Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin Eviyanti

Dari Ibadah Haji Menuju Persatuan Umat dan Kejayaan Islam

Politik | 2026-06-05 11:49:11

Oleh Zahra Wardati

Aktivis Muslimah

Dzulhijjah mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail a.s. yang membangun Ka'bah dengan penuh ketaatan. Kemudian, Ka'bah menjadi pusat ibadah haji bagi umat Islam di seluruh dunia. Haji wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu serta menjadi simbol ketaatan, pengorbanan, sekaligus persatuan umat Islam sedunia.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hajj [22]: 27 yang artinya:

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang kurus. Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh."

Simbol Ketaatan

Seluruh rangkaian ibadah haji menuntut ketundukan total kepada perintah Allah Swt., meskipun hikmahnya tidak selalu dapat dijangkau oleh logika manusia. Hal ini tercermin dalam kisah Nabi Ibrahim a.s. yang meninggalkan keluarganya dan bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail a.s., demi menjalankan perintah Allah.

Sebagaimana firman Allah Swt. yang artinya:

"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 196)

Simbol Pengorbanan

Muslim yang menunaikan ibadah haji harus mengorbankan harta, tenaga, waktu, dan kenyamanan. Pakaian ihram melambangkan kesetaraan sekaligus pelepasan status sosial duniawi. Haji yang dilaksanakan dengan ikhlas dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa sehingga seseorang kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.

Simbol Persatuan

Jutaan muslim dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit berkumpul dengan tujuan, kiblat, dan pakaian yang sama. Haji menjadi melting point (titik lebur) umat Islam dari berbagai penjuru dunia serta menegaskan bahwa Islam adalah agama persaudaraan.

Islam juga menjadi fondasi persatuan umat Islam yang melampaui batas etnis maupun nasionalisme sempit. Marshall Hodgson dalam bukunya The Venture of Islam menjelaskan bahwa salah satu kekuatan utama peradaban Islam klasik adalah kesadaran kolektif umat sebagai satu komunitas global (ummah) yang terhubung oleh akidah, hukum, dan budaya intelektual yang sama.

Spirit Haji dan Realitas Umat Hari Ini

Semangat persatuan yang tergambar dalam ibadah haji seharusnya melahirkan kesadaran kolektif di bidang sosial dan politik. Dahulu, Khilafah Islamiyah menjadi pemersatu peradaban Islam. Namun kini, umat terpecah oleh nasionalisme, sektarianisme, dan berbagai kepentingan geopolitik global.

Contoh nyata dapat dilihat pada krisis Gaza, Palestina. Ribuan warga sipil telah gugur sejak 7 Oktober 2023, infrastruktur hancur, dan blokade terus berlangsung. Selain itu, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat pada tahun 2026 juga menunjukkan bagaimana dinamika politik regional dan global memengaruhi kondisi dunia Islam. Negara-negara Arab pun memiliki sikap politik yang berbeda-beda karena faktor aliansi dan kepentingan nasional masing-masing.

Menuju Persatuan Umat Sedunia

Ibadah haji seharusnya menjadi momentum pembuktian ketaatan dan persatuan umat Islam sedunia. Berkumpulnya jutaan muslim di Masjidil Haram menunjukkan potensi besar persatuan global umat Islam. Dengan jumlah lebih dari satu miliar jiwa, umat Islam sesungguhnya memiliki kekuatan yang sangat besar. Jika potensi tersebut disatukan dalam satu kepemimpinan politik, umat Islam dapat menjadi kekuatan peradaban yang disegani dunia.

Sejarah menunjukkan bahwa Islam mencapai masa kejayaannya ketika umat bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyah. Karena pentingnya persatuan umat, kaum muslim di tanah air harus senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah meskipun berbeda pilihan politik, organisasi, maupun mazhab, agar tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan sempit.

Perjuangan memperbaiki kondisi negeri harus dilakukan dengan semangat persaudaraan, dakwah, pendidikan, dan kesadaran politik Islam.

Oleh karena itu, spirit haji harus menjadi energi untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah yang menerapkan syariah Islam secara kaffah, menyatukan umat, dan melindungi mereka dari berbagai bentuk kezaliman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image