Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Selli Marselia

Tahu Rokok Berbahaya, Mengapa Banyak Orang Tetap Merokok?

Gaya Hidup | 2026-06-06 23:38:46
Ilustrasi orang sedang merokok (Pixabay.com/cherylholt)

Merokok masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang sulit diatasi di Indonesia. Meskipun informasi mengenai bahaya rokok semakin mudah ditemukan, jumlah perokok di Indonesia masih tergolong tinggi. Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 menunjukkan bahwa sekitar 70,2 juta penduduk dewasa Indonesia menggunakan produk tembakau. Angka tersebut didominasi oleh laki-laki dengan prevalensi mencapai 65,5%, sedangkan pada perempuan hanya 3,3%. Selain itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa kelompok usia 15–19 tahun menjadi kelompok yang paling banyak mulai merokok. Kondisi ini menunjukkan bahwa perilaku merokok masih menjadi tantangan besar dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Tingginya angka perokok di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan faktor individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang mendukung perilaku merokok. Dalam kehidupan sehari-hari, rokok masih sering dijumpai dalam berbagai aktivitas sosial, mulai dari nongkrong bersama teman, berkumpul di warung kopi, hingga acara-acara tertentu. Tidak jarang, menawarkan rokok kepada teman dianggap sebagai bentuk keakraban atau cara membangun hubungan sosial. Akibatnya, merokok menjadi perilaku yang terlihat biasa dan mudah diterima oleh masyarakat.

Pengaruh lingkungan sosial tersebut juga terlihat pada kelompok remaja. Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap Identity vs. Role Confusion, yaitu masa ketika individu sedang mencari identitas dirinya. Pada fase ini, remaja cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sangat membutuhkan penerimaan dari lingkungan sosial. Keinginan untuk diterima dalam kelompok membuat remaja lebih mudah mengikuti perilaku teman sebaya, termasuk mencoba merokok.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa teman sebaya memiliki peran penting dalam munculnya perilaku merokok pada remaja. Tidak sedikit remaja mulai merokok karena ajakan teman, ingin dianggap lebih dewasa, atau ingin menyesuaikan diri dengan kelompok pergaulannya. Dalam kondisi tersebut, merokok bukan lagi sekadar perilaku kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari proses sosial untuk memperoleh penerimaan dari lingkungan.

Selain itu, tingginya jumlah perokok laki-laki di Indonesia juga berkaitan dengan pandangan sosial yang berkembang di masyarakat. Pada sebagian lingkungan, merokok pada laki-laki masih dianggap lebih wajar dibandingkan perempuan. Bahkan, rokok sering dikaitkan dengan citra maskulinitas, keberanian, dan kedewasaan. Sebaliknya, perempuan yang merokok masih cenderung mendapat stigma sosial yang lebih besar. Kondisi ini menyebabkan perilaku merokok lebih banyak ditemukan dan lebih mudah diterima pada laki-laki.

Menariknya, tingginya angka perokok tetap terjadi meskipun sebagian besar masyarakat sudah mengetahui bahaya rokok bagi kesehatan. Dalam psikologi kesehatan, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Health Belief Model (HBM), yaitu teori yang menjelaskan bahwa perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh cara individu memandang risiko, manfaat, dan hambatan dari suatu perilaku.

Salah satu alasan seseorang tetap merokok adalah karena merasa dirinya belum rentan terkena penyakit akibat rokok. Banyak perokok menganggap bahwa penyakit seperti kanker paru-paru atau penyakit jantung masih jauh dari kehidupannya, terutama ketika mereka masih merasa sehat dan belum mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Akibatnya, risiko penyakit akibat rokok sering kali dianggap sebagai ancaman yang belum perlu dikhawatirkan.

Selain itu, sebagian orang juga cenderung meremehkan dampak serius dari kebiasaan merokok karena efeknya tidak langsung dirasakan. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa mereka mengenal orang yang telah merokok selama bertahun-tahun tetapi tetap terlihat sehat. Cara pandang seperti ini membuat bahaya rokok dianggap tidak terlalu mendesak dibandingkan kenyamanan yang diperoleh saat merokok.

Di sisi lain, banyak perokok merasakan manfaat psikologis tertentu dari kebiasaan tersebut. Beberapa orang menganggap rokok dapat membantu mengurangi stres, memberikan rasa tenang, atau membuat mereka lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Setelah menjalani aktivitas yang melelahkan, merokok sering kali dipandang sebagai cara cepat untuk memperoleh rasa nyaman. Manfaat yang dirasakan secara langsung inilah yang sering kali lebih kuat dibandingkan kekhawatiran terhadap risiko kesehatan yang mungkin muncul di masa depan.

Faktor lain yang membuat seseorang tetap merokok adalah adanya hambatan untuk berhenti. Ketergantungan nikotin, lingkungan sosial yang mayoritas merokok, serta mudahnya akses terhadap rokok menjadi tantangan yang tidak mudah diatasi. Bahkan, rokok masih dapat dibeli secara eceran sehingga semakin mudah dijangkau oleh berbagai kelompok usia, termasuk remaja.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku merokok bukan hanya persoalan kurangnya pengetahuan tentang bahaya kesehatan. Faktor psikologis, lingkungan sosial, dan kebiasaan yang telah terbentuk sejak lama turut berperan dalam mempertahankan perilaku tersebut. Oleh karena itu, upaya mengurangi angka perokok tidak cukup hanya melalui penyampaian informasi mengenai bahaya rokok, tetapi juga perlu mempertimbangkan faktor sosial dan psikologis yang memengaruhi keputusan seseorang untuk merokok.

Pada akhirnya, tingginya angka perokok di Indonesia menunjukkan bahwa mengetahui suatu perilaku berbahaya tidak selalu membuat seseorang berhenti melakukannya. Perilaku kesehatan sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosial, persepsi terhadap risiko, serta kebiasaan yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, memahami faktor-faktor psikologis di balik perilaku merokok menjadi langkah penting dalam menciptakan upaya pencegahan yang lebih efektif.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image