Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Pendidikan Jangan Kehilangan Arah

Pendidikan dan Literasi | 2026-08-10 16:57:29

 

Mengapa kerusakan lingkungan terus terjadi di tengah masyarakat yang tingkat pendidikannya semakin tinggi? Mengapa tindakan perundungan, diskriminasi, dan berbagai bentuk pelanggaran terhadap sesama masih ditemukan di lingkungan sekolah, padahal pendidikan karakter telah lama menjadi bagian dari kebijakan pendidikan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak direnungkan karena menunjukkan bahwa bertambahnya pengetahuan ternyata belum selalu sejalan dengan bertumbuhnya kesadaran moral.

Ilustrasi

Belum lama ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bersama River Cleanup Indonesia dan River Cleanup Belgia memperkuat pendidikan lingkungan melalui program berkelanjutan di satuan pendidikan. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan bahwa pemahaman mengenai hak asasi manusia (HAM) perlu ditanamkan sejak dini agar peserta didik mampu menghargai hak setiap orang sekaligus mencegah lahirnya perundungan, diskriminasi, dan tindakan yang merugikan orang lain. Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya sekolah yang lebih peduli terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. (Jabarprov.go.id, 31 Juli 2026)

Inisiatif tersebut merupakan ikhtiar yang patut dihargai. Kesadaran menjaga lingkungan dan menghormati sesama memang perlu dipupuk sejak usia dini. Sekolah memiliki posisi strategis untuk membentuk kebiasaan baik karena peserta didik menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan pendidikan.

Namun, apabila dicermati lebih mendalam, persoalan lingkungan dan hubungan antarmanusia sesungguhnya bukan semata persoalan kurangnya pengetahuan. Banyak orang memahami bahwa membuang sampah sembarangan dapat mencemari sungai, mengetahui pentingnya menjaga ekosistem, bahkan memahami bahwa merendahkan orang lain merupakan tindakan yang tidak terpuji. Akan tetapi, pengetahuan itu tidak selalu bertransformasi menjadi perilaku.

Hal tersebut menunjukkan bahwa akar persoalan tidak berhenti pada aspek informasi. Ada dimensi yang lebih mendasar, yakni cara pandang yang membentuk bagaimana seseorang memaknai kehidupan, alam, dan hubungan dengan sesama manusia. Ketika pendidikan lebih banyak berorientasi pada penguasaan kompetensi, sementara pembentukan pandangan hidup hanya menjadi pelengkap, maka lahirlah generasi yang cerdas secara akademik, tetapi belum tentu memiliki kompas moral yang kuat.

Kondisi ini tampak dari kecenderungan setiap muncul persoalan baru selalu diikuti dengan lahirnya program baru. Saat kepedulian lingkungan dinilai rendah, dibuatlah gerakan peduli lingkungan. Ketika perundungan meningkat, disusunlah modul antiperundungan. Ketika sikap saling menghormati dianggap melemah, diperkuatlah pendidikan HAM. Berbagai langkah tersebut tentu memiliki nilai positif. Namun, apabila fondasi yang melandasi pembentukan karakter belum dibenahi, program-program tersebut berisiko hanya menjadi respons terhadap gejala, bukan penyelesaian terhadap sebab.

Di sisi lain, muncul kecenderungan bahwa keberhasilan pendidikan semakin bergantung pada banyaknya kolaborasi dengan berbagai pihak. Kemitraan memang dapat memperkaya inovasi. Akan tetapi, pendidikan pada hakikatnya merupakan amanah besar yang tidak boleh kehilangan penanggung jawab utamanya. Negara memiliki kewajiban menyediakan sistem pendidikan yang utuh, berkualitas, serta didukung pembiayaan, tenaga pendidik, dan sarana yang memadai sehingga tujuan pendidikan tidak bergantung pada proyek atau program yang bersifat sementara.

*Solusi Islam*

Islam menawarkan cara pandang yang berbeda dalam melihat pendidikan. Pendidikan diposisikan sebagai proses membentuk kepribadian manusia berdasarkan akidah Islam sehingga seluruh ilmu yang dipelajari selalu terhubung dengan kesadaran sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi. Dengan fondasi seperti ini, menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ketaatan kepada Allah Swt. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al-A'raf [7]: 56).

Ayat tersebut mengandung pesan bahwa manusia tidak diberi kebebasan tanpa batas dalam memperlakukan alam. Bumi merupakan amanah yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa tanggung jawab. Kesadaran seperti ini akan tumbuh apabila pendidikan tidak hanya mengajarkan apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa hal itu menjadi kewajiban di hadapan Allah.

Demikian pula dalam hubungan antarmanusia. Rasulullah saw. bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap hak orang lain lahir dari keimanan. Ketika iman menjadi fondasi perilaku, seseorang tidak akan menghindari perundungan hanya karena takut terhadap sanksi, tetapi karena meyakini bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sejarah peradaban Islam memperlihatkan bagaimana pendidikan mampu melahirkan keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah, negara menempatkan pendidikan sebagai kebutuhan mendasar masyarakat. Pembiayaan guru, perpustakaan, pusat penelitian, hingga berbagai sarana pendidikan ditanggung melalui Baitul Mal sehingga akses terhadap ilmu terbuka luas bagi rakyat.

Dari sistem itulah lahir ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Ibnu Al-Haitsam, dan Jabir bin Hayyan. Mereka dikenang bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena menjadikan ilmu sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia. Kemajuan sains dan teknologi berjalan beriringan dengan pembentukan akhlak dan tanggung jawab kepada Sang Pencipta.

Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk menafikan berbagai upaya yang sedang dilakukan dalam dunia pendidikan. Justru sebaliknya, ikhtiar membangun kepedulian terhadap lingkungan dan penghormatan terhadap sesama merupakan langkah yang penting. Namun, evaluasi terhadap arah pendidikan tetap perlu dilakukan agar solusi yang dihadirkan tidak berhenti pada penambahan program, melainkan menyentuh fondasi yang membentuk karakter manusia.

Pada akhirnya, lingkungan yang lestari tidak hanya lahir dari kampanye kebersihan. Penghormatan terhadap hak sebagai manusia juga tidak cukup dibangun melalui slogan dan sosialisasi. Keduanya memerlukan manusia yang memiliki orientasi hidup yang benar, hati yang terikat kepada nilai-nilai Ilahi, serta ilmu yang digunakan untuk menjaga amanah Allah di muka bumi. Dari fondasi inilah pendidikan akan benar-benar melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertakwa, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab terhadap alam maupun sesama manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image