Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Agus Budiana

Mengapa Orang Mudah Percaya Informasi?

Kolom | 2026-07-21 10:42:32
Ilustrasi Generated AI

Ada satu kebiasaan kecil yang mungkin tidak kita sadari, menekan tombol "bagikan" jauh lebih cepat daripada membaca isi berita sampai tuntas. Judul yang terasa "pas" dengan apa yang sudah kita duga selama ini pun langsung dianggap benar, tanpa perlu dicek lagi.

Kalau pola ini terasa familiar, tenang saja, hampir semua orang mengalaminya. Fenomena ini terjadi setiap hari, di setiap linimasa, pada hampir semua orang, termasuk mereka yang merasa dirinya paling kritis sekalipun.

Kita hidup di tengah banjir informasi yang datang begitu deras, dari WhatsApp keluarga besar, unggahan teman di media sosial, sampai judul berita yang sengaja dibuat heboh. Anehnya, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit pula kita memilah mana yang benar dan mana yang sekadar bikin heboh.

Ada sesuatu dalam cara kerja otak dan hati manusia yang membuat kita begitu mudah percaya, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya, kalau dipikir sedikit lebih tenang, tidak masuk akal.

Otak yang Selalu Mencari Jalan Pintas

Manusia bukan mesin pemroses data yang netral. Kita cenderung menyaring dunia lewat kacamata yang sudah kita pakai sejak lama, yaitu keyakinan, pengalaman, dan nilai-nilai yang sudah tertanam.

Begitu ada informasi baru yang sejalan dengan apa yang sudah kita percayai, otak seolah berkata, "Nah, benar, kan?" Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan keyakinan lama sering kita abaikan begitu saja, meski faktanya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kajian ilmu komunikasi yang dipublikasikan dalam Jurnal Bricolage oleh Bafadhal dan Santoso menunjukkan bahwa platform media sosial dirancang untuk menyebarkan informasi secepat mungkin, dan algoritmanya cenderung mengutamakan konten yang menarik perhatian atau provokatif tanpa memverifikasi kebenarannya lebih dulu, sehingga hoaks bermuatan klaim sensasional justru mendapat lebih banyak perhatian dan lebih sering dibagikan.

Riset yang sama juga menyoroti bahwa manusia secara alami cenderung mempercayai informasi yang selaras dengan pandangan atau keyakinan yang sudah mereka pegang.

Inilah yang dalam kajian komunikasi dikenal sebagai bias konfirmasi, jalan pintas mental yang membuat kita malas mempertanyakan sesuatu yang "kebetulan" cocok dengan apa yang sudah kita yakini.

Bayangkan seseorang yang percaya anak pertama pasti lebih pintar dari adik-adiknya. Begitu bertemu bukti yang mendukung anggapan itu, ia langsung mengangguk setuju, sementara bukti sebaliknya begitu saja lewat tanpa diperhatikan.

Kombinasi antara desain algoritma dan kecenderungan bias konfirmasi inilah yang membuat pola konsumsi informasi kita semakin sempit. Kita tidak sedang mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran, dan ironisnya, mesin di balik layar media sosial justru dirancang untuk terus menyodorkan pembenaran itu.

Emosi Bergerak Lebih Cepat daripada Nalar

Selain soal keyakinan lama, ada faktor lain yang membuat kita begitu rentan, yaitu emosi. Coba perhatikan, berita yang paling cepat viral biasanya bukan yang paling akurat, melainkan yang paling mengaduk perasaan, entah itu rasa takut, marah, atau penasaran. Sebuah kabar horor, misalnya, sering kali terus dibaca dan dibagikan meski sudah berkali-kali terbukti tidak benar.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Abie Besman, menilai bahwa hoaks cenderung terlihat lebih masif ketika kepentingan dan emosi publik sedang tinggi. Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak lagi menempatkan informasi sebagai sesuatu yang perlu diuji, melainkan langsung menerimanya karena dianggap selaras dengan sikap, pilihan, atau keyakinan pribadi.

Ia juga menjelaskan bahwa hoaks bertema politik lebih mudah dipercaya karena menyentuh aspek yang paling dekat dengan kehidupan individu, seperti identitas dan afiliasi. Akibatnya, masyarakat cenderung mengesampingkan sikap kritis dan tidak lagi mempertanyakan sumber maupun kepentingan di balik pesan yang diterima.

Penjelasan ini membantu memahami mengapa isu-isu yang menyentuh emosi baik horor, ketakutan, maupun kemarahan politik seolah memiliki nyawa sendiri: terus muncul kembali meski faktanya telah berulang kali dibantah.

Dalam keseharian, pola ini mudah dikenali. Pesan berantai soal penculikan anak, isu kesehatan yang memicu kepanikan, atau kabar bencana yang belum tentu benar memiliki kesamaan: memancing reaksi emosional lebih dahulu, baru kemudian, kalau sempat, diverifikasi.

Masalahnya, ketika emosi sudah terlanjur naik, keinginan untuk mengecek kebenaran justru semakin kecil. Jari sudah lebih dulu menekan tombol "bagikan" sebelum otak sempat bertanya, "Ini benar atau tidak?"

Malas Verifikasi, Nyaman dalam yang Familiar

Mungkin yang paling jujur untuk diakui, adalah kemalasan. Mengecek kebenaran sebuah informasi membutuhkan usaha: mencari sumber, membandingkan data, dan membaca sampai tuntas.

Sementara itu, percaya begitu saja jauh lebih cepat dan tidak melelahkan. Ditambah lagi, semakin sering sebuah informasi diulang, sekalipun salah, semakin ia terasa akrab, dan rasa akrab itu sering keliru kita anggap sebagai tanda kebenaran.

Pendiri Klinik Digital Vokasi Komunikasi Universitas Indonesia UI, Dr. Devie Rahmawati, menyayangkan kebiasaan masyarakat yang mengutamakan kecepatan dalam menyebarkan informasi dibandingkan keakuratannya, sehingga kesalahan informasi menjadi mudah terjadi dan meluas.

Ia juga mengacu pada penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menunjukkan bahwa berita palsu menyebar lebih cepat, lebih jauh, dan menjangkau lebih banyak orang dibandingkan informasi yang benar.

Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa hoaks yang terus diulang di berbagai platform, meski berasal dari sumber yang berbeda-beda, lama-kelamaan terasa seperti kebenaran yang telah teruji. Padahal, yang sebenarnya terjadi hanyalah pengulangan informasi tanpa proses verifikasi.

Realitas keseharian kita memang dipenuhi godaan untuk mengambil jalan pintas ini. Grup keluarga penuh forward berantai, linimasa media sosial yang algoritmanya justru menyodorkan hal-hal yang ingin kita dengar, dan waktu yang selalu terasa kurang untuk berhenti sejenak dan bertanya,

"Betulkah ini?" Semua itu membuat sikap kritis menjadi barang mewah yang sering kita korbankan demi kecepatan dan kenyamanan.

Menutup dengan Sedikit Jeda

Percaya pada informasi bukanlah dosa, karena manusia memang makhluk yang perlu mempercayai sesuatu untuk bisa bertindak dan mengambil keputusan. Namun ada beda tipis antara percaya dan lengah.

Beda tipis itu bisa dijembatani dengan kebiasaan sederhana: memberi jeda sebelum menekan tombol bagikan, membaca sampai tuntas sebelum menyimpulkan, dan sesekali mempertanyakan hal-hal yang justru paling kita yakini. Sebab pada akhirnya, dunia yang penuh informasi ini tidak membutuhkan kita untuk lebih cepat percaya, melainkan lebih tenang berpikir.

Agus Budiana adalah jurnalis yang menulis isu media, komunikasi, literasi digital, dan perkembangan kecerdasan artifisial (AI).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image