Membangun Generasi Berilmu dan Berakhlak di Era Kecerdasan Buatan (AI)
Agama | 2026-06-05 12:14:27
الحمد لله، الحمد لله الملك القدوس السلام. الذي علّم بالقلم، علّم الإنسان ما لم يعلم، ورفع أهلَ العلمِ على سائر الأممِ، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، ذو الجلال والإكرام. وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله،خيرُ من صلَّى وصامَ وقامَ. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آلهالطيبين الكرامِ، وصحابته الغُرِّ الأعلامِ، ومن سار على نهجهمإلى يوم الحشر والختامِ
أما بعدُ فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله ، فقد فازالمتقون.
اتقوا الله حقَّ تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat jumat Rahimakumullah,
Tema khutbah jumat kali ini berjudul: "MembangunGenerasi Berilmu dan Berakhlak di Era KecerdasanBuatan (AI)" Allah SWT membuka wahyu pertamakepada Nabi Muhammad ﷺ bukan dengan perintahberperang, bukan pula dengan perintah membangunkekuasaan, tetapi dengan satu kata yang sangat agung:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)
Ini menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun pertama kali di atas fondasi ilmu. Hari ini kita hidup dalam sebuah zaman yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya. Dunia sedang memasuki era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi mampu menulis, menerjemahkan, membuat gambar, menganalisis data, bahkan membantu pengambilan keputusan. Sebagian orang takut terhadap perubahan ini. Sebagian lainnya terlalu mengagungkannya. Padahal seorang Muslim harus bersikap seimbang. Teknologi bukan Tuhan yang harus disembah. Tetapi teknologi juga bukan musuh yang harus ditakuti. Ia adalah alat yang harus diarahkan oleh iman dan akhlak.
Ma'asyiral Muslimin,
Laporan The Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum memperkirakan bahwa dunia akan mengalami perubahan besar dalam struktur pekerjaan hingga tahun 2030. Sekitar 170 juta pekerjaan baru diperkirakan lahir, sementara jutaan pekerjaan lama akan berkurang akibat otomatisasi dan perkembangan teknologi. Laporan yang sama menunjukkan bahwa kemampuan yang paling dibutuhkan pada masa depan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga: berpikir kritis, kreativitas, kemampuan belajar sepanjang hayat, kepemimpinan, serta kecerdasan sosial dan emosional.
Perhatikanlah, jamaah sekalian. Mesin dapat menghitung lebih cepat daripada manusia. AI dapat mengolah data lebih cepat daripada manusia. Tetapi akhlak tidak dapat digantikan oleh mesin. Kejujuran tidak dapat diprogram. Ketakwaan tidak dapat diunduh. Keikhlasan tidak dapat dibuat oleh algoritma. Karena itu umat Islam tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus menjadi pembangun peradaban yang memandu teknologi dengan nilai-nilai wahyu. Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Dinmenjelaskan bahwa ilmu tanpa akhlak dapat menjadi sebab kerusakan yang luar biasa, sedangkan akhlak tanpa ilmu dapat menyebabkan kesesatan. Karena itu Islam selalu menggabungkan keduanya: العلم والأدبIlmu dan adab.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan hanya teknologi. Tetapi kualitas manusia yang menggunakannya. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 72% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Artinya informasi berada dalam genggaman hampir seluruh masyarakat. Namun pertanyaannya: Apakah akses informasi itu diiringi dengan kebijaksanaan? Apakah kemajuan digital diiringi dengan kemajuan akhlak? Apakah anak-anak kita semakin cerdas atau hanya semakin sibuk dengan layar? Sebagian penelitian pendidikan menunjukkan bahwa literasi dan kemampuan berpikir mendalam masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa Indonesia. Data terbaru dari World Population Review 2026 menunjukkan, rata-rata IQ Indonesia berada di angka 89,96. Dibawah angka normal 90. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat 131 dari 142 negara dalam daftar global.Karena itu tugas orang tua, guru, ulama, dan pemimpinadalah memastikan bahwa teknologi menjadi saranamemperkuat ilmu dan iman, bukan melemahkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Anak-anak yang hari ini bermain dengan gawai/gadget akan menjadi pemimpin Indonesia tahun 2045. Jika kita gagal mendidik mereka hari ini, maka bangsa ini akan memanen akibatnya di masa depan. Tetapi jika kita berhasil menanamkan iman, ilmu, disiplin, kerja keras, dan akhlak mulia, maka mereka akan menjadi generasi yang membawa Indonesia menjadi bangsa yang terhormat. Sebagaimana firman Allah:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadalah: 11).
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sejarah Islam membuktikan bahwa umat ini pernah memimpin dunia bukan karena jumlahnya semata, tetapi karena kecintaan mereka terhadap ilmu. Pada masa Al-Khwarizmi, Ibn Sina, Al-Biruni, dan Ibn al-Haytham, dan lainnya, umat Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Mereka tidak mempertentangkan agama dan sains. Mereka menjadikan sains sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah. Maka pada hari ini kita harus menanamkan kepada anak-anak kita bahwa: teknologi adalah alat, ilmu adalah jalan, akhlak adalah pondasi, dan takwa kepada Allah adalah tujuan utama kita sebagai hambanya.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Jalaluddin Rumi, dalam Matsnawi mengingatkan: "Kecerdasan membawamu hanya sampai ke pintu, tetapi cinta yang membawamu masuk." Hari ini manusia berhasil menciptakan kecerdasan buatan. Namun tidak ada mesin yang mampu merasakan kasih sayang seorang ibu. Tidak ada algoritma yang mampu menggantikan ketulusan guru. Tidak ada perangkat lunak yang mampu menggantikan keikhlasan seorang mukmin ketika beribadah kepada Allah. AI dapat menghitung. AI dapat memprediksi. Tetapi AI tidak dapat mencintai dan berempati. Karena itu pendidikan Islam harus melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga hidup hatinya. Bagus akhlaknya, tahu yang benar dan yang salah, yang baik dan buruk.
Sementara Ibn Khaldun (dalam Mukaddimah-nya) menjelaskan bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada ilmu pengetahuan. Beliau menunjukkan bahwa ketika masyarakat menghormati ilmu, maka peradaban maju. Sebaliknya ketika ilmu diabaikan, maka kemunduran yang datang dan kini terbukti. Negara-negara yang memimpin teknologi kecerdasan buatan adalah negara yang berinvestasi besar pada pendidikan. Karena itu investasi terbesar umat Islam hari ini bukanlah gedung yang megah. Tetapi anak-anak yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ABIM, 1978) menerangkan bahwa akar krisis modern sebenarnya bukan kekurangan informasi. Manusia modern justru dibanjiri informasi. Yang hilang adalah adab/moral. Yang hilang adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hari ini seseorang dapat mengakses jutaan informasi. Tetapi belum tentu ia mengetahui tujuan hidupnya. Manusia mengenal dunia. Tetapi tidak mengenal Tuhannya. Karena itu Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan pekerja yang terampil, tetapi manusia yang baik (the good man).orang-orang shaleh.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kecerdasan buatan berkembang sangat cepat. Namun sesungguhnya tantangan terbesar manusia bukanlah bagaimana menciptakan mesin yang lebih pintar. Melainkan bagaimana memastikan manusia tetap lebih bijaksana daripada mesin yang ia ciptakan. Imam Ghazali dalam Ihya'nyamenjelaskan: "Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan." (Ihya' Ulum al-Din, Beirut: Dar al-Ma'rifah, Juz I). Betapa relevannya peringatan ini pada zaman sekarang. Hari ini manusia mampu membuat AI yang dapat menulis ribuan halaman dalam hitungan detik. Tetapi apakah manusia juga semakin jujur? Semakin amanah? Semakin bertakwa? Belum tentu. Karena itu tujuan menuntut ilmu bukan sekadar mengetahui, tetapi mendekat kepada Allah. Taqarrub kepada Allah. Sayidina Ali berkata - من ازداد عِلمًا ولم يزدَدْ هدًىلم يزدَدْ من اللهِ إلَّا بُعدًا.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah Masa depan umat Islam tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata. Tetapi oleh kemampuan kita melahirkan generasi yang: kuat imannya, luas ilmunya, tinggi adab dan budi pekertinya, kritis pikirannya, dan bermanfaat bagi manusia. sesungguhnya mesin yang paling hebat tetaplah manusia. ciptaan Allah. Sedangkan manusia yang paling hebat adalah yang mengenal Tuhannya. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama/orang berilmu." (QS. Fathir: 28) dan firmannya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Muhammad Abduh bahkan menegaskan bahwa kemunduran umat bukan disebabkan oleh Islam, tetapi karena umat meninggalkan semangat ajaran Islam. Maka marilah kita mulai dari keluarga kita. Jadikan rumah sebagai tempat belajar. Jadikan masjid sebagai pusat pembinaan akhlak. Jadikan sekolah sebagai tempat melahirkan generasi ulul albab.Generasi yang kuat imannya. Luas ilmunya. Mulia akhlaknya. Dan mampu memimpin dunia dengan nilai-nilai rahmatan lil 'alamin.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ" (الأعراف: 96)
بارك الله في القرآن الكريم. ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم، وتقبل مني و منكم تلاوته. أقول قولي هذا وأستغفر الله ليولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
الحمد لله الذي نوَّر القلوبَ بأنوارِ التحقيقِ، وشرح الصدورَ بنفحاتِ التصديقِ، يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ بِالْقَبُولِ وَالتَّوْفِيقِ ، وَيَهْدِيمَن يَشَاءُ لِأَكْمَلِ شَرِيعَةٍ وَأَقْوَمِ طَرِيقٍ ، ، أَشْهَدُ أَن لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيكَ لَهُ،شهادةً نرجو بها النجاةَ يومَ الفزعِ والضيقِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، ذُو الْمَحْتَدِ الشَّرِيفِ وَالنَّسَبِ الْعَريقِ ، صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آِلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَوْلِي الْفَضْلِ وأهلِ الجهادِ والسبقِ والتوفيقِ، الذين نشروا نورَ الإسلامِ في كلِّ فجٍّ عميقٍ.وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلى يومِ الجمعِ والتفريقِ.
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ : أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَالإِخْلاَصِ لَهُ فِي الْقَوْلِ والْعَمَلِ، ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾ [ آل عمران : 102 ] وَسَلِّمُوا عَلَى نَبِيِّكُم كَمَا أَمَرَكُمْ بِذَلِكَ رَبُّكُمْ، فَقَالَ تعالى: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُواتَسْلِيمًا﴾ [ الأحزاب : 56 ] اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَامُحَمَّدٍ، وَأَهْلِ بَيْتِهِ الطَّاهِرِينَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنَّا مَعَهُمْ برحمتك يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اللهم اغفرللمؤمنين والمؤمنات والمسلين والمسلمات اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّينَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلادِ الْمُسْلِمِينَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَانْصُرْ جُنُودَنَا، وَأَيِّدْ بِالْحَقِّ إِمَامَنَا وَوَلِيَّ أَمْرِنَا، وَجَمِيعَ وُلاةِ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ يَا رَبَّ الْعِالَمِينَ. اللهم أرنا الأشياء كما هي. اللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارناالباطل باطلا وارزقنا اجتنابه. اللهم اجعل جمعنا هذا جمعا مرحوماوتفرقنا من بعده تفرقا معصوما. ولا تجعل فينا ولا معنا شقيا ولامطرودا ولا محروما. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنةوقنا عذاب النار. عباد الله. إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذيالقربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر اللهأكبر، والله يعلم ما تصنعون. أقم الصلاة.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
