Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Admin

Permohonan Manusia dan Ijabah Allah

Agama | 2026-08-28 08:21:21

 

Koderi, Guru Besar UIN Raden Intan Lampung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -Permohonan manusia atau doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling agung dalam Islam. Melalui doa, seorang hamba mengakui kelemahan dirinya sekaligus mengakui kemahakuasaan Allah Swt. Doa bukan sekadar permohonan, melainkan manifestasi penghambaan ('ubūdiyyah), ketergantungan (iftiqār), dan pengakuan bahwa segala urusan berada dalam kekuasaan Allah.

Seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang mengalami kegelisahan ketika doa yang dipanjatkannya belum terwujud sesuai harapan. Sebagian bahkan mulai mempertanyakan manfaat doa dan mengalami penurunan keyakinan terhadap rahmat Allah. Persoalan ini dijelaskan secara mendalam oleh Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ؛ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ

"Janganlah keterlambatan datangnya pemberian Allah kepadamu ketika engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan engkau berputus asa. Allah telah menjamin bagimu pengabulan doa dalam apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan dalam apa yang engkau pilih untuk dirimu sendiri, dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki." (Ibn 'Aṭā'illāh, 2007, hlm. 27).

Hikmah ini mengajarkan bahwa inti doa bukanlah memaksa Allah mengikuti keinginan manusia, melainkan mendidik manusia agar ridha terhadap pilihan Allah.

Hakikat Doa dalam Islam

Islam menempatkan doa sebagai inti ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

"Doa adalah ibadah. (HR. Abu Dawud No. 1479; HR. At-Tirmidzi No. 2969)

Hadis ini menunjukkan bahwa nilai utama doa bukan hanya terletak pada terpenuhinya permintaan, tetapi pada penghambaan yang terkandung di dalamnya.

Allah Swt. berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu." (QS. Ghafir [40]: 60)

Ayat ini mengandung janji Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Akan tetapi, pengabulan tersebut harus dipahami sesuai dengan hikmah dan ilmu Allah yang sempurna.

Makna Ijabah Menurut Al-Qur'an dan Hadis

Banyak orang memahami ijabah hanya sebagai terwujudnya permintaan sesuai keinginan. Padahal para ulama menjelaskan bahwa ijabah memiliki makna yang lebih luas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللّٰهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللّٰهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

"Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal: Allah segera mengabulkannya, atau Allah menyimpannya untuk akhirat, atau Allah menghindarkan darinya keburukan yang sepadan dengan doanya."(HR. Ahmad No. 11133)

Hadis ini menunjukkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia. Yang berbeda hanyalah bentuk pengabulannya.

Allah Lebih Mengetahui Kebutuhan Hamba-Nya

Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap dirinya mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ**

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam memahami hikmah doa. Seorang hamba sering meminta sesuatu berdasarkan keterbatasan pengetahuannya. Sebaliknya, Allah menentukan berdasarkan ilmu-Nya yang meliputi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ridha terhadap Pilihan Allah

Maqam ridha merupakan salah satu tingkatan spiritual yang tinggi. Ridha berarti menerima keputusan Allah dengan hati yang lapang setelah melakukan usaha dan doa secara maksimal.

Imam Al-Ghazali menjelaskan:

الرِّضَا بَابُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ وَجَنَّةُ الدُّنْيَا وَمُسْتَرَاحُ الْعَابِدِينَ

"Ridha merupakan pintu Allah yang paling agung, surga di dunia, dan tempat istirahat para ahli ibadah." (Al-Ghazali, 2005, Juz IV, hlm. 352)

Menurut Al-Ghazali, orang yang ridha tidak kehilangan semangat berdoa. Ia tetap berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Perspektif Ulama Ahli Hikmah tentang Doa dan Kehendak Allah

Imam Abu al-Qasim Al-Qusyairi menjelaskan:

الدُّعَاءُ إِظْهَارُ الِافْتِقَارِ إِلَى اللّٰهِ تَعَالَى

"Doa adalah menampakkan kebutuhan dan kefakiran diri kepada Allah Ta'ala." (Al-Qusyairi, 2002, hlm. 282)

Doa bukanlah sarana untuk memaksa Allah mengubah ketetapan-Nya. Doa merupakan pengakuan bahwa manusia tidak memiliki daya dan kekuatan tanpa pertolongan Allah.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan:

إِذَا سَأَلْتَ اللّٰهَ شَيْئًا فَلَا تُعَيِّنْ، وَدَعِ الِاخْتِيَارَ لَهُ، فَإِنَّهُ أَعْلَمُ بِمَصْلَحَتِكَ مِنْكَ

"Apabila engkau meminta sesuatu kepada Allah, janganlah engkau memaksakan pilihanmu. Serahkan pilihan kepada-Nya, karena Dia lebih mengetahui kemaslahatanmu daripada dirimu sendiri." (Al-Jailani, 1994, hlm. 94)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa doa yang sempurna selalu disertai tafwidh (penyerahan urusan) kepada Allah.

Bahaya Putus Asa dalam Berdoa

Salah satu penyakit spiritual yang sering muncul adalah putus asa ketika doa belum terwujud.

Allah melarang sikap tersebut:

إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللّٰهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

"Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir." (QS. Yusuf [12]: 87)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

"Doa seseorang akan terus dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: Aku telah berdoa tetapi belum juga dikabulkan." (HR. Al-Bukhari No. 6340; Muslim No. 2735)

Hadis ini menunjukkan bahwa ketidaksabaran sering menjadi penghalang keberkahan doa.

Doa, Sebagai Pengakuan atas Keterbatasan Diri

Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa doa yang benar harus dilandasi ma'rifah, yaitu pengenalan terhadap Allah dan pengenalan terhadap keterbatasan diri sendiri.

Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menulis:

وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ عَلِمَ أَنَّ اخْتِيَارَ اللّٰهِ لَهُ خَيْرٌ مِنِ اخْتِيَارِهِ لِنَفْسِهِ

"Barang siapa mengenal Tuhannya, maka ia akan mengetahui bahwa pilihan Allah baginya lebih baik daripada pilihannya sendiri." (Ibn al-Qayyim, 1996, Juz II, hlm. 189)

Pernyataan ini menjadi inti dari hikmah Ibnu Athaillah. Semakin dalam ma'rifah seseorang kepada Allah, semakin besar kepercayaannya terhadap keputusan Allah.

Relevansi dalam Kehidupan Modern

Masyarakat modern terbiasa dengan budaya instan. Teknologi membuat manusia ingin memperoleh hasil secara cepat. Akibatnya, sebagian orang membawa pola pikir tersebut ke dalam kehidupan spiritualnya.

Mereka menganggap bahwa doa harus segera menghasilkan perubahan sesuai harapan. Ketika hal itu tidak terjadi, mereka mengalami kekecewaan dan krisis keimanan.

Hikmah Ibnu Athaillah mengajarkan paradigma yang berbeda. Doa bukan sarana untuk mengendalikan Allah, melainkan sarana untuk mendekat kepada Allah. Keberhasilan doa tidak diukur dari kesesuaian hasil dengan keinginan manusia, tetapi dari semakin dekatnya hati kepada Allah dan semakin kuatnya keyakinan terhadap hikmah-Nya.

Doa merupakan ibadah yang menghubungkan seorang hamba dengan Tuhannya. Allah telah menjanjikan ijabah kepada setiap hamba yang berdoa. Namun, pengabulan doa tidak selalu berbentuk terwujudnya permintaan sesuai keinginan manusia.

Imam Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh berputus asa ketika doa belum terwujud. Allah mengabulkan doa sesuai dengan pilihan-Nya, bukan semata-mata sesuai dengan pilihan manusia. Allah juga mengabulkan doa pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang dikehendaki manusia.

Karena itu, seorang mukmin harus memadukan doa, kesabaran, tawakal, dan ridha. Ia terus memohon kepada Allah dengan penuh keyakinan, sekaligus menerima dengan lapang dada apa pun yang dipilihkan Allah untuk dirinya. Pada titik inilah doa menjadi sarana penyempurnaan tauhid, bukan sekadar sarana pemenuhan keinginan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image