerita bagaimana vaksin pernah menyelamatkan jutaan anak Indonesia dari polio.

Sains Bukan untuk Dipolitisasi

Kita terlalu sering menyajikan sains sebagai barang kontroversial yang perlu dibela. Padahal, cara paling efektif mengembalikan kepercayaan publik adalah dengan menceritakan kembali mukjizat ilmiah yang sudah benar-benar terjadi. Kita juga tidak perlu memberi panggung berlebihan pada temuan laboratorium yang masih jauh dari manusia. Mereka memberi contoh terapi anti-angiogenik yang berhasil membunuh tumor pada tikus di tahun 1996, digembar-gemborkan sebagai terapi ajaib, tapi gagal total saat diujikan ke manusia. Kasus seperti ini hanya menambah kekecewaan publik.

Di Indonesia, tantangannya lebih kompleks. Kepercayaan publik terhadap ilmuwan tergolong tinggi, tapi partisipasi rendah. Ada kesenjangan antara harapan masyarakat dan arah riset. Ilmuwan dinilai kurang terbuka pada umpan balik. Publik merasa suara mereka jarang didengar.

Untungnya, ada upaya. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan Program Semesta untuk menghadirkan sains dan teknologi yang inklusif, aplikatif, dan berkelanjutan. The Conversation Indonesia juga menjalin kemitraan dengan Ditjen Saintek untuk membumikan sains ke publik. Akademisi muda melalui Indonesian Young Academy of Sciences (ALMI) menjalankan program SAINS45 dan Science for Indonesia's Biodiversity untuk menjangkau pembuat kebijakan, media, dan sekolah.

Tapi semua ini masih terasa seperti tetesan air di lautan. Selama hoaks anti-vaksin lebih cepat menyebar daripada fakta ilmiah, selama influencer lebih dipercaya daripada ilmuwan, selama publik lebih akrab dengan gosip daripada kisah bagaimana sains pernah menyelamatkan nyawa, kita masih punya pekerjaan rumah besar.

Sains bukan sekadar alat mencari kebenaran. Sains adalah disiplin untuk tidak mudah puas dengan cerita yang nyaman. Ketika seorang ilmuwan berhasil menyembuhkan pasien yang sebelumnya tak tersembuhkan, itu bahasa universal. Tidak ada debat. Semua orang paham.

Maka tugas kita, jurnalis, akademisi, komunikator sains, dan siapa pun yang peduli, adalah mengisahkan ulang penemuan-penemuan yang benar-benar mengubah hidup. Tanpa hiperbola. Tanpa tendensi. Tapi dengan jujur dan menggugah. Karena jika publik sudah lupa dengan keajaiban sains, jangan salahkan mereka jika akhirnya mereka justru percaya pada omong kosong.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image