Orientasi Hidup Seorang Mukmin: Analisis tentang Bashirah (Mata Hati)
Agama | 2026-08-14 06:08:08
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Salah satu persoalan mendasar dalam kehidupan manusia adalah ketidakseimbangan antara perhatian terhadap urusan dunia dan perhatian terhadap kewajiban kepada Allah Swt. Banyak manusia menghabiskan sebagian besar tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mengejar rezeki, jabatan, kekuasaan, dan berbagai urusan duniawi. Sebaliknya, mereka sering mengabaikan ibadah, akhlak, ilmu, dan tanggung jawab yang diperintahkan Allah.
Fenomena tersebut telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam salah satu hikmah Al-Hikam:
اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ،
Kesungguhanmu dalam mencari sesuatu yang telah dijamin untukmu, dan kelalaianmu terhadap sesuatu yang dituntut darimu, merupakan bukti padamnya bashirah dalam dirimu."(Ibn 'Aṭā'illāh, 2007, hlm. 18)
Hikmah ini berbicara tentang bashirah (mata hati), yaitu kemampuan ruhani untuk melihat hakikat kehidupan berdasarkan petunjuk Allah. Ketika bashirah tertutup, manusia menjadi sibuk mengejar apa yang sudah dijamin Allah dan melalaikan apa yang menjadi tujuan penciptaannya.
Konsep Bashirah dalam Al-Qur'an
Pengertian Bashirah
Secara bahasa, kata البصيرة berasal dari akar kata بصر yang berarti melihat.
Namun, bashirah berbeda dengan penglihatan fisik.
Penglihatan fisik melihat bentuk, warna, dan objek. Sebaliknya, bashirah melihat kebenaran, hikmah, tujuan, dan hakikat di balik segala sesuatu.
Allah Swt. berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
"Sesungguhnya yang buta bukanlah mata itu, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada."(QS. Al-Hajj [22]: 46)
Ayat ini menjelaskan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan mata, melainkan kebutaan hati.
Allah juga berfirman:
وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلًا
"Barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya."(QS. Al-Isra' [17]: 72)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kebutaan hati di dunia akan berakibat pada kesengsaraan di akhirat.
Bashirah Sebagai Kemampuan Melihat Al-Haqq
Al-Qur'an menjelaskan bahwa fungsi bashirah adalah mengenali Allah melalui tanda-tanda-Nya yang tersebar di alam semesta dan dalam diri manusia.
Allah berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Dia adalah Al-Haqq."(QS. Fussilat [41]: 53)
Menurut para ulama tasawuf, bashirah membuat seseorang mampu melihat kehadiran kekuasaan Allah dalam setiap peristiwa kehidupannya.
Imam Al-Qusyairi menjelaskan:
الْبَصِيرَةُ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، فَيُبْصِرُ بِهِ الْعَبْدُ حَقَائِقَ الْأَشْيَاءِ
"Bashirah adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati sehingga seorang hamba dapat melihat hakikat berbagai perkara."(Al-Qusyairi, Al-Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 169)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bashirah merupakan karunia Allah yang memungkinkan seseorang memahami makna kehidupan secara benar.
Kesalahan Prioritas sebagai Tanda Padamnya Bashirah
Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa salah satu tanda hilangnya bashirah adalah ketika seseorang bersungguh-sungguh mengejar sesuatu yang telah dijamin Allah, tetapi lalai terhadap sesuatu yang diwajibkan Allah.
Rezeki Sudah Dijamin Allah
Allah Swt. berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا ۖ اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ
"Betapa banyak makhluk yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri. Allah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepada kamu."(QS. Al-'Ankabut [29]: 60)
Allah juga berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
"Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya." (QS. Hud [11]: 6)
Ayat-ayat tersebut tidak menghapus kewajiban bekerja, tetapi menegaskan bahwa sumber rezeki yang sesungguhnya adalah Allah.
Kewajiban Hamba Adalah Beribadah
Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ
"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu; Kamilah yang memberi rezeki kepadamu."(QS. Taha [20]: 132)
Ayat ini menunjukkan bahwa prioritas utama manusia adalah melaksanakan perintah Allah, sedangkan urusan rezeki merupakan jaminan Allah.
Pandangan Ulama Akhlak tentang Bashirah
Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa hati memiliki kemampuan melihat yang lebih penting daripada mata fisik.
Beliau menulis:
الْقَلْبُ هُوَ الْعَالِمُ بِاللّٰهِ، وَهُوَ الْمُتَقَرِّبُ إِلَى اللّٰهِ، وَهُوَ الْمُكَاشَفُ لِمَا عِنْدَ اللّٰهِ
"Hati adalah alat untuk mengenal Allah, mendekat kepada Allah, dan menyingkap berbagai hakikat yang berasal dari Allah."(Al-Ghazali, 2005, Juz III, hlm. 5)
Menurut Al-Ghazali, hati yang sehat akan mampu membedakan antara tujuan dan sarana. Rezeki hanyalah sarana, sedangkan keridaan Allah adalah tujuan.
Pandangan Ulama Tasawuf tentang Kebutaan Hati
Imam Ibrahim al-Khawwas memberikan nasihat yang sangat relevan dengan hikmah ini:
لَا تَتْعَبْ نَفْسَكَ فِي طَلَبِ مَا ضُمِنَ لَكَ، وَلَا تُضَيِّعْ مَا اسْتُحْفِظْتَ عَلَيْهِ
"Jangan engkau melelahkan dirimu untuk mencari sesuatu yang telah dijamin bagimu, dan jangan engkau menyia-nyiakan sesuatu yang telah diamanahkan kepadamu."(dikutip dalam syarah Al-Hikam)
Nasihat ini menegaskan bahwa kebijaksanaan hidup terletak pada kemampuan menempatkan prioritas secara benar.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah juga menjelaskan:
إِذَا امْتَلَأَ الْقَلْبُ مِنَ الدُّنْيَا انْصَرَفَ عَنْ مَعْرِفَةِ اللّٰهِ وَمَحَبَّتِهِ
"Apabila hati dipenuhi urusan dunia, maka hati akan berpaling dari mengenal dan mencintai Allah."(Ibn al-Qayyim, 1996, Juz I, hlm. 453)
Hadis tentang Fokus pada Kewajiban kepada Allah
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ
"Wahai anak Adam, luangkan dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kecukupan dan Aku tutupi kefakiranmu."(HR. At-Tirmidzi No. 2466)
Hadis ini memperlihatkan hubungan langsung antara penghambaan kepada Allah dan jaminan kecukupan hidup.
Relevansi dalam Kehidupan Modern
Masyarakat modern sering mengukur keberhasilan melalui kekayaan, jabatan, dan popularitas. Akibatnya, banyak orang bekerja tanpa batas waktu, tetapi mengurangi waktu salat, mengabaikan keluarga, melupakan ilmu agama, dan kehilangan ketenangan hidup.
Fenomena tersebut merupakan bentuk krisis bashirah. Mata fisik mampu melihat peluang ekonomi dan perkembangan teknologi, tetapi mata hati gagal melihat tujuan penciptaan manusia.
Hikmah Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa kesuksesan sejati bukanlah ketika seseorang memperoleh seluruh yang diinginkannya, melainkan ketika ia mampu menunaikan seluruh kewajibannya kepada Allah.
Kesimpulan
Hikmah
اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ
Mengajarkan bahwa kebutaan hati tampak ketika manusia lebih sibuk mengejar sesuatu yang telah dijamin Allah daripada melaksanakan kewajiban yang diperintahkan-Nya.
Bashirah merupakan cahaya ilahi yang membuat seseorang mampu melihat hakikat kehidupan secara benar. Dengan bashirah, seorang mukmin memahami bahwa rezeki berada dalam jaminan Allah, sedangkan ibadah, ketaatan, dan pengabdian merupakan tanggung jawab yang harus dipenuhi.
Karena itu, seorang mukmin harus bekerja dan berusaha secara profesional, tetapi ia tidak boleh menjadikan pencarian dunia sebagai tujuan hidup. Ia harus menjadikan keridaan Allah sebagai orientasi utama, karena itulah tanda hidupnya bashirah dan sehatnya hati.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
